Friday, November 20, 2015

Gallery Papandayan

Dari ke-sekian (biar gaya, padahal mah baru sedikit) gunung yang pernah saya daki, Gunung Papandayan salah satu yang terbaik. Dia menawarkan berbagai macam keindahannya. Julukan sebagai gunung untuk para pendaki pemula (kayak saya) emang tepat menurut saya, medan yang dilewati sepanjang perjalanan emang relatif datar. Pengecualian mungkin ketika menuju Tegal Alun, treknya lumayan nanjak selepas Hutan Mati, apalagi di Tanjakan Mamang. Selebihnya bisa dikatakan nanjak tapi tipis.
Jadi yah, kalau mau nyari spot-spot keren dan medan yang nggak terlalu berat, Papandayan bisa jadi pilihan. Tapi tetep harus persiapan ya, mulai dari fisik dan mental udah jelas. Lalu persiapan logistik peralatan dan perbekalan yang cukup juga harus diperhatikan. Beraktivitas di alam bebas jelas punya banyak resiko dan alam ngga bisa ditebak, maka dari itu kita harus menyiapkan segalanya sebelum mendaki. Karena safety itu number 1!
Satu lagi. Menikmati alamnya boleh, tapi tetap dilestarikan ya!

Berikut sederet hasil jepretan saya di Papandayan:

·         Kawah Papandayan

Kawah Gunung Papandayan

Kawah Gunung Papandayan

Kawah Gunung Papandayan


·         Pondok Saladah

Pondok Saladah Gunung Papandayan

Pondok Saladah Gunung Papandayan

Pondok Saladah Gunung Papandayan

  
·         Hutan Mati

Hutan Mati Gunung Papandayan

Hutan Mati Gunung Papandayan

Sunrise Hutan Mati Gunung Papandayan


·         Tegal Alun

Tegal Alun Gunung Papandayan



Saturday, November 14, 2015

Gunung Arjuna #3: Puncak PHP & Salju

Tidur saya nyenyak banget malem itu, sampai tengah malam dibangunin Faisal. Bukan gara-gara ada anjing lagi kayak waktu di Pet Bocor, tapi gara-gara dia menggigil kedinginan minta nyalain api. Bangun sudah saya nyalain perapian. Lalu Idang dan Umam ikut bangun dan merapat ke perapian.

Faisal, Idang juga saya yang pakai jaket aja tetep kedinginan. Ini Umam tahan banget sama dingin, dia cuma pakai kaos sama kemeja lengan panjang doang. Bukannya kenapa, dia ngga bawa jaket. Macem-macem emang ini anak.

Lembah Kidang Gunung Arjuna
Menghangatkan diri di perapian

Setelah bangun kami nggak tidur lagi, soalnya mau summit attack jadi sekalian aja. Jam ½ 1 dini hari kami berangkat summit attack dan cuma bawa 1 carier yang isinya perbekalan. Perjalanan dari Lembah Kidang ini cuma ada petunjuk berupa tali rapia yang di ikat di pohon tiap beberapa meter. Jadi harus bener-bener jeli liat rapia, mana jalannya kadang bercabang yang bikin bingung. Yang summit attack paling awal cuma kami ber-4 lagi.

Gara-gara Umam cerita yang mistis-mistis tentang Arjuna saat di perjalanan ke Tretes, saya jadi ngeri sama yang begituan. Kata dia kalau saat ndaki denger suara gamelan harus berhenti saat itu juga, kalau dilanjutin nanti bakal hilang atau tersesat. Berkat cerita itu saya jadi kepikiran terus, telinga saya jadi peka banget. Suara-suara yang pelan sampai kedenger. Bahkan suara kentut yang nggak bunyi aja bisa saya dengar!

Lalu ada lagi cerita mistis, kali ini Idang yang cerita. Jadi di Arjuna itu ada pos namanya Pasar Dieng atau biasa disebut Pasar Setan, kenapa begitu? Soalnya kalau malem di situ ada pasar, iya pasar! Mereka pada jualan di situ, rame banget. Mereka bukan manusia, tapi yaa gitu deh, genderuwo paling. Nah dulu pernah ada seseorang yang ngalamin itu, malam hari dia kebangun karena denger suara berisik di luar tenda. Dia melihat ada pasar, kondisi nggak sadar nggak tau gimana. Dia beli jaket dan dikasih kembalian. Saat turun gunung, jaketnya masih ada, tapi kembaliannya berubah jadi daun. Wallahualam yaa, peristiwa kayak gitu kembali ke individu masing-masing mau percaya atau nggak.

Pasar Dieng Gunung Arjuna
Pasar Dieng

Sepanjang perjalanan dari Lembah Kidang awalnya kami sering banget break, apalagi kalau ada tanah datar, pasti tergoda. Tapi saat sampai Pos Pasar Dieng ini kami kompak lanjut terus. Nggak ada yang minta break, padahal ada tanah datar. Pikiran kami kayaknya sama semua saat di pasar dieng, makanya kompak.

Lumayan lama perjalanan ke puncak ini, udah berjam-jam kami nggak sampai-sampai. Untung nggak frustasi. Kami sempat kena PHP beberapa kali. Jadi kami lihat ada dataran yang paling tinggi diantara yang lain, kami yakin itu puncak. Lalu saya berkata, “Ayo, puncak udah di depan tuh, udah deket!”. Tapi saat udah sampai taunya bukan, ternyata ada lagi yang lebih tinggi. Begitu terus beberapa kali, sampai kami namain Arjuna ini Puncak PHP! Dalam arti sebenarnya. Sekali-kali di PHP-in sama gunung.

Kami juga sempat ketipu sama sebuah fenomena alam. Saat saya lihat dari jauh, disekitar rerumputan ada sesuatu berwarna putih banyak banget. Saya kira itu abu, soalnya ada bekas api unggun juga di situ. Tapi masa iya abunya banyak banget gitu. Dan saat saya liat dari deket, itu es! Iya beneran, saya pegang dan itu asli es! Ngga mungkin kan ada yang bawa es balok terus diserut di atas gunung gitu, ngapain coba?

Ajaib! Pertama kali saya lihat es akibat fenomena alam gitu, bukan hasil bekuin air di freezer. Mungkin suhu disitu menyentuh angka minus sampai terbentuk es gitu. Bbrrr.. Nggak kebayanga dinginnya gimana.

Salju Gunung Arjuna
Es serut alami yang awalnya saya kira abu

Akhirnya jam 6 pagi, barengan sama sunrise kami sampai di Puncak Arjuna! Setelah kena PHP beberapa kali, kali ini beneran Puncak Arjuna atau biasa disebut Puncak Ogal-agil. Saya yakin karena disitu ada bendera merah putih dan plang bertuliskan Puncak Arjuna. Puncaknya sih nggak luas, cuma ada banyak bebatuan besar. Pemandangannya gimana? Beuh jangan ditanya, udah bareng sunrise, samudra awan, kelihatan juga tuh Puncak Welirang yang lagi ngebul ngeluarin asap. Juga gunung kembar, dalam arti sebenarnya yaa. Emang gunungnya ada 2 kok, terus tingginya hampir sama, makanya dinamain gunung kembar. Jangan mikir aneh-aneh!

Pokoknya nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, saya kasih lihat aja deh lewat foto.

Gunung Welirang Gunung Arjuna
Welirang dan Gunung Kembar

Puncak Gunung Arjuna
Wonderful INDONESIA!!!

Ini puncak gunung ketiga saya, setelah Ciremai dan Slamet. Dari ketiganya saya dapat pengalaman yang beda, dengan teman ndaki yang beda, di tempat yang berbeda pula. Dan yang paling penting, dari setiap pendakian saya dapat pelajaran hidup yang berharga. Yang nggak bakal saya dapatkan kalau saya diam di rumah terus. Jadi saya bisa ceritain pengalaman ini ke anak cucu saya kelak. Hehehe!

Puncak dan Sunrise!


Friday, November 6, 2015

Gunung Arjuna #2: Ketemu Kejadian Mistis

Ketika itu kami berangkat meninggalkan Pos Pet Bocor. Selepas Pet Bocor, jalurnya lebar dan jelas banget karena jalur berbatu yang disusun sedemikian rupa itu adalah jalan untuk mobil jeep yang mengangkut belerang. Biarpun kami berjalan dalam kondisi langit masih gelap dan juga penerangannya pake semprong, tapi dengan jalan yang jelas banget gitu kami nggak takut nyasar ataupun takut bakal nginjek ranjau darat. #kamitidaktakut

Kami ndaki dengan santai dan sesekali ngobrol nggak jelas. Kadang napas ngos-ngosan kami terdengar, dan kalau sudah begitu kami mengambil break sebentar. Saat lagi asyik nikmati perjalanan, langit mulai terang, tanda matahari akan terbit. Dan bingo! Pas banget kami nemu tempat yang lumayan terbuka untuk menyaksikan matahari terbit. Ajiiib!!

Sunrise Gunung Arjuna
Sunrise

Sambil menyelam, minum air. Sambil lihat sunrise, kami istirahat. Dengan terbitnya matahari, rasanya semangat saya menjadi berapi-api. Nggak sabar untuk lihat sunrise yang pastinya bakal lebih heboh di puncak.

Perjalanan masih dengan trek mobil jeep. Saat kami ber-4 berjalan beriringan, tiba-tiba aja ada suara langkah kaki di belakang. Siapa? Pendaki? Perasaan kami nggak ada tuh pendaki di belakang, kalau pun ada jaraknya pasti jauh. Kami jalan normal-normal aja, nggak cepet nggak juga lambat, tiap break pun paling lama 10 menit. Duh jadi merinding, ada sesosok 'makhluk' yang mengikuti kami. Tapi masa iya muncul saat udah terang gini.

Seketika saja kami disalip oleh 'makhluk' itu. Dia memandang kami, kami pun memandang dia. Kalau di sinetron adegan gini mukanya bakal di zoom in secara bergantian tiap orangnya. Lalu tanpa wajah, eh tanpa ekspresi, dia mengucap “Pamit mas”, kami pun balas berkata “Monggo mas”. Setelah nyalip, dia tiba-tiba saja udah hilang dari pandangan kami. Jangan mikir yang horor-horor. Dia bukan hantu! Emang dia jalannya cepet kok, secara dia udah terbiasa ndaki lewat jalur ini. Yaa, dia adalah penambang belerang di Gunung Welirang.

Jam 7 pagi kami sampai di pos 2, Kop-kopan. Banyak pendaki yang camp dimari, emang lokasinya point of view banget. Tempatnya yang cukup terbuka bikin leluasa untuk lihat Gunung Penanggungan dengan jelas. Lumayan lama kami istirahat, tempatnya emang bikin betah. Agak ke atas dari Kop-kopan sebenernya ada air terjun super mini, tapi saat kami kesitu airnya kering.

Kop-kopan Gunung Arjuna
Di Kop-kopan dengan background Penanggungan

Kop-kopan Gunung Arjuna
Tembok samping Umam itu yang jadi air terjunnya

Abis dari situ, kami say “see you” ke Kop-kopan, kami lanjut ndaki. Trek yang dilalui masih sama, jalurnya jeep. Tapi kali ini kami nemu banyak jalan pintas, karena kalau ngikutin trek jeep mah muter-muter. Karena setelah saya observasi, jalan pintas ini akan menghemat waktu kami, tenaga kami, juga yang paling penting persediaan air kami.

