Minggu, 23 Agustus 2020

Pendakian Gunung Cikuray: Tektok via Pemancar

tektok gunung cikuray

Setelah sekian lama menghilang dari peredaran dan kehilangan hasrat untuk menulis, pada akhirnya rindu juga untuk menuliskan cerita dari perjalanan yang saya lakukan. Untuk itulah saya kembali ke blog yang sudah terbengkalai ini. Semoga masih ada yang baca.

* * *

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pendakian ‘tektok’ ke Gunung Cikuray. Pendakian ini saya lakukan bersama tiga orang kawan. Yang pertama adalah Samid, kemudian ada Halla dan terakhir yaitu Indah. Ini merupakan pendakian pertama saya dengan Samid dan Indah. Sedangkan dengan Halla pernah mendaki ke Gunung Salak 6 Mossa pada sebuah open trip.

Pendakian ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, supaya kami bisa mempersiapkan fisik terlebih dulu. Maklum, sejak dilanda pandemi, saya jarang sekali berolahraga, aktivitas pun sangat monoton. Kalau di jawa istilahnya, "mangan turu ngising, mangan turu ngising", repeat.

Singkat cerita, pada Jum’at malam kami telah berkumpul di Basecamp Bawah Cikuray via Pemancar, lebih tepatnya di rumah Kang Bebe. Kami menginap semalam di sana, berbagi ruang bersama rombongan pendaki lainnya. Di rumah Kang Bebe juga kami mengurus tiket masuk kawasan dan angkutan ke Basecamp Atas. Setelah semuanya beres, kami pergi tidur.

tektok gunung cikuray

Esoknya pagi sekali, bahkan sebelum subuh, kami berangkat menuju Basecamp Atas bersama satu rombongan pendaki lain dengan menaiki mobil losbak. Mobil melaju perlahan di jalan makadam. Jalanan berbatu ini membuat kami harus tetap fokus agar tidak terbanting ke kanan ke kiri maupun ke depan atau ke belakang. Guncangannya dapat membuat kami terpental dari posisi duduk dan bikin pantat sakit ketika kembali mendarat di bodi mobil.

Tepat saat adzan subuh berkumandang, kami tiba di Basecamp Atas, letak berdirinya pemancar stasiun televisi berada. Itulah alasan kenapa jalur ini disebut sebagai Jalur Pemancar. Sebelum mulai mendaki, kami sempatkan untuk solat, buang air dan mengepak kembali barang bawaan.

Diawali dengan do'a, pukul 5.30 perjalanan kami dimulai. Tanpa basa-basi, kami langsung dihajar oleh tanjakan yang cukup terjal. Sungguh permulaan yang sangat menantang. Disekeliling kami terhampar perkebunan teh sejauh mata memandang. Namun karena matahari belum muncul, saya tidak bisa mengabadikannya pagi itu.

tektok gunung cikuray
cahaya rembulan

Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami tiba di Pos 1, Pos Pendataan. Di sini adalah tempat pendaki mengurus perizinan. Tetapi karena kami sudah mengurusnya di rumah Kang Bebe, sehingga kami cukup memberi tahu petugas yang berjaga di pos tersebut. Selain itu, kami juga harus mengisi data anggota pendakian seperti nama, alamat serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Tak sampai 5 menit, kami kembali melanjutkan pendakian. Pos 1 adalah batas vegetasi antara hutan dan perkebunan teh. Kami mulai memasuki hutan, meski vegetasinya memang belum begitu rapat. Dan seperti sebelumnya, kami masih dihajar oleh tanjakan yang terjal. Kali ini tanjakannya punya nama, Tanjakan Baeud, berbentuk menyerupai anak tangga yang tersusun rapi. Butuh kesabaran ekstra melewatinya karena tanjakan ini cukup panjang dan sangat menguras tenaga. Bikin engap.

tektok gunung cikuray
pos 1 pemancar

tektok gunung cikuray
terbit mentari

Langit yang semula gelap dan hanya disinari oleh cahaya rembulan dan cahaya sahabat (headlamp kawan-kawan), kini sudah terang karena matahari sudah terbit. Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 lumayan panjang. Jaraknya paling jauh di antara pos-pos lainnya.  Hampir 1 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Pos 2. Di sini kami berhenti cukup lama. Berhubung perut belum diisi sejak awal keberangkatan, kami putuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Karena tektok dan tidak membawa peralatan masak, hanya makanan ringan yang kami bawa. Seperti roti, biskuit, snicker dan tidak lupa dengan asupan wajib, micin!

Selepas Pos 2 vegetasi hutan mulai rapat. Pohon-pohon tinggi dan besar menutupi teriknya sinar matahari. Track yang dilalui terus menanjak, tidak ada bonus sama sekali. Sesekali kami harus memanjat dengan bantuan tangan untuk melewati sebuah tanjakan yang tinggi. Berita baiknya, jarak antar pos tidak terlalu panjang. Tidak sejauh jarak dari Pos 1 ke Pos 2. Bahkan ada yang hanya berjarak 10 menit saja.

tektok gunung cikuray
tak ada ampun

tektok gunung cikuray
take a break tiap pos

Tidak banyak pendaki yang kami temui di sepanjang track. Baru ketika tiba di Pos 6 / Puncak Bayangan, kami bertemu sejumlah pendaki yang berkemah. Tidak hanya pengunjung, ada juga warga lokal yang berjualan makanan dan beberapa ranger yang berjaga. Pos 6 ini memang lumayan luas, sepertinya bisa untuk mendirikan 10 tenda atau lebih. Di sini juga ada sebuah shelter yang dapat digunakan pendaki untuk istirahat dan berteduh sejenak dari matahari yang semakin siang terasa semakin membakar.

Untuk menuju puncak, masih ada 1 pos lagi yang harus dilewati. Jika ditotal, butuh sekitar 1 jam perjalanan dari Pos 6 ke Puncak. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 10.20, saat itulah kami tiba di Puncak Cikuray! Alhamdulillah! Panas memang, karena di puncak tidak ada pepohonan tinggi yang dapat meneduhi. Tapi setidaknya kami sampai sebelum tengah hari, karena akan sangat panas jika sampai puncak ketika waktu dzuhur.

