Sunday, October 25, 2015

Pendakian Pertama #2: Impian Terwujud!

Bukit Lambosir Gunung Ciremai


Masih dalam perjalanan di malam yang semakin kelam. Saya kembali berpikir di tengah keputusasaan, apa saya bakal ngebiarin impian ini menguap gitu aja? Sedangkan ini adalah kesempatan yang gagal saya dapetin sebelumnya.

Lanjutin perjalanan terasa berat banget, balik turun juga nggak mungkin mengingat udah ½ jalan dan hari udah gelap. Sempet saya tunjukin keputusasaan saya ke Heri, tapi dia tetep semangatin saya untuk lanjutin ndaki. Saya pun lanjut sambil buang jauh-jauh rasa putus asa. Nggak lama kemudian kami tiba di sebuah pos dan ketemu temen-temen yang lain. Akhirnya bisa nyusul juga, tapi sialan parah banget kalian ninggalin kami!

Setelah istirahat bentar, kami lanjut lagi. Kali ini saya jalan di tengah rombongan, biar nggak ketinggalan. Dan yang paling penting saya pake sandal! Berjam-jam sudah saya nyeker, akhirnya pake alas kaki juga. Minjem punya Ryan, nuhun yan! Beberapa menit berlalu kami sampai di pos Sangga Buana 1. Kami putuskan buat istirahat tidur sekitar 3 jam sebelum lanjut summit attack!

Ini nih saat yang paling konyol, kami cuma bawa 1 tenda sedangkan jumlah kami 10 orang. Mana tendanya kapasitas 2 orang lagi, alamaaak! Itu pun diisi oleh 4 orang,  Heri, Haryanto, Iqbal dan Gembong. Sisanya? Ya cuma beralas matras, beratap langit dan berselimut sarung, eh saya mah pake sleeping bag deng. Hehe!

Jangan pikir tidur di gunung bisa senyaman di kamar dengan kasur yang empuk dan dibalik hangatnya selimut. Molor tanpa perlindungan tenda, cuma alas matras dan murungkut dalam sleeping bag nyatanya nggak mampu ngasih kehangatan. Jangankan gitu, dalem tenda aja masih dingin. Coba aja ada cewek yaa. Hhm.. Nggak ngaruh kali!

Mana ketinggiannya nyaris 3000 mdpl, beuh dingin sudah! Saya cuma berusaha buat merem dan buang jauh-jauh rasa dinginnya. Kebayang nggak? Jangan ditiru ya, nggak safety!

Sekitar jam 4 pagi kami semua bangun untuk summit attack, beberapa bangun dengan kondisi menggigil, termasuk saya! Bbrrr… Saat minum air, gilaaa dinginnya melebihi air kulkas yang diminum saat waktu Subuh di musim salju. Btw saya belum pernah melakukan hal itu, secara di Kuningan mana ada salju.

Setelah siap-siap, kami berangkat kecuali Haryanto yang bilang akan menyusul nanti, begitu juga Iqbal dan Gembong yang masih leyeh-leyeh dalam tenda. Baru beberapa menit jalan, salah satu anteknya Ryan nggak sanggup buat lanjutin ndaki, dia balik lagi ke camp ditemenin temennya yang satu lagi. Nggak tau siapa, saya lupa namanya. Sejam kemudian kami tiba di Pos Pangasinan, pos dengan tanah datar yang cukup luas. Bisa dipake buat main bola, lho!

Sebelum ndaki ke pucuknya, kami menanti sang fajar muncul dulu, ya sunrise! Ini nih salah satu moment yang saya idamkan, menyaksikan matahari terbit di atas gunung. Tapi langit masih gelap, kami pun nunggu sampai nundutan alias terkantuk-kantuk. Nggak lama, langit mulai menampakkan warna kemerah-merahan yang disusul oleh munculnya Sang Fajar dari persemayamannya dan nunjukin keindahannya, Subhanallah, it’s so WONDERFUL! Saya bener-bener dibuat takjub lihat sunrise pertama saya di atas gunung. Nggak mau kehilangan momen langka begini, saya langsung deh mengabadikannya.

Sunrise Gunung Ciremai
Menyaksikan Matahari Terbit

Sunrise Gunung Ciremai
SUNRISE!

Selagi mengabadikan momen, Haryanto dan yang lain datang. Lalu kami lanjut summit attack. Mulai dari Pangasinan inilah edelweiss hidup, banyak banget cuma sayang bunganya belum mekar. Jadi ini toh bunga abadi yang terkenal itu, saya sumringah banget. Bukan main, perlu perjuangan besar buat bisa lihat secara langsung edelweiss yang cuma ada diketinggian gunung.

Kalau dipetik bunga ini nggak akan layu biar bertahun-tahun lamanya. Tapi sebagai pendaki yang bertanggung jawab, jangan coba-coba deh metik bunga yang satu ini! Bayangin deh, kalau setiap pendaki metik satu tangkai aja setiap kali ndaki. Punah sudah bunga langka ini, secara pendaki gunung sekarang banyak banget.

Sepanjang perjalanan ke puncak disuguhi oleh edelweiss ini. Jalan menuju puncak makin nanjak plus berbatu, panas pula! Ditambah oksigen yang makin tipis bikin langkah melambat dan cepat capek. Tapi saya nggak nyerah gitu aja. Sekitar jam 7 pagi WGC (waktu gunung ciremai), saya berhasil wujudin impian! Cihuuuy, saya senang bukan kepalang. Saya samapi salto-salto di puncak.

Setelah sekian lama, akhirnya saya berhasil berdiri di puncak Gunung Ciremai. Sebelumnya saya udah menyaksikan sunrise dan indahnya Bunga Edelweiss, di puncak saya diberi suguhan panorama yang luar biasa! Kawah Ciremai, samudra awan, dikejauhan sebelah timur terlihat puncak Gunung Slamet. Wah nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh, saya bahagia, saya lega, saya terharu, saya galau. Perasaan yang cuma bisa dirasakan ketika berhasil meraih suatu impian. Rasa lelah seketika lenyap! Saya bersyukur diberi kesempatan bisa lihat keindahan ini. Tuhan, engkau memang Sang Maha Pencipta, berkali-kali saya dibuat takjub oleh keindahan ciptaan-Nya.

Samudra Awan Gunung Ciremai
Samudra Awan

Kawah Gunung Ciremai
Kawah Ciremai

Pendakian ini memberikan banyak sekali pelajaran untuk saya bahwa untuk mewujudkan suatu impian memang membutuhkan perjuangan yang sangat besar melewati rintangan yang ada di hadapan kita, jangan biarkan keputusasaan menguasai jika kita merasa tak mampu. Karena di sekitar kita masih ada yang akan membantu, tentunya Allah akan menunjukkan kebesaran-Nya apabila kita yakin dan mau berusaha. Sebab dibalik beratnya rintangan yang kita hadapi, ada keindahan yang sedang menanti :)

Gimana kata-kata saya keren nggak? Itu beneran kata-kata saya lho!

Besoknya setelah pulang dan lagi dirumah, saat ndaki saya sempat mikir kalau pendakian ini bakal jadi satu-satunya untuk saya. Eh saya malah pengen lagi, sumpah! Lalu saya putuskan untuk mendaki gunung-gunung lainnya. Dan tentu suatu hari saya bakal balik lagi ke Ciremai! :D

Puncak Gunung Ciremai
masih cupu :v

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment