Tuesday, December 13, 2016

Gagal ke Kawah Ijen, Pulau Merah Jadi Pelarian

pulau merah banyuwangi


Tahun lalu saya pernah merencanakan untuk melakukan road trip ke Banyuwangi bersama teman-teman kampus. Saya sudah menentukan destinasi apa saja yang akan dikunjungi selama 3 hari. Destinasi tersebut antara lain adalah Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater, Pulau Merah dan Teluk Ijo. Namun karena suatu alasan, rencana itu batal. Sejak saat itu saya jadi penasaran banget pengen ke Banyuwangi.

Pada Februari 2016 lalu akhirnya saya ada kesempatan untuk ke Banyuwangi. Bersama 3 teman (sebut saja Pandu, Saifud dan Yogi) berencana ke Kawah Ijen. Dan itu dilakukan dengan waktu yang bisa dibilang mepet. Sebenarnya tujuan ke Banyuwangi karena Pandu ada keperluan. Nah mumpung ada orang Banyuwangi lagi balik, sekalian aja saya ikut dan mlipir tipis-tipis ke Kawah Ijen. Hehehe!

Kami berangkat dari Malang hari Jum'at sore, awalnya agak ragu karena cuaca nggak bersahabat. Perjalanan Malang - Banyuwangi jauh lho, sekitar 8 jam. Kalau berangkat sore udah pasti sampai di sana malam atau bahkan dini hari. Itu yang bikin kami sempat ragu, takutnya di perjalanan ketemu hal-hal yang tak diinginkan. Tapi karena udah ngebet pengen ke Kawah Ijen, rasa khawatir akan hal itu pun sirna. Kami cuma harus berpikir positif saja nggak bakal terjadi apa-apa.

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat dengan kondisi hujan yang lumayan deras. Nggak ada tanda-tanda kalau hujan akan reda dalam waktu dekat. Akibat hujan yang terus mengguyur, perjalanan menjadi nggak nyaman. Pandangan dari balik helm menjadi nggak jelas, mana mata saya udah rabun. Beberapa kali kami berhenti untuk menghindari guyuran hujan. Pertama kali saat di Pasuruan, kami berhenti sekalian shalat Maghrib. Di situ sebenarnya kami udah nggak pengen lanjut. Apalagi kalau bukan cuaca yang tak kunjung membaik. Mumpung masih di Pasuruan, balik lagi ke Malang nggak terlalu jauh kan ya? Heuheu..

Tempat ngopi ternikmat

Pada prosesnya kami masih terus lanjut. Ada satu momen ketika kami semua setuju kalau Alf*mart menjadi tempat ngopi terbaik, mengalahkan tempat ngopi mana pun! Ya itu terjadi hanya saat itu saja. Ketika kami sedang berada pada kondisi lelah sehabis diguyur hujan berjam-jam. Menemukan Alf*mart dan ngopi di situ adalah pilihan terbaik! Hehe!

Setelah itu hujan reda dan kami masih harus mengendarai kuda besi beberapa jam lagi. Ketika memasuki kawasan Gunung Gumitir yang sepi dan gelap gulita. Tanpa adanya penerangan jalan umum. Kami mulai khawatir. Mana kanan-kiri jalan adalah hutan, kalau tiba-tiba ada yang nyegat kan ketar-ketir. Kami hanya bisa berharap pada Yogi yang jago silat.

Pada sebuah tikungan, tiba-tiba di depan kami ada sorot senter dari pinggir jalan. Saya kira itu orang lagi ngapain, eh ternyata seterusnya juga banyak. Pada beberapa titik tertentu memang ada sebuah gubuk kecil, dari situ ada orang yang menyoroti jalan. Mungkin mereka membantu pengendara menerangi jalan, karena di kawasan itu nggak ada penerangan sama sekali. Fiuhh.. hampir aja Yogi mengeluarkan jurus silatnya.

pulau merah banyuwangi
Jalanan udah kek punya sendiri

Sekitar jam 1 dini hari kami akhirnya tiba di rumah Pandu, di Genteng. Bukan genteng yang dipakai sebagai atap rumah, tapi emang nama daerahnya itu Genteng. Yang lebih penting perjalanan kami lancar, nggak ketemu hal-hal yang nggak diinginkan. Alhamdulillah...

pulau merah banyuwangi
Selamat Datang!

Esoknya kami berangkat ke Kawah Ijen sekitar jam 09.30 pagi. Awalnya sempat dilema mau berangkat jam berapa. Soalnya setahu saya orang-orang kalau ke Kawah Ijen itu dini hari. Tujuannya untuk melihat blue fire-nya yang cuma ada 2 di dunia itu. Karena kalau matahari udah naik nggak bakal bisa lihat blue fire. Tapi karena teman-teman nggak terlalu pengen lihat blue fire, yang penting ke Kawah Ijennya gitu. Ya sudah kami sepakat berangkat pagi hari. Lalu ketika kami sampai di Paltuding jam 11.30, apa yang terjadi? Pendakian sudah ditutup! Beuh!