Ada satu momen saat saya lewat jalan pintas itu, saya dikagetkan dengan adanya kuburan. Mana kuburannya nggak cuma satu. Saya nggak tahu itu kuburan pendaki yang tewas di gunung atau bukan. Saya nggak baca tulisan yang ada di batu nisannya. Saya melengos ninggalin tempat itu. #sayatidaktakut

Perjalanan terasa panas banget, medan yang relatif terbuka bikin sinar matahari langsung menyengat tubuh kami. Tapi lama-kelamaan pohon-pohon yang tinggi mulai muncul dan nutupin kami dari sengatan sinar matahari. Itulah salah satu manfaat pohon, meneduhkan jiwa.

Trek jeep Gunung Arjuna
Nanjak terus pantang turun!!

Beberapa jam dilalui, akhirnya kami sampai juga di Pos Pondokan, dan berakhir pula trek jeep. Karena disini lokasi jeep mulai mengangkut belerang dan juga tempat para penambang belerang bermalam. Dan di Pondokan pula titik percabangan untuk ke Puncak Arjuna atau Welirang. Ada juga sumber air, meski ngga sederas di kop-kopan tapi disini ada bak penampung airnya.

Sebentar aja kami di Pondokan, karena Lembah Kidang nggak jauh dari situ. 30 menit melewati jalan yang relatif landai kami tiba di Lembah Kidang. Ada 1 tenda pendaki disitu, kami pun langsung nyari lapak untuk mendirikan tenda, dan yang paling penting makaaan. Karena cacing-cacing di perut saya udah demo terus sepanjang perjalanan. Tenang, kali ini ngga ada atraksi debus lagi dari Idang, semua aman terkendali. Udah pengalaman.

Di Lembah Kidang juga ada mata air. Beda dari pos-pos sebelumnya, disini sumber airnya ngalir dari celah-celah batu gitu. Air yang ngalirnya kecil, ngisi satu botol aja lama. Seabad. Mungkin kalau saat musim hujan bakal deras air yang mengalirnya.

Lembah Kidang Gunung Arjuna
Lagi ngisi air

Gara-gara capek juga kekenyangan mungkin, Faisal sama Idang udah tepar aja di dalam tenda. Saya tidur diluar. Kalau Umam mah lagi ngopi sama pendaki di tenda tetangga. Di Lembah Kidang meskipun hari masih siang jam 3an lah, tapi dinginnya parah. Saat saya intip dalam tenda, Idang tidur sambil menggigil saking dinginnya. Faisal mah pules banget tidurnya, iyalah dia pake sleeping bag kok. Eh saya juga lama-lama kedinginan, langsung aja saya nyari kayu bakar untuk bikin perapian malamnya. Tapi alih-alih nunggu malem, saat itu juga saya bikin perapiannya.

Hangatnyaaa setelah api menyala. Faisal sama Idang saya ajak mendekat ke perapian biar nggak kedinginan. Setelah masalah dingin teratasi, kami tinggal nunggu gelap. Jadwal makan malam dan yang paling ditunggu, molooor.

Gunung Arjuna #1: Kelakuan Anak Medan

Gunung Penanggungan

Btw, foto di atas bukan Gunung Arjuna tapi penampakan Gunung Penanggungan. Lah terus kenapa judulnya Arjuna? Ya soalnya ini cerita saya saat ndaki Arjuna, dan foto Gunung Arjunanya masih saya rahasiakan. Bisa dilihat di postingan selanjutnya. Eits tapi harus baca yang ini dulu, okey! Kalau nggak mau, cari di mbah google aja wes..
***
Nggak ada rencana jauh hari sebelumnya untuk ndaki Gunung Arjuna. Keinginan ndaki tiba-tiba aja muncul. Dadakan banget, tapi bukannya tanpa persiapan kok. Karena, safety itu nomor 1. Tiga hari sebelum keberangkatan, saya sama seorang teman, Idang, membuat plan ndaki gunung setinggi 3339 mdpl itu. Lalu kami nyiapin semuanya, juga ngajak yang lain. Dan ikutlah 2 orang lagi, Faisal dan Umam.

Hari Jum’at, ba’da ashar kami udah kumpul di terminal Arjosari, kecuali Umam. Ya, kami tinggal nunggu anak itu, dia masih di kampus katanya. Begitu beres dia langsung ke terminal, saya pikir dia udah siap-siap. Dia datang dengan setelan kuliah, kemeja, celana jeans, dan sepatu pantofel. Saya reflek bertanya, “Pantofel? Woy mau naik gunung atau mau ngantor?” Dia langsung merespon dengan mengeluarkan sandal gunungnya. Saya pun angguk-angguk kepala. Tapi ada yang aneh, tasnya kempes-kempes gitu. Dia memperlihatkan isi tasnya yang isinya cuma angin alias kosong. Kali ini saya geleng-geleng kepala. Untung saya belum muter-muter kepala. Nanti malah jadi lagunya Project Pop. Metal vs dugem itu lho.

Waktu makin sore kami pun capcus meninggalkan Malang, dari terminal kami naik mobil semacam minibus gitu deh atau biasa disebut Bison (udah kayak hewan aja). Kalau di kampung saya sih yang begitu disebut mobil Elp. Pake 'P' bukan 'F'.

Tujuan kami adalah Pandaan, butuh 2 jam perjalanan. Sesampainya disana kami nunggu mobil angkutan ke Desa Tretes, harus penuh dulu baru bisa berangkat. Kalau ngga penuh ngga bakal berangkat, biarpun mohon-mohon ke supirnya nggak bakal ngaruh. Mereka nggak bisa dirayu meskipun itu oleh perempuan dan udah buka 3 kancing teratas.

Sambil nunggu penuh kami makan malam dulu di restoran mewah dekat situ, bohong deng kami makan di trotoar a.k.a kaki lima. Setelah Isa kami baru otw Tretes.

Basecamp Gunung Arjuna
Pas foto kepalanya gamau diem
Dari kiri: Faisal, Saya, Umam dan Idang

Kami sampai di basecamp Arjuna jam 8 malam dan langsung ngurus perizinan. Lalu kami berangkat ke Pos 1 yaitu Pet Bocor, disebut begitu karena dulu emang ada paralon yang bocor. Makanya dinamain Pet Bocor, pet = paralon = pipa. Tapi sekarang nggak ada kayaknya, udah dibenerin.

Perjalanan malam kami minim penerangan, cuma ada 1 headlamp + lampu anti badai alias semprong yang kami bawa. Hari gini masih bawa semprong? Mana perlu pake minyak tanah, cahayanya juga nggak terang-terang amat. Nyusahin diri sendiri aja. Tapi yah nggak apalah daripada gelap-gelapan.

Lampu Anti Badai Gunung Arjuna
SEMPRONG

Sejam trekking, kami sampai dan langsung mendirikan tenda. Tau tenda apa yang kami bawa? Eiger Ambush! Mampus gede banget! Muat untuk 8 orang, diisi kami ber-4 plus logistik aja masih luas. Enak sih luas bisa tidur telentang, eh terlentang. Bisa juga sambil salto ataupun ambil posisi kayang kalau mau. Tapi ngga enaknya yaa kalau malem tidurnya bakalan dingin, secara kalau mau hangat yaa isi tendanya sepas mungkin. Sampai dempet-dempetan nggak bisa gerak kalau perlu. Itu terjadi gara-gara saat nyewa tenda sisa Eiger Ambush doang, yah mau gimana lagi, emang nasib. Untung Idang yang bawa tendanya bukan saya. Mati koen, Dang!

Saat waktunya makan malam, nah disini muncul kejadian konyol. Emang dasar nggak ada yang tahu cara pakai kompor portable yang pakai gas butana. Idang turun tangan, awalnya sih meyakinkan, pasang gas ke kompor, besarin volume keluarnya gas, kasih api dan… BOFFF! Kami semua dengan kompaknya teriak, "Dang, matiin apinya Dang!". Kecuali Idang, yakali dia manggil dirinya sendiri.

Api yang muncul besar banget, pasti gara-gara terlalu semangat saat besarin volume keluarnya gas. Dasar ini kerjaannya Idang. Cupu kau Dang! Setelah permasalahan kompor beres, kami akhirnya bisa makan, leganyaaa.

Pet Bocor Gunung Arjuna
Ini abis debus

Abis makan ini tinggal tidur sebenernya, tapi ada aja kejadian konyolnya. Faisal yang kebelet boker, karena nggak berani jauh-jauh dari tenda, boker cuma beberapa meter dari tenda. Parah banget. Nah beberapa menit kemudian, ada rombongan pendaki yang datang. Seorang pendaki lewat di dekat tempat Faisal masang ranjau itu, dan dia berkata “kok basah ya?”. Langsung aja kami semua berpikir sama, jangan-jangan dia nginjek ranjaunya Faisal. Saya ngakak guling-guling disitu. Sumpah!

Setelah itu baru kami semua tidur. Tapi emang Faisal ini anaknya ada-ada aja. Tengah malam saat yang lain tidur, ada anjing di sekitar luar tenda. Emang berisik tuh anjing, ganggu orang tidur. Nah Faisal ini berniat ngusir anjing itu, dia udah pegang pisau lipat untuk nakut-nakutin anjingnya. Tapi sebelum itu terjadi Idang yang merasa aneh sama tingkah Faisal bangun dan mencegahnya, Faisal pun batalin niatnya tersebut. Aduh ada-ada saja kau ini orang Medan.

Esoknya saat matahari belum terbit, kami bangun dan bergegas lanjut ndaki. Ada yang aneh nggak? Sumpah saya aja nggak nyangka bisa bangun sepagi itu, sebelum matahari terbit lho. Hal yang nggak bisa saya lakuin kalau lagi ada di kota.

Beres packing kami caaaw menuju target hari itu, Lembah Kidang. Nama posnya mirip Idang, kurang ‘K’ doang. Saya jadi berpikir, jangan-jangan Idang ini jelmaan Kidang (kijang) yang menjelma jadi manusia. Hhm..

Sunday, November 1, 2015

Mengakrabkan diri di Gunung Slamet

Gunung Slamet

Dengan ketinggian 3248 mdpl, Gunung Slamet jadi yang tertinggi di Jawa Tengah dan ke-2 di Pulau Jawa, setelah Semeru.

Pendakian ke Gunung Slamet ini saya bareng temen dapet dari website. Saya panggil dia Bang Andi, yang berawal dari postingannya di forum Backpacker Indonesia (BPI) yang ngajak ndaki Gunung Slamet. Saya tertarik dan join dengannya.

Kali ini peralatan yang saya bawa udah diupgrade dari pendakian sebelumnya ke Ciremai meski sebagian besar warisan dari kakak saya. Kalau dulu daypack sekarang carier, dulu sepatu untuk sekolah yang akhirnya riwayatnya tamat (baca: jebol) sekarang sepatu gunung. Nggak mau deh saya nyeker lagi kayak saat di Ciremai. Tersiksa!

Saya dan Bang Andi udah janjian sebelumnya. Kami tetapkan terminal Purwokerto sebagai meeting point. Saya berangkat dari Bandung naik bus, Bang Andi bareng tunangannya yaitu Mbak Nona berangkat numpak kereta dari Jakarta, sedangkan 7 orang lainnya (temen Bang Andi) naik bus dari Jakarta juga. Tapi pada akhirnya kami nggak ndaki bareng 7 orang itu, soalnya mereka nggak sampai-sampai ke Purwokerto sesuai perjanjian. Akhirnya saya jadi 'obat nyamuk', ndaki bareng sepasang tunangan. Sorry yaa Bang, Mbak kalian jadi nggak bisa ndaki berduaan! Nggak boleh Bang! Hahaha *evil laugh*

Berangkat ba’da maghrib, saya baru sampai di Purwokerto jam 3 dini hari. Sambil nunggu Bang Andi jemput, saya ngopi dulu di warung sambil nonton bola. Saat itu pertandingan Final Copa Del Rey antara Real Madrid vs Atletico Madrid, kedudukan 1-0 untuk keunggulan Real Madrid. Eh, baru nonton sebentar si Falcao ngegolin, imbang deh 1-1. Kezel banget, bikin mood rusak aja.

Lalu nggak lama Bang Andi jemput sama temennya Bang Eko yang emang tinggal di Purwokerto. Kami pergi ke tempat kerja Bang Eko di Ganesha Operation untuk istirahat sebentar, molooor.

Lagi enak tidur, alarm hp bunyi keras banget. Dengan berat hati saya bangun dari molor yang nikmat itu. Lalu kami shalat Subuh dulu dan bergegas berangkat ke Desa Bambangan diantar Bang Eko dengan mobil Grand Max warna silvernya. Perjalanannya lama juga, 2 jam berlalu kami baru sampai di Desa Bambangan, titik awal pendakian kami. Desa ini berada di dataran yang cukup tinggi, Puncak Slamet kelihatan deket banget. Puncaknya terlihat berwarna merah. Karena bebatuan di sekitar puncak emang warna merah. Saya jadi nggak sabar ndaki!

Desa Bambangan Gunung Slamet
Slamet dari Desa Bambangan

Bang Eko yang cuma nganter pamit pulang, nggak lupa dong kami ucapin thank you Abang udah nganter. Kemudian kami mengurus simaksi gitu deh. Dan tau nggak? Ternyata banyak pendaki karena kebetulan kami ndaki bareng sama kegiatan bersih gunung yang diadain Ranger setempat. Rame banget!

Sekitar jam 8 pagi kami mulai ndaki. Perjalanan awal kami lewat ladang milik warga Desa Bambangan dengan medan yang relatif datar. Lalu memasuki area yang didominasi pohon Cemara, jalannya udah mulai nanjak gitu. Saya bahkan ketinggalan beberapa kali dari Bang Andi saking lambannya. Udah bagai kura-kura aja lagi kayak saat di Ciremai, kali ini bukan daypack tapi carier. Lebih menyiksa!

Kira-kira 2 jam, saya tiba di pos 1. Saya nyari lapak untuk istirahat, soalnya lumayan rame juga di situ. Ada pondok yang cukup luas untuk istirahat pendaki, tapi penuh. Sambil nyari-nyari Bang Andi sama Mbak Nona, eh tapi nggak ada!

Selepas pos 1, isinya hutan, vegetasinya rapat. Jalur yang begini mengingatkan saya sama jalur Linggajati Ciremai, mana jalannya nanjak terus, mirip sudah. Dari awal cuaca aman-aman aja. Tapi baru beberapa menit jalan ninggalin pos 3, hujan deras turun! Sontak saya langsung pakai raincoat, begitu juga dengan pendaki lain. Saya lanjutin perjalanan meski diguyur hujan.

Nggak sampai 10 menit, saya ketemu sama Bang Andi dan Mbak Nona yang lagi sembunyi dari hujan di balik flysheet, saya ikut sembunyi di situ. Hehehe!

Niatnya nunggu hujan reda baru lanjut, jadilah kami semua ketiduran saking ngantuknya. Sejam berlalu, eh hujan tinggal gerimis aje. Kami putuskan untuk lanjut dan 15 menit kemudian sampai di pos 4. Pos ini bernama Samarantu, singkatan dari samar-samar hantu! Dinamain gitu katanya karena hantunya samar-samar. Kami nggak istirahat disini soalnya takut, eh bukan, karena belum ngerasa capek aja. Serius! #kamitidaktakut

Akhirnya setelah cukup lama berjalan, kami sampai di pos 5 alias pos Mata Air ketika waktu nunjukkin jam 3 sore. Karena masih gerimis, kami nunggu bener-bener reda dulu di dalam pondok sebelum mendirikan tenda. Tapi begitu reda kami harus cepet-cepetan cari lapak untuk mendirikan tenda, secara banyak pendaki yang mau ngecamp juga di pos 5.