Apa yang kami saksikan di puncak adalah ekspektasi kami terhadap Puncak Cikuray itu sendiri. Samudra awan! Iya, Puncak Cikuray memang terkenal dengan panorama lautan awannya yang indah. Hal ini karena puncaknya yang berbentuk kerucut dan datarannya yang tidak begitu luas membuat 360 derajat di sekitar puncak dipenuhi oleh awan. Tapi itu jika cuaca sedang cerah dan berawan. Akan lain ceritanya jika sedang hujan. Beruntungnya kami mendapatkan cuaca yang bagus.

tektok gunung cikuray
samudra megaaaaa

tektok gunung cikuray
terdapat sebuah bangunan di puncak

tektok gunung cikuray
we did it!

Cukup lama kami di puncak. Melakukan segala ritual yang biasa dilakukan kebanyakan pendaki saat berada di puncak. You know lah. Yang menarik, di Puncak Cikuray ada warga lokal yang berjualan bakso, cuanki, siomay dan lain sebagainya. Karena perut sudah bosan dengan roti dan makanan instan lainnya, kami memesan cuanki (cari uang jalan kaki) yang menggoda kami sedari tadi. Hitung-hitung sekalian membantu perekonomian warga lokal juga lah ya, hehe.

tektok gunung cikuray
jajan cuanki dulu

Seberes makan cuanki kami sempat ketiduran beberapa saat karena perut yang kenyang. Pukul 13.20 kami mulai bergerak lagi untuk pulang. Jika berangkat kami membutuhkan waktu tempuh 4 jam 50 menit (termasuk istirahat), ketika turun kami memangkas hampir separuhnya, yaitu 2 jam 32 menit. Dan tiba kembali di Basecamp Atas sebelum gelap. Indomie kuah dan teh manis hangat menjadi menu penutup wajib setelah seharian mendaki. Ah, mantab!


Berikut rincian waktu tempuh perjalanan di tiap posnya:

Naik

5.30 - 5.45    : basecamp pemancar - pos 1

5.50 - 6.45    : pos 1 - pos 2

7.00 -  7.45   : pos 2 - pos 3

7.50 - 8.15    : pos 3 - pos 4

8.20 -  8.30   :  pos 4 - pos 5

8.30 -  8.48   : pos 5 - pos 6

9.15 - 10.04  : pos 6 - pos 7

10.10 - 10.20: pos 7 - puncak

Turun

13.20 - 15.52 puncak - basecamp pemancar


Perlu diingat, ini pendakian tektok. Beban yang kami bawa tidak banyak. Hanya membawa daypack tiap orangnya. Jadi waktu tempuh tersebut tidak bisa menjadi acuan bagi yang mendaki dengan bawaan berat dan harus berkemah. Sekian cerita perjalanan 'tektok' Gunung Cikuray via Pemancar. Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya. Hatur Nuhun!

tektok gunung cikuray
bonus, ketemu bung fiersa.........

*) dokumentasi pribadi & team

Kamis, 25 Januari 2018

Bendungan Itu Bernama Yunani

bendungan kawah ijen

“Yaudah, kalau gitu kita ke Yunani aja. Gimana?” ujar Bang Gethuk.
Saya, Santi dan Mbak Rara yang sebelumnya sudah diceritakan dan ditunjukkan dari foto, mengangguk setuju.
“Jalannya nggak begitu terjal, tapi harus nunggu terang dulu baru berangkat.” Tambah Bang Gethuk.

* * *

Bagi kebanyakan orang, traveling ke Kawah Ijen berarti menyaksikan blue fire. Begitu pun dengan saya. Begitu bruntungnya negara kita memiliki salah satu dari 2 blue fire yang ada di dunia. Namun 2 kali saya ke Kawah Ijen, 2 kali juga saya gagal ke puncak dan melihat blue fire. Tak apa, karena Kawah Ijen nggak melulu soal blue fire. Pada kesempatan kedua saya ke sana, saya mengunjungi satu Spot yang luar biasa amazing! Yunani namanya.

Sehabis makan malam dengan sego tempong di Kota Banyuwangi, saya bersama Santi, Faruk, mbak Rara dan Bang Gethuk menggeber motor menuju Paltuding. Kami menghangatkan diri dengan menyeruput secangkir kopi di salah satu warung. Suhu di Paltuding cukup dingin hingga membuat napas mengeluarkan kepulan asap seperti orang yang sedang merokok.

bendungan kawah ijen
Tanggal dibangunnya bendungan

Kami memutuskan untuk istirahat dulu sebelum mendaki Kawah Ijen. Pukul 9 malam masih terlalu sore untuk mendaki. Loket penjulan tiket pun baru buka pukul 1 dini hari. Kami tidur di sebuah shelter (seperti shelter di pos pendakian gunung) yang cukup besar. Bukan hanya kami yang beristirahat di situ, beberapa orang sudah berada di alam mimpi saat kami datang. Sementara Santi dan Mbak Rara menggelar matras untuk tidur, saya dan Faruk bergelantungan di hammock.

Langit cerah tanpa awan malam itu. Cahaya bulan cukup terang untuk menerangi jalan. Kami mendaki bersama puluhan wisatawan lain. Diantara banyaknya wisatawan, ada para penambang belerang. Mereka mendaki dengan mendorong gotrok yang biasa digunakan untuk membawa turun belerang. Ternyata bagi mereka fungsi gotrok bukan sekedar mengangkut belerang, melainkan bisa dijadikan jasa ojek. Bagi yang lelah atau malas mendaki, dapat menggunakan jasa Go-Trok ini untuk naik maupun turun.

Di tengah perjalanan, musibah menimpa Santi. Ketika mendaki, kakinya terperosok ke jalan yang berlubang hingga membuat kakinya terkilir. Akibat hal tersebut kami menghentikan perjalanan dan memutuskan untuk berhenti di Pos Bunder.

bendungan kawah ijen
Pos Bunder

Setelah istirahat beberapa saat, Santi merasa kakinya baikan. Ia mengajak untuk lanjut mendaki ke puncak. Kami membujuknya untuk turun saja, karena khawatir kakinya sakit lagi dan menjadi tambah parah. Namun ia tetap pada pendiriannya. Ia merasa sanggup dan ingin tetap lanjut. Karena keinginannya yang besar, Bang Gethuk lalu memberi alternatif lain.

“Yaudah, kalau gitu kita ke Yunani aja. Gimana?” ujar Bang Gethuk.
Saya, Santi dan Mbak Rara yang sebelumnya sudah diceritakan dan ditunjukkan dari foto, mengangguk setuju.
“Jalannya nggak begitu terjal, tapi harus nunggu terang dulu baru berangkat.” Tambah Bang Gethuk.
“Oke siap, Bang!” timpal saya.

Kami kembali mendaki setelah matahari terbit, kali ini tujuannya adalah Yunani. Tidak jauh dari Pos Bunder, Faruk yang berjalan paling depan keluar dari jalur utama (jalur ke puncak) dan masuk ke ‘gerbang’ menuju Yunani. Jalurnya sempit, hanya jalan setapak yang muat dilewati satu orang. Semak belukar tumbuh rimbun di sisi kanan dan kiri jalan, menandakan bahwa tidak banyak orang yang lewat.

bendungan kawah ijen
'Gerbang' ke Yunani

bendungan kawah ijen
Rimbun!

bendungan kawah ijen
Gunung Raung

Meski cukup jauh, tapi jalannya tidak begitu menanjak. Pemandangannya pun ciamik. Kami disuguhi panorama Gunung Raung di kejauhan. Setelah 1 jam berjalan, trek berganti menjadi pasir berbatu. Medan yang sebelumnya ditumbuhi pohon dan semak yang lebat, setelah melewati batas vegetasi berubah menjadi gersang. Dari situ pula kami dapat melihat kawah. Yap, ‘kawah’-nya Kawah Ijen!

bendungan kawah ijen
Perlu berhati-hati

bendungan kawah ijen
Kawahnya sudah terlihat

Dan inilah Yunani. Sebutan untuk bendungan Kawah Ijen. Spot yang jarang diketahui oleh wisatawan. Kalau bukan karena Faruk dan Bang Gethuk yang asli Banyuwangi, saya pun tidak akan mengetahuinya. Pemandangannya sangat memukau, luar biasa amazing pokoknya mah! Air kawah yang berwarna hijau tosca terlihat begitu kontras dengan dinding kawah yang mengelilinginya.

Pada akhirnya, puncak memang hanyalah bonus. Begitu juga dengan blue fire. Namun saya tidak kecewa, karena keindahan Yunani pun tak ada duanya. Mungkin pada kesempatan berikutnya saya baru diizinkan untuk dapat menyaksikan kobaran blue fire yang tersohor itu. No blue fire? no problem!

bendungan kawah ijen
Joss

bendungan kawah ijen
Indonesia!

bendungan kawah ijen
Luar biasyak!

Senin, 20 November 2017

Backpacking Kuala Lumpur & Singapura #2: Ketemu si Jahid!

kuala lumpur

Pada tulisan sebelumnya saya udah cerita saat keberangkatan dari Surabaya hingga main ke Batu Caves meski harus nyasar dulu. Nah kali ini saya akan melanjutkan kisah backpacking alias ngegembel di negeri orang…

Senin, 6 Maret 2017
Setelah udar-ider di Batu Caves, kami melanjutkan perjalanan dari stasiun Batu Caves naik KTM dengan tujuan Masjid Jamek. Kali ini nggak pakai nyasar. Kami sudah mempelajari rute dan sistem LRTnya dengan baik. Nggak mau kami jatuh dilubang yang sama. Hahaha!

Di Masjid Jamek kami menunaikan ibadah shalat dzuhur + ashar dan sekalian istirahat, meluruskan kaki sejenak. Saat itu Masjid Jamek cukup ramai, baik yang sedang menunaikan ibadah shalat maupun sekedar istirahat di teras. Turis dan warlok berbaur menjadi satu. Leyeh-leyeh di teras Masjid Jamek bener-bener nyaman. Mungkin akibat kaki pegal dan cuaca yang panas, sehingga begitu nemu tempat adem kami langsung betah. Yogi malah ingin berlama-lama. Tapi sayang udah jauh-jauh ke Malaysia kalau cuma leyeh-leyeh kaaan??

kuala lumpur
Masjid Jamek

Kemudian kami lanjut ke Kuala Lumpur City Gallery (KLCG). Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit kami udah sampai. Letak KLCG ini berada disebelah Merdeka Square, sehingga cukup mudah untuk mencarinya, meski kami juga perlu baca peta berulang-ulang dan tanya sana-sini. Hehehe.

Jadi KLCG adalah museum tentang seluk-beluk sejarah Kota Kuala Lumpur. Dengan harga tiket 5 ringgit, kami dapat berkeliling museum ini. 5 ringgit itu pun nantinya dapat ditukar dengan souvenir atau makanan/minuman dengan harga setimpal. Cukup menarik. Di lobby terdapat banyak brosur mengenai informasi KL. Seperti destinasi wisata, rute LRT, rute GoKL, dll. Ini sangat membantu bagi kami untuk meminimalisir kejadian yang tak terduga. Maka dari itu beberapa brosur langsung kami sikat. Hehehe!

Pada bagian awal museum akan disuguhkan sejarah Malaysia. Di sisi kanan adalah National Heritage Malaysia, seperti Old Market Square, KL City Library, Victorian Fountain, dll. Sementara di sisi kiri merupakan tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah Malaysia hingga keadaan KL di masa lampau.

kuala lumpur
Daftar National Heritage Malaysia

Selanjutnya kami masuk ke zona Discover City KL. Pada sebuah ruangan yang gelap akan diperlihatkan sebuah video mengenai serba-serbi Kuala Lumpur. Seperti museum-museum, heritage sites, ekonomi, transportasi publik, dsb. Tepat di depan kami berdiri, terdapat miniatur kota Kuala Lumpur. Ketika video akan berakhir, tiba-tiba saja miniatur KL tersebut menyala kerlap-kerlip! Pada video yang diproyeksikan itu juga muncul efek lampu sorot dan kembang api. Keren lah pokoknya!

kuala lumpur
Miniatur kota KL

Kemudian kami menuju ruangan tempat pembuatan souvenir, berupa miniatur bangunan-bangunan ikonik di kuala lumpur. Kami menyaksikan proses para pekerja yang sedang membuat miniatur. Yang terakhir adalah ruangan souvenir dan kantin. Tiket masuk seharga 5 ringgit saat pertama masuk dapat ditukar dengan souvenir maupun minuman/makanan dengan harga serupa. Kalau nggak cukup, tinggal nambah aja!