Setelah ngobrol-ngobrol dengan petugas di sana, pendakian ke Kawah Ijen memang hanya dibuka mulai dini hari (jam 1 pagi) sampai jam 12.00 siang, itu pun harus sudah turun ke Paltuding. Saya nggak tanya kenapa, tapi kasusnya mungkin sama dengan Mahameru. Ya, adanya gas beracun yang keluar dari kawah. Di Semeru, para pendaki selalu summit attack pada dini hari supaya sampai di puncak pada paginya. Bukan tanpa alasan, katanya kalau berada di Puncak Mahameru pada siang hari berbahaya. Karena saat itu angin mengarah ke puncak, mungkin saja kan angin tersebut membawa gas-gas beracun yang berasal dari kawah. Seperti halnya Mahameru, Kawah Ijen juga mungkin mempertimbangkan hal tersebut. Maka dari itu jadwal pendakiannya terbatas.

kawah ijen banyuwangi
Hanya bisa meratapi

Kecewa memang. Udah jauh-jauh ke Banyuwangi, ke Paltuding malah, cuma buat ke Kawah Ijen doaaang. Eh, tapi sampai di sana ternyata tutup. Mau gimana lagi. Maksain berangkat juga bukanlah sebuah pilihan yang bisa diambil. Yah, ini memang kesalahan kami karena kurang mencari informasi. Nggak apa-apa deh, yang penting motor saya yang berplat E udah sampai di ujung timur Pulau Jawa. Heuheuheu..

kawah ijen banyuwangi
Sampai ujung timur pulau jawa

Dari pada kecewa berkelanjutan, kami berunding untuk menentukan destinasi lain. Lalu pilihan jatuh pada Pulau Merah. Yes, nyantai kita di pantai. Dari Paltuding kami menggeber motor ke Banyuwangi bagian selatan. Jam 4 sore kami baru sampai di Pulau Merah. Kata pertama ketika menginjakkan kaki di sana, "ih, rame banget". Sumpah. Banyak banget manusia, Padahal waktu saya baca tulisan di blog-blog tentang Pulau Merah itu kelihatannya sepi. Bukan sepi sih, nggak rame-rame amat gitu deh. Lah, ini mah berbanding 180 derajat. Entah ada berapa ratus manusia di sana.

pulau merah banyuwangi

Pulau Merah kalau menurut saya udah masuk kategori tempat wisata banget, Berbagai fasilitas udah tersedia di pantai ini. Ada beberapa versi cerita asal-usul nama destinasi wisata ini. Ada yang menyebut kalau nama pulau merah diambil dari keberadaan sebuah pulau kecil di sebrang pantai. Pulau tersebut itu memiliki tanah yang merah, sehingga dinamakan Pulau Merah. Versi lain mengatakan, konon dari pulau kecil tersebut pernah terpancar cahaya berwarna merah, maka warga menamainya sebagai Pulau Merah.

pulau merah banyuwangi

Terlepas dari itu, Pulau Merah bisa menjadi salah satu opsi destinasi wisata kalau berkunjung ke Banyuwangi. Banyak kok aktivitas yang bisa dilakukan. Kalau suka main air ya tinggal nyebur berenang. Kalau pengen nyantai bisa berjemur langsung di pasir putihnya atau dengan menyewa kursi yang bisa selonjoran dan payung supaya nggak kena sinar matahari langsung. Lalu kalau mau nyobain surfing bisa banget. Ombaknya cocok untuk orang-orang yang baru mau belajar surfing. Tapi saat ke sana kami nggak melakukan itu semua, kami mah cuma jalan-jalan nyusurin pantai sambil leyeh-leyeh menanti sunset. Hehehe!

pulau merah banyuwangi
Anak-anak disana udah pada jago surfing

pulau merah banyuwangi
Kalau surut bisa nyebrang ke pulaunya

Yah, meskipun gagal ke Kawah Ijen. Seenggaknya kami mendapatkan pelarian yang setimpal. Pulau Merah berhasil meredakan kekecewaan kami dan membuat sore itu menjadi seru. Mungkin belum saatnya saya ke Ijen. Waktunya belum tepat. Artinya saya harus kembali lagi ke Banyuwangi suatu hari nanti. See you again Banyuwangi!

pulau merah banyuwangi
lubang buaya

Tuesday, December 6, 2016

Snorkeling Perdana, Menyaksikan Kehidupan Bawah Laut Pantai 3 Warna

pantai 3 warna malang

Malang, sebuah kota yang dikelilingi oleh banyak gunung, sehingga memliki suhu yang relatif dingin. Meski daerah pegunungan, jauh dari kotanya, Malang bagian selatan memiliki sederet pantai pasir putih yang eksotis. Tapi kalau di spesifikan lagi untuk yang bisa untuk snorkeling, Pantai 3 Warna adalah jawabannya. 

Februari 2016 lalu, saya bersama teman-teman kampus traveling ke Pantai 3 Warna. Mumpung masih liburan. Saya penasaran banget pengen snorkeling. Sebelumnya saya udah latihan renang. Hasilnya lumayan-lah, bisa dibilang saya dapat poin 2-3/10 dari kata lancar. Heuheu! Nggak buruk-buruk amat lah ya untuk seorang yang udah berkepala 2 dan tingginya hampir menyentuh 180cm, hari gini baru belajar renang dari nol. Yah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Pantai 3 Warna memberlakukan sistem kuota. Hanya 100 orang per harinya. Oleh karena itu beberapa minggu sebelumnya, saya udah booking untuk hari sabtu, tanggal 13 Februari. Saya booking jauh-jauh hari karena pantai ini nggak pernah sepi. Sebelumnya saya juga pernah ke pantai ini tapi tidak diizinkan masuk karena kami datang tanpa booking dan kuota udah penuh. Alhasil kami cuma main air di Pantai Gatra.

pantai 3 warna malang
Pantai 3 Warna

Lokasinya yang jauh dari pusat Kota Malang membuat tak adanya angkutan umum. Sehingga kami menumpak motor untuk menuju ke sana. Belum apa-apa kami sudah diguyur hujan di perjalanan. Padahal masih pagi, awal yang kurang joss untuk memulai hari. Tapi tetap disyukuri saja. Sesampainya di sana, sudah banyak wisatawan yang sampai duluan.