Pos 4 Mata Air Gunung Slamet
Pos 5 Mata Air

Setelah hujan reda, kami berhasil dapet lapak. Yeah! Mendirikan tenda, masak dan makan jadi aktivitas kami selanjutnya, nggak lupa juga kami melaksanakan ibadah shalat. Jangan sampai ditinggal. Langit udah mulai gelap dan suhu mulai terasa dingin. Saya dan Bang Andi sempet gabung sama pendaki lain di deket perapian, kami pun ngobrol-ngobrol sebentar sambil menghangatkan diri. Tapi  nggak lama, setelah itu saya tidur karena udah capek banget dan besok waktunya summit attack.

Jam 3 dini hari kami ber-3 bangun lalu siap-siap untuk summit attack. Langitnya cerah yang bikin bintang-bintang berkilauan, banyak banget. Perjalanan kerasa cepet, 30 menit berjalan kami udah sampai lagi di pos 7. Di pos 7 juga ada pondok dan banyak juga yang ngecamp disitu. 

Selepas Subuh, kemerah-merahan sinar matahari mulai tampak di kegelapan. Dari pos 8 sampe pos 9 vegetasinya banyak ditumbuhi edelweiss, mana udah pada mekar. Cantik!

Sunrise Sindoro Sumbing
Sindoro – Sumbing

Ini yang nggak saya dapet saat ndaki Ciremai, selepas pos 9 atau disebut Plawangan adalah batas vegetasi. Pepohonan bakal diganti oleh medan bebatuan berpasir, banyak batunya warna merah pula. Puncak Slamet udah deket banget cuma beberapa menit paling sampai, itu yang ada di pikiran saya. Eh nyatanya sejam lebih saya baru sampai pucuk! Moment sunrise pun saya dapat saat masih ndaki, tepat di depan saya kalau ngebelakangin puncak.

Di puncak pemandangannya keren abis! Di sebelah barat, kelihatan Gunung Ciremai! Dulu saya bisa lihat Slamet dari Puncak Ciremai, sekarang kebalikannya, hehe. Si kembar Gunung Sindoro dan Sumbing juga kelihatan di sebelah timur. Gunung Slamet ini begitu sampai puncak nggak bisa langsung lihat kawahnya, soalnya harus jalan dulu lumayan jauh, dan itu yang membuat kami nggak kesana. Iya jujur, saya malas.

Kaldera Gunung Slamet
 Kaldera Slamet

Jadilah kami hanya di puncaknya aja, makan perbekalan yang kami bawa sambil ngobrol-ngobrol dengan sesama pendaki. Tentunya kami nggak lupa untuk mengabadikan momen ini. Nggak lama kami di puncak. Soalnya Bang Andi mau ngejar jadwal kereta untuk dia pulang, begitu juga saya yang ngejar jadwal pesawat. Duh duit darimana, Ham. Naik becak aja deh saya mah.

Slamet menjadi Puncak ke-2 saya setelah Ciremai. Ini masih awal bagi saya, masih banyak gunung-gunung yang ingin saya daki di pelosok negeri ini. Semoga diberi kesempatan :)

Puncak Gunung Slamet
Makan dan bincang-bincang

Yang namanya teman itu bisa dapat darimana aja. Sekalipun dari sebuah website, seperti pendakian ini saya bisa ketemu dengan Bang Andi dan Mbak Nona. Bahkan kami langsung akrab kayak orang yang udah kenal lama aja, padahal cuma beberapa hari doang. Ya itulah efek dari melakukan perjalanan bersama, terutama naik gunung. Kita pasti mendapat suka maupun duka, dan itu kita rasakan bersama. Hal itu yang membuat rasa persaudaraan kami erat.

Puncak Gunung Slamet
Inilah kami. Bang Andi, Mbak Nona dan 'obat nyamuk'