Puas berkeliling, kami masih nongki disekitar KLGC. Kenapa? Karena ada WiFI gratis! Wkwkwk. Ini sebenarnya tujuan utama kami pergi kesana. Update sosmed biar kayak kids zaman now. Hahaha. Nggak deng, tentu untuk berkabar ke keluarga. Itu yang selalu kami lakukan setiap kali nemu WiFi. Namun baru saja beberapa menit WiFian, tiba-tiba tetesan air turun dari langit. Gerimis. Mau nggak mau kami pun dengan berat hati harus meninggalkan WiFi di KLGC. Bye wifi gratisan, sampai jumpa di lain tempat. Heuheu.

kuala lumpur
KLGC

Dari stasiun Masjid Jamek kami lanjut ke Kuala Lumpur City Centre (KLCC). Tempat dimana Menara Petronas Twin Tower berada. Stasiun LRT di KL ini terkadang langsung terhubung di titik keramaian seperti destinasi wisata, masjid, pusat perbelanjaan, dsj. Nah stasiun KLCC yang menjadi pemberhentian kami pun terhubung dengan mall. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung aja gitu ada di dalam mall.

Akibat kelaparan (baru makan bekal roti semenjak sampai di KL) dan bingung cari makan dimana, kami dengan terpaksa dan berat hati makan di mall. Apalagi kalau bukan soal budget. Makan nasi lemak + minum teh habis 7.64 ringgit. Kalau di konversi ke rupiah itu 22 rebu, kalau makan di warung biasa mah bisa 5 ringgit doang padahal. Sebenarnya beda dikit sih, tapi kalau lagi backpacking mah kalau ada yang murmer, kenapa harus cari yang lebih mahal. Tapi gapapa lah dari pada tiba-tiba mati kelaparan. Heuheu.

Selepas ngisi perut kami berjalan sebentar keluar dari mall dan… Petronas Twin Tower berdiri menjulang tinggi dihadapan kami. Hhm, jadi ini menara kembar kebanggaan negeri jiran. Landmarknya kota Kuala Lumpur. Dan tepat di sebrangnya adalah KLCC Park. Spot terbaik untuk turis maupun warlok dapat mengabadikan diri dengan latar belakang si kembar. Bukan si kembar upin ipin yah.

kuala lumpur
Nih sore hari pas langit masih terang

“Kalau ke Petronas mending malem aja, bang. Kalau siang nggak begitu bagus buat foto-foto”, ujar Jahid (nama samaran), orang Indonesia yang kami temui saat di Batu Caves. Tepatnya saat dia minta fotoin dirinya ke saya. Resiko traveling sendirian, kalau mau foto harus minta tolong ke orang. Sempet bareng naik LRT sepulang dari Batu Caves tapi beda tujuan stasiunnya. Di LRT kami saling bertukar informasi yang kami tahu. Termasuk soal foto-foto di Petronas Twin Tower. Hehehe.

Kami tiba di KLCC park sore hari. Di situ pula kami berpisah dengan si Jahid. Langit masih terang dan ternyata benar apa kata si Jahid. Ketika kami mencoba mengambil gambar menara petronas sebenarnya bagus, tapi rasa-rasanya kurang joss aja gitu. Lalu kami menunggu langit gelap demi membuktikan kata-kata si Jahid. 30 menit penantian kami tidak sia-sia. Saya setuju dengan si Jahid. Saat langit gelap, menara petronas terlihat cantik dengan memancarkan cahaya lampu disetiap lantainya. Sangat kontras dengan langit yang berwarna hitam.

kuala lumpur
Kalau ini udah malem, ada bulan pula :D

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang. Kali ini kami tidak menggunakan LRT. Kami mencoba transportasi publik lainnya, yaitu GoKL. GoKL adalah bus dari pemerintah kota Kuala Lumpur yang yang akan mengantar siapapun secara gratis. Yep, lumayan kan hemat ongkos. Namun GoKL in hanya melewati rute-rute tertentu. Salah satunya dari KLCC ke Bukit Bintang. Ini bukan sebuah kebetulan. Tetapi saya sudah merencanakan hal ini sejak masih di Indonesia. Ribet kan backpacking itu. Harus bikin plan ini itu supaya budget yang keluar bener-bener dapat seminimal mungkin. Tapi justru itu yang asyik menurut saya.

kuala lumpur
Rute GoKL

Bukit Bintang ini bisa dibilang surganya belanja karena banyak mall dan toko fashion dengan brand ternama. Tapi tujuan kami bukan itu, melainkan ke Jalan Alor. Sebuah jalan yang dikhususkan untuk kulineran. Mulai dari makanan street food yang dijajakan menggunakan gerobak hingga makanan berat mahal-mahal. Tentu saja kami nyari jajanan street foodnya. Meski pada akhirnya kami hanya menelusuri sepanjang jalan, cuma lihat-lihat dari ujung jalan yang satu ke ujung lainnya. Hahaha!

kuala lumpur
Jalan Alor

Ketika berjalan menuju stasiun terdekat, tiba-tiba saja kami bertemu dengan seseorang yang familiar. Dia terduduk di depan sebuah toko yang tutup. Sendirian. Entah sedang melamun atau merenung. Saat kami dekati, ternyata itu si Jahid! Lah ngapain dia? Begitu saya sapa, dari raut wajahnya dia seolah tak menyangka bertemu dengan kami lagi. Begitupun dengan kami. Janjian juga nggak, tiba-tiba saja bertemu dengan wajah yang familiar sedang duduk dipinggir jalan. Sungguh mengejutkan.

Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar. Dilihat dari barang-barangnya yang semakin banyak, rupanya dia habis ngeborong di Bukit Bintang. Titipan oleh-oleh untuk teman-temannya ia bilang. Sampai-sampai carier ukuran 50L yang digendongnya tidak cukup untuk membawa semua oleh-olehnya. Gils banget dah si Jahid ini. Saya tak menyangka. Begitu dipertemukan kembali, dia telah memborong seisi Bukit Bintang. Juara!