Kami langsung menuju pos pengecekan. Ada sedikit masalah saat itu. Ketika dicek daftar bookingnya, rombongan kami malah masuk di list tanggal 3 Februari. Saya kaget, kok bisa? Jelas-jelas saya minta tanggal 13. Untungnya saya masih menyimpan pesan conversation waktu booking. Dan terbukti di pesan tersebut saya nggak salah booking. Ada kekeliruan pada pihak pengelola yang salah memasukkan ke daftar boking. Atau mungkin lagi nundutan sehingga yang seharusnya 13 terbacanya malah cuma 3-nya doang.

pantai 3 warna malang
Bareng anak-anak kaskub *bukan kaskus, apalagi kakus

Kemudian kami dipersilahkan ke pos berikutnya untuk registrasi. Untuk ke Pantai 3 Warna wajib menyewa jasa guide yang dipatok seharga 100k/10 orang. Rombongan kami yang berjumlah 14 orang, dengan adanya aturan tersebut mau nggak mau harus menyewa 2 orang guide. Di pos ini juga barang-barang yang dibawa diperiksa. Semua benda yang berpotensi sampah ditulis oleh mereka. Nantinya saat pulang akan dicek kembali, kalau benda-benda yang dibawa pulang minus/kurang seperti yang ditulis, bakal kenda denda 100k/item. Sedangkan tiket masuknya sendiri cukup murah, yaitu 5k/orang.

Setelah menunggu guidenya, kami mulai trekking ke Pantai 3 Warna. Jaraknya nggak terlalu jauh, cuma 30 menit berjalan santai. Nggak seperti pantai-pantai lainnya yang langsung menghadap ke tepi pantai dari parkir kendaraan, ke pantai ini harus trekking lagi melewati jalan setapak diantara hutan. Belum setengah perjalanan, hujan kembali mengguyur kami. Sementara yang lain sibuk memakai jas hujan biar nggak basah, saya mah trabas aja. Toh nantinya bakal main air, ujung-ujungnya basah juga kan yaa. Hehehe!

pantai 3 warna malang
Kawasan mangrove yang tergenang air

pantai 3 warna malang
Trek setelah diguyur hujan, berlumpur!

Ketika sampai di pantai 3 warna, kami semua kegirangan. Melihat birunya air laut membuat kami ingin segera menceburkan diri. Sekalian membersihkan diri akibat lumpur yang melumuri kaki kami. Saat diperjalanan, jalan setapak tanah jadi berlumpur akibat diguyur hujan. Bahkan nggak jarang kami terpeleset karena jalanan menjadi licin.

Tanpa babibu, kami langsung menyewa alat snorkeling seharga 15K yang sudah include masker, snorkel dan life jacket. Semua langsung nyebur ke pantai, kecuali Dany yang nggak ikut snorkeling sebab kondisinya yang emang sedang kurang sehat. Sedangkan beberapa orang yang nggak bisa renang (saya, Pandu dan Ikhwan) nekat nyebur ke laut. Berkat adanya pelampung, kami tidak khawatir bakal tenggelam. Meski Pandu sampai harus ditarik oleh Idang karena nggak bisa maju. Untungnya sebelum snorkeling ini saya sempat latihan renang dulu beberapa kali. Sehingga biar dikata nggak lancar-lancar amat, saya masih bisa maju. Meski itu pun harus berusaha dengan susah payah :(

pantai 3 warna malang

pantai 3 warna malang
Di pantai 3 warna wajib pakai pelampung

Pantai 3 warna letaknya persis menghadap Pulau Sempu. Cocok dijadikan spot snorkeling, meski perairannya nggak terlalu tenang karena arusnya terasa cukup kuat. Ini merupakan pengalaman snorkeling pertama saya. Untuk orang seperti saya, yang kalau renang di kolam pun pasti cari bagian yang kedalamannya tidak melebihi tinggi badan, saya cukup kaget ketika snorkeling di kedalaman laut yang mencapai 3 – 5 meter.

Waduh, kaki saya udah nggak bisa napak. Awalnya ada rasa takut menghampiri, takut ketinggian! Ya, rasanya saya takut jatuh. Eh, takut tenggelam. Secara itu dalam banget. Jauh dari jangkauan kaki saya yang selalu refleks menginjak dasar kolam kalau mulai panik. Tapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa. Toh, satu-satunya cara menghilangkan rasa takut ya harus dilawan. Nggak ada cara lain. Betul betul betul?

pantai 3 warna malang
Saha ieu nya? 

pantai 3 warna malang
Untung pakai pelampung, jadi bisa gaya :v

Pada prosesnya, saya kuat snorkeling hingga 1 jam lebih. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya bisa menyaksikan keindahan bawah laut dengan mata saya sendiri. Melihat berbagai macam terumbu karang, ikan-ikan kecil yang berwarna-warni dan juga seekor bulu babi! Namun saya kurang bisa menikmatinya, karena snorkel dan masker yang saya pakai rada nggak nyaman. Sehingga nggak jarang saya harus membetulkannya dulu.

Setelah puas (atau lebih tepatnya capek) snorkeling, kami kembali ke daratan untuk bersantai di pinggir pantai. Beberapa dari kami ada yang makan di salah satu warung yang ada disana. Sementara saya main pasir dengan beberapa teman lainnya. Pantai 3 warna memang menawan. Setelah melihat keindahan bawah lautnya, saya naik ke sebuah batu karang untuk melihat pantai dari ketinggian. Nama 3 warna memang benar-benar pantas disematkan pada pantai ini. Ketika saya lihat dari ketinggian, perpaduan warna biru tua, biru muda dan hijau membuat pantai 3 warna begitu eksotis.

pantai 3 warna malang
Ngapain nih, jangan ditiru wkwkw

Wajar saja kalau pantai ini sedang naik daun. Keindahan pantainya yang tak ada duanya dan di dukung dengan beragam aktivitas yang bisa dilakukan (renang, snorkeling, kanoing) membuat pantai ini begitu digandrungi wisatawan. Dan yang paling penting, berkat sistem pengelolaannya yang baik, semoga pantai 3 warna ini bisa tetap lestari!

pantai 3 warna malang
Pantai Clungup saat surut

Monday, November 28, 2016

Ketika Harus Bermalam di Tempat Umum



Musholla Bandara Soehat (sumber foto disini)

Saat sedang traveling, kadang ada suatu momen yang mengharuskan saya untuk menginap di tempat umum. Bagi saya yang gaya travelingnya menganut aliran backpacking, tidur di tempat umum itu adalah pilihan mutlak daripada harus menginap di hotel. Apalagi kalau hanya singgah beberapa jam saja. Momen seperti ini bisa terjadi akibat mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang super pagi, tiba di terminal larut malam sedangkan kumpulnya pagi atau karena emang nggak punya duit alias berhemat :)) Ya, semua itu sudah pernah saya alami.

Menginap di Mushola Bandara Soehat

bandara soekarno hatta
Waiting Room Bandara Soehat

Tidur di bandara pernah saya alami saat akan berangkat ke Manado dalam acara super journey challenge. Jadwal keberangkatan pesawat jam 5 pagi. Sebenarnya banyak saudara di Jakarta, tapi daripada harus menginap di rumah saudara ya mending di bandara aja. Begitu pikir saya. Soalnya jarak dari rumah saudara ke bandara lumayan jauh. Belum lagi harus bangun pagi demi mengejar jadwal.

Sebelumnya saya udah riset di internet. Dari catper pada blog yang saya baca, udah banyak yang pernah bermalam di Bandara Soekarno-Hatta. Kebanyakan bilangnya tidur di kursi tunggu. Karena saat malam hari, apalagi di atas jam 12, nggak banyak orang yang seliweran di bandara. Sehingga satu jejer kursi bisa digunakan untuk tidur dengan posisi selonjoran. Tapi itu pengalaman blogger yang pernah mencobanya, kalau saya lain lagi ceritanya. Saya mah tidur di mushola. Bukan di dalam musholanya, tapi dapat lapak di dekat penitipan barang yang masih satu area mushola. Kebetulan saat itu saya melaksanakan shalat isya. Awalnya saya di dalam mushola, dan sepertinya nyaman tidur di situ. Namun karena nggak ada orang yang tidur dan itu tempat ibadah kan yah, jadi saya urungkan niat tersebut. Saat mau ke ruang tunggu, saya melihat ada beberapa orang tidur lesehan beralas karpet di dekat penitipan barang, tepatnya sebelum tempat wudhu. Mereka tidur di pinggiran dekat tembok. Karena itu sebenarnya digunakan sebagai jalan untuk berwudhu, saya duduk di kursi tidak jauh dari situ. Menunggu, berharap salah satu dari mereka pergi. Meski agak lama akhirnya satu orang pergi dan lapaknya saya amankan.

Walaupun cuma beralas karpet, lumayanlah dapat lapak untuk selonjoran. Kemudian saya pun tertidur di situ hingga 1 jam sebelum subuh. Dan tahukah apa yang terjadi saat saya mau cuci muka dan melewati depan pintu mushola? Di dalam mushola penuh oleh orang yang tidur, udah kek ikan pindang!

Ngemper di Stasiun Banyuwangi

Stasiun BWI Baru (sumber foto disini)

Yang namanya stasiun itu nggak seluas bandara, apalagi stasiun yang khusus digunakan untuk kereta ekonomi dan nggak berada di kota besar. Tidur di stasiun nggak segampang di bandara. Tapi tiga kali sudah saya mengalaminya. Dua kali di stasiun Banyuwangi Baru dan sekali di stasiun Karang Asem, masih di Banyuwangi juga.

Di Banyuwangi Baru, dua-duanya terjadi saat pulang dari Bali dan Lombok. Untuk yang pernah backpacking ke Bali / Lombok lewat jalur darat pasti paham. Kereta dari Banyuwangi ke Malang cuma ada satu dan itu berangkat jam 5 pagi. Kalau ke Surabaya banyak sih, tapi yang kelas ekonomi cuma satu dan berangkat pagi juga. Nggak beda jauh. Boro-boro mau naik yang kelas bisnis / eksekutif, wong tidur aja ngemper di stasiun. Nah balik lagi, akibat jadwal keretanya yang berangkat pagi banget, mau nggak mau saya harus udah standby di stasiun malam harinya. Stasiun yang nggak jauh dari Pelabuhan Ketapang ini untungya punya teras yang cukup luas. So, bisa dimanfaatin banget tuh daripada harus sewa penginapan. Toh, saya aja sampai dua kali ngemper di situ. Dan yang membahagiakan, di situ banyak yang bermalam juga. Rame. Jadi nggak perlu khawatir ada begal. Lol.

stasiun karang asem
Stasiun Karang Asem

Kalau di Stasiun Karang Asem saat mengikuti Bootcamp Aksa 7 Kawah Ilalang. Nggak beda jauh sih. Ketika itu saya mengejar waktu meeting point jam 7 pagi. Kereta dari Malang cuma satu, itu pun sampai di Karang Asem jam 11 malam. Mau nggak mau harus ngemper lagi kan. Tapi di Karang Asem ini terasnya nggak seperti di Banyuwangi Baru, terasnya sempit. Malah bisa dibilang nggak ada terasnya. Keuntungan yang dipunya Karang Asem adalah keberadaan Rumah Singgah Banyuwangi yang dimiliki oleh Mas Rahmat. Free untuk para pejalan, monggo. Rumahnya juga dekat dari stasiun. Namun, saat itu saya nggak bermalam di sana karena suatu hal. Saya malah tidur di teras salah satu warung di depan stasiun, di kursi-kursinya gitu. Lumayanlah meski banyak nyamuk!