Hanya sebentar kami mengobrol. Kami pamit pada si Jahid, malam itu kami harus mengejar bus tujuan Singapura. Sampai jumpa lagi Jahid, nice to meet you. Sungguh perjalanan kami menjadi banyak yang bisa diceritakan berkat kehadiranmu.

kuala lumpur
Maksudnya apa ya? Gagal paham ☹

Kemudian kami tertidur di kursi dalam perjalanan menuju Singapura… Berlanjut ke part 3 😊

*    *   *   *   *

Btw Jahid itu nama yang diberikan oleh Yogi, karena hingga pamitan pun kami tidak saling bertanya nama meski sudah banyak bercerita pengalaman traveling masing-masing XD. Sebenarnya masih ada beberapa hal terngakak saat bertemu si Jahid. Tapi nggak bakal saya ceritain, nggak kuat nahan ketawa :’DD. Bye!

Sabtu, 21 Oktober 2017

Backpacking Kuala Lumpur & Singapura #1: Pertama Kali Naik LRT dan... Nyasar!


Dulu saat belum tau backpacking, saya selalu mengira kalau traveling ke luar negeri itu bakal habis belasan hingga puluhan juta rupiah. Bisa saja memang kalau traveling ke eropa atau USA yang berbiaya hidup tinggi. Dan travelingnya pun sebulan. Haha. Tapi serius, dulu saya berpikir bakal menghabiskan banyak duit meski itu traveling ke negara tetangga.

Tapi itu dulu, kini setelah saya kenalan sama yang namanya backpacking. Jalan-jalan ke luar negeri itu murah kok, apalagi ke negara-negara tetangga sesama ASEAN. Maret 2017 lalu, saya baru saja dari Malaysia – Singapore selama 4 hari dan hanya habis sekitar 1 jutaan. Membengkak menjadi IDR 1500K akibat beli oleh-oleh dan kejadian tak terduga yang nanti bakal saya ceritakan. Also, belum termasuk tiket pesawat Surabaya – Kuala Lumpur PP sekitar IDR 400K. Tapi itu belinya 1 tahun sebelum keberangkatan, alias beli pada Maret 2016. Maklum tiket promo belinya harus jauh-jauh hari. Hehehe.

Di postingan ini saya hanya akan bercerita tentang perjalanan selama di Kuala Lumpur dan Singapura. Untuk itinerary dan rincian pengeluaran serta masalah teknis lainnya selama disana akan saya buat terpisah. So.. cekidot!!!

Minggu, 5 Maret 2017
Saya traveling ke KL & SG ini tidak sendirian. Bersama teman kampus, Yogi, yang sebelumnya juga sering traveling bareng. Bahkan mendaki ke Argopuro hanya berdua saja. Itu pun hanya sampai ke Telaga Taman Hidup. Hahaha.

Kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya hari Senin pagi dengan tujuan Kuala Lumpur. Yap. Itulah alasan kenapa saya bisa dapat tiket murah! Beli setahun sebelum keberangkatan + weekdays. Inget-inget, Itu tipsnya. Nah kami sendiri memilih berangkat minggu malamnya dari Malang. Berkat pengalaman ngemper di Bandara Soehat Jakarta beberapa waktu lalu, saya jadi berpikir hal yang sama di Juanda. Toh, ngemper di stasiun, terminal bahkan alun-alun saja saya pernah. Apalagi di bandara, pasti bisa lah.

Waktunya bobooo

Tidur di bandara memang pilihan terbaik kalau dapat waktu keberangkatan yang super pagi, jam 05.00! Tinggal pasang alarm jam 4 => bangun => cuci muka => check in => naik pesawat => lalu tidur lagi. Enak kan? Meski pada akhirnya kami kebangun jam 3 karena bandara jadi sangat ramai ketika kedatangan jamaah yang akan berangkat umroh satu pesawat dengan kami.

Berangkaaaat

Senin, 6 Maret 2017
Ini penerbangan pertama saya ke luar negeri. Bedanya dengan penerbangan domestik adalah pemeriksaan imigrasi. Disini akan dicek identitas penumpang berupa passport. Bukan ktp, sim atau kartu mahasiswa ya! Karena itu semua nggak berlaku kalau dibawa ke luar negeri. Hehehe. Belum punya passport? Baca tulisan saya untuk membuat passport dengan cepat secara online.

Siapin paspor pas pemeriksaan imigrasi

Setelah melakukan check in, kami tidak langsung ke gate. Melainkan menuju imigrasi untuk di-cap halaman pada passportnya. Kemudian baru ke gate keberangkatan dan naik pesawat. Begitu duduk di kursi pesawat. Saya langsung memilih tidur. Semalaman tidur dikursi bandara sama sekali tidak nyaman. Keras bosque. Kasihan tulang belakang. Tapi ya namanya backpacking, semua kenyamanan perlu disingkirkan demi budget seminimal mungkin. Iya gak? Hehehe!

FYI, waktu di Kuala Lumpur itu lebih cepat 1 jam dari zona WIB Indonesia. Atau sama seperti zona WITA. Saya sendiri baru mengetahui itu ketika tiba disana. Pada tiket tertera berangkat dari Bandara Juanda jam 5.40 dan tiba di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) jam 8.50. Tetapi saat melihat jam yang terpampang di area bandara menunjukkan jam 10.00. Begitu pula jam di smartphone yang ikut berubah ketika tersambung ke WiFi bandara. Saya nggak begitu mengerti soal kebijakan zona waktu disana. Padahal kalau dilihat letak geografisnya dan ditarik garis lurus, Kuala Lumpur sejajar dengan Pekanbaru di Indonesia yang masuk zona WIB. Entah bagaimana kebijakan pemerintah Malaysia dalam menentukkan zona waktunya.

Ini salah satu yang dicari backpacker, air minum gratis!

Setibanya di bandara, kami berdua langsung mengabari orang tua masing-masing. Maklum lagi di negeri orang, jauh dari rumah. Setiap kali ketemu WiFi kami selalu internetan sekedar mengabari keluarga dan update instastory. Hehehe. Namanya juga backpacking. Kalau bisa gratisan, ngapain harus beli kartu sim lokal kan? Lagi pula nggak ada budget untuk beli juga. Wkwkwks.

Keluar dari KLIA2, kami memesan tiket bus menuju pusat kota Kuala Lumpur. Asyiknya bus disana sudah terintegrasi dengan bandara. Jadi kami membelinya pada loket resmi yang ada di dalam bandara. Jadi nggak ada calo-calo rese yang suka maksa gitu. Harganya pun beragam berdasarkan armada dan kelas busnya. Tentu kami cari yang paling murah dong! Saat itu kami naik bus Starshuffle dengan harga MYR 12/orang.FYI, 1 ringgit sekitar 3000 rupiah kalau dibulatkan.

Tujuan kami yang pertama adalah Batu Caves. Dari KLIA2, kami transit dulu di KL sentral untuk ganti kendaraan. Di pusat Kuala Lumpur, transportasi yang diminati dan paling efektif adalah LRT (Light Rail Transit) dan Monorail. Untuk ke daerah yang agak jauh dari pusat kota, termasuk Batu Caves, dapat menggunakan KTM (Kereta Tanah Melayu). Dan semuanya sudah terintegrasi dengan baik, sehingga sangat memudahkan para penggunanya.

Map LRT – Monorail - KTM

Benar, sistem transportasi disana sangat memudahkan. Tapi… harus ngerti rute dari tiap-tiap LRTnya itu sendiri. Jangan sampai kejadian seperti kami. Yap. Akibat nggak begitu paham bagaimana rutenya, yang ada kami malah nyasar! Salah naik LRT. Itu terjadi saat pergi ke Batu Caves menggunakan KTM. Jadi di KL Sentral terdapat 1 jalur rel KTM yang menuju ke arah Batu Caves dan Tanjung Malim yang digunakan bersama. Nah akibat ketidaktahuan, begitu ada KTM yang datang kami langsung naik. Padahal KTM yang baru datang tersebut menuju ke Tanjung Malim.

Kami baru menyadari selepas stasiun Putra. KTM yang seharusnya melaju lurus (berdasarkan peta LRT), kenapa jadi ada tikungan? Lalu yang bikin tambah yakin kalau kami nyasar adalah pemberhentian setelah stasiun Putra seharusnya stasiun Sentul. Tapi… KTM malah berhenti di stasiun Segambut. Fix kami nyasar! Menyadari hal itu kami langsung turun dan putar balik ke stasiun Putra. Kemudian naik KTM lagi dengan tujuan Batu Caves. Kali ini benar, karena kami plototin tuh lampu led yang berisi informasi tujuan KTM yang baru datang. Hadeuh belum apa-apa udah nyasar. Yang harusnya naik KTM cukup sekali, ini malah jadi 3 kali! Edyan.

Baca peta biar gak nyasar lagi

Begitu tiba di kawasan Batu Caves, first impression saya adalah rame banget dan puuanasss! Yang pertama kali menarik perhatian adalah landmark dari Batu Caves, yaitu patung Dewa Murugan tertinggi di dunia (42.7 meter). Dibelakangnya adalah Batu Caves itu sendiri yang merupakan sebuah bukit kapur dengan serangkaian gua yang berfungsi sebagai kuil umat Hindu.

Difotoin sama si Jahid

Sebelum memasuki Batu Caves harus menaiki 272 anak tangga! Mampus! Sebenarnya biasa aja sih. Tapi yang jadi masalah adalah matahari lagi panas-panasnya. Apalagi masing-masing kami bawa backpack ukuran 25L yang terisi penuh oleh perlengkapan traveling. Kombinasi panas dan beban di punggung benar-benar mimpi buruk. Namun, apalah arti petualangan kalau kita tidak meng-explore. Ngapain jauh-jauh ke Batu Caves dari Malang kalau cuma foto-foto di depan patung Dewa Murugan. Dengan tekad yang kami miliki, perlahan tapi pasti kami mulai menapaki satu per satu anak tangga yang berjumlah 272 tersebut. Sedikit saran, lebih baik ke Batu Caves pada pagi atau sore hari. Karena kalau siang bolong saat matahari menggantung tepat di atas kepala.. beuh! Menyiksa!

Yakin mau naik siang hari?

Terdapat tiga gua utama dan beberapa gua kecil pada bukit kapur ini. Kami hanya mendatangi Main Cave yang digunakan sebagai kuil umat Hindu. Terdapat ukiran-ukiran pada batu, gambar-gambar tradisional hindu hingga patung Dewa Murugan yang berukuran kecil. Cahaya matahari menerobos dinding gua melalui celah-celah kecil yang ada di atasnya. Main cave ini memiliki kedalaman yang luas. Oleh karena itu, area ini digunakan sebagai tempat utama berlangsungnya upacara umat Hindu.

Cahaya dari celah-celah gua

Kuil di dalam gua

Sebelum turun, kami singgah ke depan pintu masuk Dark Cave. Yap, hanya mampir doang. Lihat-lihat. Karena untuk masuk kesana perlu biaya lagi. Dan kami tidak ada budget untuk itu. Heuheu. Padahal sepertinya asyik. Dark Caves menawarkan tur rasa-rasa adventure ke dalam gua yang diseratai edukasi sains. Gua ini juga merupakan habitat salah satu laba-laba langka di dunia, Trapdoor Spider. Hati-hati jangan sampai kena gigit. Nanti jadi sapiderman!

Map Dark Cave

Yang menambah suasana semakin menarik dikawasan Batu Caves adalah keberadaan Kera ekor panjang. Haduh emang ya jenis monyet satu ini dimana-mana ada. Di gunung ada, di pantai, di Plangon banyak, kali ini jauh-jauh ke Batu Caves ketemu juga. Dan satu kemiripan dari semua kera ini dimanapun, bandel! Yep. Mungkin kebiasaan diberi makan oleh orang, monyet-monyet ini jadi aggressive pada wisatawan. Hati-hati aja dengan barang bawaan, karena mereka dengan senang hati akan mencurinya jika anda lengah. Hahaha!

Gak asing kan sama tenyom ini?

Setelah puas berkeliling dan capek serta panas yang utamanya sih, kami cabut dari Batu Caves. Tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Jamek dan Kuala Lumpur City Gallery! Eh, Petronas Twin Tower juga deng. Hehehe!
Okehh 2 be continued yaa..


Patung Hanoman

Panorama dari Batu Caves

Apa tuh?

Selasa, 10 Oktober 2017

Mendaki Gunung Agung Bersama Para Legenda

gunung agung bali


Assalamu'alaikum wr. wb. semuanyaaaaa!!

Sebelumnya saya mohon maaf karena nggak pernah update lagi. Tahun 2017 blog ini benar-benar kek kuburan. Sampai bulan April saja saya cuma posting 4 tulisan. Eh setelah itu lebih parah lagi. Sejak April sampai Oktober ini saya nggak pernah posting apapun. 5 bulan berarti yah? Parah banget! Sampai-sampai ada komentar disalah satu tulisan yang bertanya sesuatu, saya baru jawab beberapa bulan setelahnya :( InshaAllah mulai saat ini saya tidak akan membiarkan blog ini terbengkalai lagi. Huhuhu.

Oke langsung saja saya mau bercerita pengalaman naik gunung lagi..

Berawal dari ajakan seorang teman, Hana, untuk ikut pendakian gunung bersama Kang Bongkeng yang diselenggarakan oleh Eiger. Mendengar ajakan itu saya langsung menyerbu teman saya dengan pertanyaan. Kapan eventnya? Mendaki di gunung mana? Biaya registrasinya berapa? Saya sangat antusias. Bagaimana tidak? Kang Bongkeng adalah seorang legenda hidup yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia pendakian gunung. Beliau merupakan anggota WANADRI dan sekarang berada dalam team EAST EIGER. Kesempatan untuk mendaki bersama beliau adalah hal yang langka, maka saat mendengar kabar tersebut seketika saya jungkir balik.

Kabar yang diperoleh teman saya ini ternyata dari adminnya EIGER, mbak Didy, namun baru sekedar bilang “eventnya nanti pertengahan bulan Mei di Gunung Agung”. Pas banget! Saya belum pernah ke Gunung Agung. Untuk tanggalnya menunggu publikasi resmi di social media EIGER. Selang seminggu teman saya kembali memberi kabar bahwa poster event mendaki Bersama kang bongkeng sudah muncul. Seketika saya langsung mencari informasinya di OA Instagram EIGER.

Gak pake lama, saya langsung registrasi. Eventnya sendiri pada tanggal 19 – 21 Mei 2017 lalu, hari Jum’at sampai Minggu. Saya dan Hana janjian berangkat bareng di hari kamisnya naik kereta ke Banyuwangi, terus estafet nyebrang ke Bali naik kapal pelni dan lanjut ngebus ke Denpasar. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Saya terancam batal ikut event akibat ada urusan kampus yang belum terselesaikan. Nggak mau rugi karena udah bayar biaya regist, saya tanya mbak Didy perihal ini. Dan untungnya mendaki Gunung Agung dilakukan di Sabtu pagi dan Jum’atnya itu camp di Embung Besakih dengan diisi materi tentang pendakian gunung. Hana tetap berangkat hari kamis sore dan dapat barengan dari Bangil, Om Juned. Sedangkan saya Jum’at sore baru berangkat dari Malang.

gunung agung bali
Eiger Sunset Road – Embung Besakih. Saya ditinggal :(

Singkat cerita dengan melewati segala rintangan, akhirnya saya sampai di Embung Besakih Sabtu jam 9 pagi. Saat itu masih dalam materi navigasi darat. Telat 1 jam saja saya bakal ketinggalan rombongan, karena jam 10 mulai berangkat mendaki Gunung Agung. Jujur saat itu saya masih capek. Setelah perjalanan panjang Malang – Besakih selama 18 jam non-stop, tubuh rasanya seolah mengajak istirahat untuk beberapa jam. Tapi saya harus mengikuti rangkaian acara yang telah terjadwal. Jeda 1 jam tersisa pun saya gunakan untuk packing ulang. Pupus sudah harapan untuk gogoleran sejenak. Heuheu. Saya hanya bisa berdoa semoga tubuh ini mampu untuk mendaki.

Ternyata bukan hanya Wa Bongkeng legenda pergunungan yang hadir disana. Hadir juga Kang Galih, Paimo, Kang Mamay dan Kang Kwecheng yang merupakan bagian dari team EAST EIGER. Yang tak diduga ternyata ada Ramon Y. Tungka! Luar biasa! Tema eventnya memang “mendaki bareng Kang Bongkeng”, tapi tak disangka banyak legenda lainnya. Bener-bener nggak rugi deh ikut event ini. Tapi yang bikin lebih kaget lagi adalah ketemu teman SMP yang semenjak lulus tak pernah berjumpa! Si Dik-dik urang Cikijing. Kenapa juga bisa ketemu di eventnya Eiger, di Bali pula. Ngakak! Haha!

gunung agung bali
Noh Bang Ramon

Sebelum mendaki, kami mendapat briefing dari panitia. Dari sekian banyaknya peserta (sekitar 50 orang), dibagi beberapa regu saat mendaki. Tiap regu berisi 8 – 12 orang, plus 1 orang guide. Jalur Embung Besakih ini jalur alternatif dari 2 jalur lainnya yaitu Pura Besakih dan Pura Pasar Agung. Menurut penuturan Bli Komang, guide kami, jalur Embung Besakih ini lebih singkat waktu perjalanannya. Saya pun terlarut dalam kata-katanya, lebih singkat waktu perjalanan = cepat sampai lalu tidur :D

gunung agung bali
Regu 3!
(dari kiri: Sherly, pacarnya sherly, Hana, Angie, Anin, Aing :D, Oma, Kang Galih & Bli Komang

Namun waktu perjalanan yang singkat pun ada konsekuensinya, jalurnya nanjak terus tanpa ampun! MasyaAllah! Mana badan belum sempat diistirahatkan. Langsung dibawa mendaki rasanya lebih baik turun lagi dan mending ngecamp di pantai. Heuheu. Awalnya sih semangat. Pake nyanyi-nyanyi lah. Nyemangatin teman satu regu yang diawal perjalanan sering minta break. Padahal mah saya juga butuh disemangatin. Hikz.