Bermalam di Terminal Guntur

Terminal Guntur (sumber foto disini)

Dibandingkan dengan stasiun dan bandara, menginap di terminal mungkin yang paling saya hindari. Tahu sendiri kan kondisi terminal-terminal di Indonesia seperti apa? Mau ngelapak dimana coba? Terminal Purabaya (Surabaya) dan Terminal Tirtonadi (Solo) pengecualian, ruang tunggunya bisa digunakan sebagai lapak untuk tidur. Kalau terminal lainnya saya nggak menjamin. Meski menghindarinya, tapi saya pernah karena tak ada pilihan lagi.

Ketika itu saya mau mendaki Gunung Papandayan. Dari Kuningan saya berangkat sendiri ke Garut via Bandung. Meeting point di Terminal Guntur dan waktunya saat Subuh. Oleh karena itu, saya berangkat dari rumah H-1. Niatnya dari Bandung mau berangkat agak malam, biar sampai di terminal pas waktu meponya, karena teman-teman saya berangkat dari Jakarta. Tapi apa daya, saya malah berangkat dari Bandung ba’da Isya. Bukan apa-apa, kalau kemalaman khawatir nggak ada angkutan. Hal itu saya simpulkan sendiri tanpa nanya-nanya dulu. Heu.

Udah berangkatnya terlalu sore, sampai di Terminal Guntur cepat banget. Padahal saya berharap perjalanannya lama, supaya nunggu di terminalnya sebentar. Tapi ekspektasi tak berbanding lurus dengan realita. Jam 10 malam saya udah sampai di terminal, itu pun pakai acara di bangunin kernet. Gara-gara ketiduran dan tujuan akhir elf bukan di Terminal Guntur. Untung sebelumnya udah ngomong turun di sana, nyaris aja saya bablas entah kemana.

Turun dari Elf, saya bingung mau kemana. Kondisi terminal sepi dan gelap. Lalu saya mencari mushola untuk melaksanakan shalat isya. Dan ternyata di mushola sudah ada dua orang bapak-bapak yang tergeletak tidur. Beres shalat, saya ikutan tidur deh di mushola.

Terdampar di Alun-Alun Batu

alun-alun batu
Alun-alun Batu

Ini kejadiannya adalah saat saya kursus Bahasa Inggris di Pare. Saat memasuki weekend kursus libur, beberapa teman saya minta diantar untuk main ke Malang. Tapi akibat berangkat terlalu malam, kami nggak turun di Terminal Landung Sari, melainkan di Batu. Selain karena angkot di Malang nggak beroperasi 24 jam, teman saya juga pengen main ke Batu.

Di alun-alun Batu kami mampir nyicip kuliner legendaris, yaitu Pos Ketan. Lapak kami menikmati ketan itu di teras ruko-ruko yang udah tutup. Di situ pula kami ngelapak untuk bermalam dengan hanya beralas keramik. Meski udah pakai jaket dan kaos kaki, tapi udara di Batu emang dingin banget. Apalagi udah lewat jam 12. Dinginnya keramik juga berkontribusi memperkeruh suasana. Untungnya di sana kami nggak lama. Beberapa teman saya lainnya (beda rombongan) juga sedang berada di Batu. Mereka menyewa villa dan kami diajak tidur di sana. Meski hanya beberapa jam, malam-malam tidur outdoor di Batu nggak mau lagi deh. Uaademm!


Itulah beberapa pengalaman saya bermalam di tempat umum. Banyak nggak enaknya sih, tapi nyaman di dompet. Untuk pejalan yang menganut aliran backpacking sih meski nggak nyaman, asal hemat di dompet ya dijalanin. Yang penting bisa jalan-jalan! Hohoho!

Friday, November 11, 2016

Melihat Tradisi Suku Sasak di Desa Sade, Kawin Culik!


suku sasak desa sade


Ketika berada di Lombok, saya nggak melulu traveling ke wisata alam seperti pantai, pulau, air terjun dan bukit. Mendekati berakhirnya masa PKL, saya berkunjung ke Desa Sade, desa yang masih memegang erat budaya adat suku sasak. Sekali-kali wisata budaya dan juga pengen beli tenunnya sebagai kenang-kenangan khas Lombok.

Desa Sade berada di Lombok Tengah. Kalau dari Mataram bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi sekitar 1 jam perjalanan santai atau 30 menit perjalanan nggak nyantai alias ngebut. Anyway, di Lombok ini jalannya mulus dan lebar. Dan yang saya suka, jalannya sepi… banget. Jarang-jarang ada orang yang pergi ke Lombok Tengah kalau bukan orang asli sana. Ya paling orang yang mau ke bandara atau main ke pantai. Bandara Internasional Lombok (BIL), Pantai Kuta Lombok, Tanjung Aan dan Desa Sade itu jalannya searah. Meski begitu jalanan tetap sepi. Ada plang petunjuk arahnya juga, jadi nggak perlu bingung. Karena di Lombok susah kalau naik kendaraan umum.

Sebelum pergi ke TKP, saya sudah melakukan riset dulu tentang Desa Sade. Informasi yang saya dapat dari blognya orang, kalau ke Desa Sade itu ketika parkir kendaraan biasanya ada orang asli Desa Sade yang menghampiri untuk menawarkan jasa guide lokal. Yang tarifnya luar biasa banget, seikhlasnya. Mau kasih berapa pun mereka terima. Tapi ya nggak kasih 500 atau 1000 juga. Meski mereka bilangnya “Mau kasih 2000 juga nggak apa-apa, Mas”. Tapi masa mau kasih segitu, berilah jumlah yang sewajarnya. Toh, mereka udah mengajak berkeliling desa sambil menceritakan sejarah dan budayanya.

Nah, ketika kami kesana ternyata nggak ada orang lokal yang menghampiri kami. Saat itu sedang ada study tour dari salah satu sekolah di Mataram. Mungkin orang lokal Desa Sade sedang sibuk memandu para siswa yang buaaanyak itu. Kami masuk ke komplek desa dan bingung mau ngapain. Bisa aja sih keliling desa tanpa guide. Tapi ngapain, nggak bakal tau apa pun tentang suku sasak. Lalu saya inisiatif bertanya ke orang-orang yang saya prediksikan itu warga lokal (pakai sarung).
“Permisi mas, masnya warga asli Desa Sade?” tanya saya.
“Iya mas, masnya butuh guide?” dia bertanya balik.
“Iya mas buat nemenin keliling desa.”, jawab saya.

suku sasak desa sade
Bareng Mas Jauhari

Kami berkenalan terlebih dahulu. Guide yang menemani kami masih muda, namanya Jauhari. Sebelum berkeliling, Mas Jauhari bercerita sedikit tentang suku sasak dan tradisinya. Salah satunya Kawin Culik. Yang pengen nyulik anak orang lalu dinikahin, datang aja ke Desa Sade. Legal! Tapi ada aturan mainnya. Perempuan yang akan dinikahkan oleh seorang lelaki harus dilarikan / diculik dulu ke rumah keluarga dari pihak laki-lakinya. Namun gadis tersebut nggak perlu memberitahukan kedua orang tuanya. Proses penculikan biasanya dengan membawa teman sebagai saksi dan dilakukan di malam hari. Karena kalau siang hari dikhawatirkan proses penculikan gagal ditengah jalan karena bisa diketahui orang banyak seperti kedua orang tua perempuan atau laki-laki lain yang menginginkan gadis tersebut a.k.a rival.

suku sasak desa sade
Mas Jauhari lagi cerita

Setelah sehari menginap, pihak laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya telah diculik. ‘Nyelabar’, istilah bahas setempat untuk pemberitahuan itu. Dilakukan oleh pihak laki-laki, tetapi orang tua pihak laki-laki tidak diperbolehkan ikut. Rombongan nyelabar terdiri dari 5 orang dan wajib mengenakan pakaian adat. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang (tetua adat) sebagai bentuk penghormatan kepada Kliang. Kemudian rombongan datang ke rumah pihak perempuan dan menyampaikan pemberitahuan. Setelah itu baru bisa menggelar proses pernikahan. So, gimana ada yang tertarik dengan tradisi ini? Monggo datang ke Desa Sade! Hehehe!

suku sasak desa sade
Kain tenun dengan motif menggambarkan Kawin Culik

Setelah bercerita tentang Kawin Culik, Mas Jauhari mengajak kami berkeliling melihat rumah adat mereka. Suku sasak Desa Sade adalah salah satu desa yang tetap menggunakan rumah adatnya sebagai tempat tinggal dan tak tertarik untuk membangun rumah modern. Rumah adat Suku Sasak ada 2 bagian, yaitu Bale Tani dan Lumbung. Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal, sedangkan Lumbung berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil pertanian. Bale Tani terbuat dari kayu dengan dinding dari anyaman bambu. Atapnya berasal dari alang-alang kering. Yang unik adalah bagian lantainya yang berasal dari campuran tanah, getah pohon, abu jerami serta kotoran kerbau. Ya, kotoran kerbau. Jangan berpikir kalau rumah mereka jadi bau. Karena kotoran kerbau tersebut tentu sudah mengering dimana bakeri penyebab baunya sudah mati saat dijemur matahari. Kotoran kerbau ini sangat berguna untuk mencegah kelembapan tanah dan juga menjaga agar suhu udara dalam rumah tetap dingin. Hhm, alami banget kan yah rumahnya...

suku sasak desa sade
Lumbung tempat menyimpan hasil tani

suku sasak desa sade
Mejeng depan masjid warga Desa Sade

suku sasak desa sade
Katanya banyak yang foto-foto di spot ini

Warga suku sasak sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani untuk laki-laki. Sedangkan para wanita masyarakat suku sasak pekerjaannya adalah penenun. Tapi Mas Jauhari bilang kalau sekarang ada juga yang bekerja sebagai TKI ke luar negeri. Setiap perempuan suku sasak akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga kalau sudah pandai menenun. Mereka menenun menggunakan alat tradisional. Berbagai hasil tenunan mereka dijadikan karya seperti taplak meja, kain sarung, kain songket, selendang, dan lain-lain.

Di depan rumahnya mereka menjajakan kain tenunnya untuk dijual. Harga yang mereka patok di sana itu jauh lebih murah dibandingkan kain tenun yang dijual di toko-toko di Kota Mataram. Jadi, kalau main ke sana belilah 1 atau 2 kain. Selain sebagai oleh-oleh / kenang-kenangan, itung-itung juga untuk membantu perekonomian warga lokal Desa Sade. Kalau mau, mereka juga menawari untuk mencoba menenun. Mereka akan mengajari caranya dengan baik.

suku sasak desa sade
Nyari gelang

suku sasak desa sade
Proses menenun

Sebelum pulang, kami mampir ke salah satu rumah untuk membeli kain tenun berupa syal. Lumayan 100ribu dapat 3 biji. Selain kain tenun, mereka juga menjual aksesoris seperti gelang, kalung, kaos , dan lain-lain. Setelah puas berkeliling, kami berpamitan dengan Mas Jauhari.

Jujur, selama ini saya jarang banget berwisata budaya kek gini. Biasanya ya wisata alam. Saat ke Desa Sade saya sadar, kalau Indonesia itu bukan alamnya saja yang kaya. Tapi budayanya juga. Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke ada berapa suku yang menghuni negara ini. Dengan sejarahnya masing-masing, tradisi dan bahasa tiap daerahnya yang berbeda-beda tentu membuktikan kalau Indonesia itu kaya! Meski begitu, semuanya tetap satu, satu INDONESIA.


suku sasak desa sade
Monggo dipilih

Friday, October 21, 2016

Pendakian Gunung Lawu #2: Perjalanan Menuju Warung Mbok Yem

warung mbok yem lawu

“Siapa yang masak di warung saya? Kalau mau masak di tenda sendiri saja jangan di sini! KELUAR!!!”, itu yang saya dengar saat baru aja makan satu suap mie. Seisi warung seketika kaget mendengarnya. Ternyata dia adalah bapak sang empunya warung. Hanya ada 2 rombongan yang sedang masak saat itu. Kami dan rombongan pendaki di samping kami. Dari pada urusannya jadi makin panjang, kami langsung beres-beres alat masak dan packing. Sedikit demi sedikit para pendaki keluar dari warung bapak itu.

“Hampura pak, kalau bisa pasang tenda mah kami juga nggak bakal masak di warungnya bapak. Tapi di luar badai pak, yang ada tenda kami udah basah duluan sebelum berdiri. Percuma. Toh warung bapak juga tutup, nggak ada barang-barangnya. Terus kami mau pesan apa? Bapak nggak kasihan melihat pendaki pada kedinginan setelah kena badai? Warungnya digunakan sebentar untuk menghangatkan tubuh sampai hujan reda boleh lah ya. Itung-itung amal, bapak sebagai yang punya tempat juga dapat pahala. Iya kan, Pak?” Begitu kata saya, tapi dalam hati. :v

Kami kemudian bergegas mencari lapak. Di langit yang mulai gelap dan gerimis yang terus menerpa, kami memasang tenda meski tubuh sudah kedinginan. Menggelar tenda, menyambungkan frame, mengikat tali hingga memasang pasak kami lakukan dengan cepat. Begitu tenda sudah terpasang dengan baik, kami masuk satu per satu. Dan.. aaah hawa di dalam tenda tak sedingin di luar. Apalagi kami duduk berdempetan membuat hawa panas terperangkap. Lumayan laah.

Mie goreng berkuah yang sebelumnya udah dimasak, kami santap dengan lahap. Tak ada aktivitas lain lagi setelah itu. Kondisi tubuh yang sudah lelah, plus hujan yang belum reda membuat kami tak melakukan apapun selain tarik sleeping bag. Meski posisi tidur nggak nyaman, saya tetap paksakan untuk tidur. Biar awalnya cuma merem doang, tapi akhirnya bisa molor juga. :D

warung mbok yem lawu
Banyak pendaki yang numpang tidur di warung

Tapi nggak lama. Sekitar jam 12 malam, saya kebangun karena Eko dan Idang grasak-grusuk. Mau lanjut tidur nggak bisa. Jadilah saya masak air buat bikin energen. Lalu dilanjut masak mie dan menggoreng tempe bosoknya Eko. Iya beneran bosok (busuk) lho. Edisi kelaparan tengah malam. Saat yang lain lanjut tidur, saya keluar tenda. Dinginnya bukan main, jari-jari kaki dan tangan seperti mati rasa. Meski hujan udah reda, ternyata langit masih berawan. Bintang yang terlihat pun hanya sedikit. Sebaliknya, lampu-lampu kota menyala terang. Sambil berkeliling pos 5, saya masuk ke salah satu warung untuk ngopi. Ternyata, masih ada beberapa pendaki yang baru tiba. Padahal saat itu sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Nggak ada teman begadang, saya memutuskan untuk kembali tidur.

Paginya saya terbangun oleh keriuhan para pendaki di luar tenda. Warna kemerahan di langit mulai terlihat di ufuk timur. Namun, matahari belum naik. Saya keluar mencari udara pagi yang kemudian disusul oleh Rahman dan Eko. Sedangkan Idang dan Brian masih pingsan. Ketika sunrise sudah lewat, beberapa pendaki ada yang langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Sementara kami memilih leyeh-leyeh dulu. Selain belum sarapan, kami akan ke puncak sambil membawa seluruh logistik. Karena kami akan turun lewat jalur Cemara Kandang.

Sunrise dari pos 5

gunung lawu
Makan indomie goreng berkuah :v

Perjalanan diawali dengan turunnya kabut yang membuat suhu menjadi dingin. Tapi kabutnya cuma lewat doang. Setelah itu langit cerah. Panorama sepanjang jalan ke puncak pun terlihat sangat indah. Trek berupa susunan batu akhirnya berakhir saat memasuki Sendang Drajat, yaitu pos yang terdapat sumber mata airnya. Setelah itu trek berganti menjadi tanah. Saat itu juga Eko bisa bernafas lega. Dia bilang, dia paling malas dengan trek berbatu gitu. Padahal kalau menurut saya sih itu wenak :D

gunung lawu
Pagi yang berkabut

sendang drajat gunung lawu
Sendang Drajat

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di Hargo Dumilah alias Puncak Lawu! Uyee! Ada tugu setinggi 5 meter di puncaknya. Sudah banyak pendaki yang tiba duluan. Dan sedang mengantriii untuk gantian berfoto di depan tugu dengan tulisan “Alhamdulillah Puncak Lawu 3265 mdpl”. Dari puncak, terlihat juga Telaga Kuning. Saya baru tahu kalau di Lawu ada telaga saat melihat peta di pos perizinan. Penasaran sih pengen turun ke sana. Tapi mengingat kami harus cepat turun, yah lain kesempatan aja deh ya.