Regu saya berangkat ke – 3, selang 10 – 15 menit tiap regu. Pada 1 – 2 jam awal kami masih bareng terus. Tapi lama-kelamaan udah mulai kepencar-pencar. Yang jalannya cepet udah di depan nggak kelihatan. Saya paling belakang sendiri, nimbrung sama regu lain. Malah disalip sama Wa Bongkeng yang berangkatnya belakangan. Meski umur udah nggak muda lagi, jiwa dan semangatnya masih muda. Luar biasa uwa! Saya jadi isin euy. Pada suatu ketika, tahu-tahu saya sudah berada di rombongan terakhir bareng beberapa panitia yang jadi sweeper. Hahaha. Menyedihkan T_T

gunung agung bali
Break! Saya curi-curi kesempatan buat tidur :p

Medan yang dilalui dari Embung Besakih ini diawal vegetasinya cukup rapat. Jadi nggak langsung terpapar sinar matahari. Meski sebenarnya cuaca juga nggak panas-panas banget. Bahkan sesekali turun kabut. Adem. Bikin Ngantuk. Bawaannya pengen tidur :O

gunung agung bali
Hutan yang diselimuti kabut

Kecepatan mendaki saya benar-benar berada pada tempo yang sangat lambat. Nafas nggak beraturan. Irama langkah kaki ngaco. Banyak break. Banyak ngeluh pula. Parah pokoknya kala itu. Ketika yang lain sudah sampai area camp sekitar jam 3 – 5 sore. Sementara saya menikmati sunset di perjalanan bersama beberapa peserta lain yang jalannya kek keong juga. Untungnya medan sudah mulai terbuka, sehingga saya dapat menyaksikan sunset yang cantik.

gunung agung bali
Matahari mulai terbenam

Jam 18.30 saat hari sudah gelap, saya baru sampai di area camp. Ekspektasi memang kadang tak sesuai dengan realita. Awalnya saya berharap langsung geletak tiduran begitu sampai camp area. Tapi ternyata saya masih harus mencari lapak untuk mendirikan tenda. Hana dan beberapa teman satu regu yang lain sudah jaketan kedinginan menunggu saya karena tenda ada di carier saya. Hehehe. Maapkeun.

gunung agung bali
Semburat jingga penanda waktu senja

Setelah puter-puter cari lapak, ternyata tanah datar untuk mendirikan tenda sudah tak tersisa. Walhasil saya ingin turun lagi aja dan ngecamp di pantai! Heuheu! Daripada terlantar nggak jelas. Lalu kami memutuskan untuk berpencar dan nimbrung di tenda peserta lain. Dan alhamdulillah saya bersyukur banget salah satu peserta, Tony, mempersilahkan kami tidur di tendanya. Sedangkan dia sendiri join dengan teman 1 regunya. Aktivitas dilanjut makan bareng temen regu. Nikmatnya saya tinggal sedia piring saja, karena ada Oma, Hana, Sherly dan Anin yang punya kendali urusan dapur. Enaknya kalau naik gunung bareng cewek itu ada yang masakin. Seringnya saya naik gunung batangan semua, boro-boro ada yang masakin. Ujung-ujungnya masak sendiri, mana nggak ada bisa masak. Tapi kalau di gunung mah makanan kek gimana pun terasa enak kok. Betul betul? Setelah berjam-jam tertunda, akhirnya saya bisa meluruskan seluruh badan. Waktunya molooooor!

Keesokan paginya saya terbangun oleh teriakan Paimo, yang memang dari hari sebelumnya juga begitu katanya. Tukang bangunin peserta. Yang bikin ngakak, dia bangunin sambal teriak “TARAHU TARAHU TARAHUUU!”. Udah kek mamang-mamang yang lagi jualan tahu. Ngakak lah pokoknya kalau inget moment ini.

30 menit setelah dibangunin Paimo, tepatnya jam 4.30 kami sudah siap untuk melakukan summit attack! Nggak seperti saat awal keberangkatan yang loyo banget, kala itu saya lumayan fresh karena sudah melampiaskan rasa lelah dengan molor beberapa jam. Ditengah gelap dan dinginnya malam, kami seluruh peserta dan panitia mendaki menuju Puncak Gunung Agung. Bismillahirrohmanirrohim!

Perjalanan menuju puncak cukup singkat namun sangat menguras tenaga karena medannya yang nanjak terus! Ya sama seperti gunung lainnya, kalau udah deket puncak nanjaknya kek gimana. 1,5 jam yang saya butuhkan untuk sampai di puncak dan disambut oleh golden sunrise yang sungguh-sungguh EPIC! Warna kuning kemerah-merahan serta paparan hangat sinarnya selalu saya rindukan tiap kali mendaki gunung.

gunung agung bali
EPIC!

Puncak sudah dipenuhi oleh antrian peserta yang ingin foto bareng Wa Bongkeng, sang legenda pergunungan Indonesia. Ini kesekian kalinya saya bertemu Wa Bongkeng, tapi untuk pertama kalinya dapat mendaki bersama beliau. Saya sungguh kagum pada beliau. Di umur yang sudah tidak muda lagi, dia tetap menggeluti hobinya dikegiatan outdoor. Meski tidak berkata secara langsung, beliau membuktikan dan seolah berujar bahwa kalau ada kemauan, umur bukanlah batasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Apalagi hobi. Asal semangat tetap terjaga, mimpi itu dapat diraih. Tentu dengan disertai usaha dan do’a. Push your limit!

gunung agung bali
Di puncak bareng Wa Bongkeng

Wa Bongkeng memang luar biasa. Sehat selalu uwa, tetap menginspirasi!

Dokumentasi lainnya:

gunung agung bali
Memandang Gunung Batur

gunung agung bali
Banyak banget kan yang ikut

gunung agung bali
Kalau ini pas lagi turun

gunung agung bali
Indonesia si Negeri Dongeng :D


gunung agung bali
Makbar penutup acara

Dokumentasi dari Bang Wildan, Jurnalis Metro TV yang ikut event