gunung lawu
Jalan setapak menuju puncak… yang belum kelihatan

telaga kuning gunung lawu
Telaga Kuning

hargo dumilah gunung lawu
Puncak Lawu / Hargo Dumilah

Nggak lama kami di puncak. Yah 30 menit paling. Karena kami udah pengen ke Warung Mbok Yem. Apalagi kalau bukan makan di warung tertinggi di Gunung Lawu? Pecelnya itu lho udah ngebet banget dari sehari sebelumnya. Apalagi si Eko. Eh, nyatanya saat pesan pecel. Ngantrinya rameee. Entah bakal kebagian kapan. Sampai-sampai ditawarin soto. Dari pada lama nunggu doang, mau nggak mau kami pesan soto. Udah lapar juga. Dan ketika siaaap, yang datang bukanlah soto. Malah lebih mirip nasi dikasih kuah bening plus daging. Heuheu.. yasudahlah, disyukuri saja nikmat yang diberikan. Toh, digunung mah makanan apa aja jadi terasa enak. Apalagi yang udah enak, jadinya enak kuadrat. Hehehe!

warung mbok yem lawu
Nyarap dulu bosque

Yah meski pecelnya nggak keturutan, seenggaknya kami udah makan di retoran ternama di Gunung Lawu. Warung tertinggi di dunia lho! Eh iya nggak sih? Iya aja deh ya. Letaknya yang dekatnya dengan puncak, pas banget dijadikan tempat transit. Apalagi dalam kondisi capek. Tiduran bentar di warung, eh malah keterusan. Malah tidur beneran. Mantap deh pokoknya.

Memang sih, selain ke puncak hargo dumilah, para pendaki naik ke Lawu itu tujuannya pengen ke warung Mbok Yem. Pada penasaran sama pecelnya. Termasuk juga saya. Makanya saya tulis judul postingan ini dengan “perjalanan menuju warung mbok yem”. Hehehe!

hargo dumilah gunung lawu
Bonus Edelweiss :))


hargo dumilah gunung lawu
Bonus lagi :p

Friday, October 14, 2016

Pendakian Gunung Lawu #1: Naik Tangganya Cemoro Sewu

gunung lawu hargo dumilah

Lama nggak naik gunung bikin saya rindu rasanya berada diketinggian. Berdiri lebih tinggi dari awan. Dinginnya malam di gunung. Hangatnya sinar matahari saat terbit di pagi hari. Nikmatnya merebahkan badan setelah seharian mendaki. Dan masih banyak lagi. Setahun lebih saya nggak ndaki. Terakhir kali saat ke Papandayan Agustus 2015 lalu. Sebenarnya saya naik gunung sih, ke Gunung Panderman dan Gunung Mahawu di Tomohon. Tapi keduanya itu ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Sedangkan saya merindukan pendakian yang bisa menghabiskan waktu agak lama di gunung. Sampai beberapa ari gitu. Maklum, belakangan ini saya lebih sering main ke pantai atau tempat wisata lainnya. *ciee anak pantai

Finally, 1 – 2 Oktober kemarin saya baru saja mendaki Gunung Lawu. Yang bertepatan dengan tanggal 1 Suro. Ya, saya sendiri baru sadar kalau waktu itu 1 suro saat sudah turun. Berangkat dari Terminal Arjosari Malang, saya bersama Idang, Rahman dan Eko menuju Surabaya sekitar jam setengah 10 malam. Rencana menumpak bus ekonomi gagal karena yang tersisa hanya bus patas (IDR 25K). Bukannya kenapa, budget sudah kami hitung secara terperinci. Kalau diawal aja nggak sesuai rencana, seterusnya budget bakal membengkak. Maklum mahasiswa, duit untuk jalan-jalan aja harus ngirit pengeluaran buat makan dulu. Heuheu..

Perjalanan ke Surabaya nggak itu kerasa. Sekali merem, pas buka mata tau-tau udah sampai aja di Terminal Bungurasih. Ajaib! Kalau malam emang cepat, nggak sampai 2 jam bisa lho. Di terminal, kami bertemu dengan teman Eko yang juga akan ikut mendaki bersama kami. Brian namanya. Badannya kecil, tapi cariernya buesar. Isinya 4 botol air mineral ukuran 1.5 L. Jago! Saya mah males. Paling banyak aja 2 botol + plus 1 botol yang 600 mL. Soalnya kan ada sumber air. Kalau naik gunung yang nggak ada sumber airnya, nah itu lain lagi ceritanya. Saya bawa kompan sudah!

Perjalanan kami lanjut lagi naik bus ekonomi Jurusan Yogyakarta yang mampir di Terminal Maospati (Magetan) seharga Rp 30K/orang. Formasi kursinya 2 – 3, dan itu pun sudah hampir penuh. Jadi tinggal kebagian sisanya aja. Alhasil kami duduk berpencar. Perjalanan ke Magetan pun saya lalui dengan tidur. Sempat kebangun beberapa kali akibat guncangan karena supirnya ugal-ugalan. Gilak!

gunung lawu cemoro sewu
Noh, jarak Cemoro Sewu ke kota-kota

4 jam kemudian kami sampai di Terminal Maospati. Untuk menuju pos perizinan dari info kami dapat sebelumnya adalah naik bus / angkot jurusan Tawangmangu, dan itu adanya jam 5 pagi. Jadi mau nggak mau kami harus menunggu di terminal. Tapi fakta berkata lain. Begitu turun dari bus, kami langsung dihampiri bapak-bapak yang menawari untuk mencarter mobilnya dengan harga Rp 35K/orang. Harga segitu menyesuaikan berdasarkan jumlah orangnya. Saat itu kami bertujuh (ada 2 orang pendaki lain yang join dari Surabaya). Sedangkan kalau hanya 5 orang kebawah, harganya bisa 40K atau lebih.

gunung lawu cemoro sewu
Tiba saat sunrise!

Tiba di Cemoro Sewu, 2 pendaki yang join itu turun. Sedangkan kami lanjut ke Cemara Kandang. Saya dibikin bingung saat bapak sopirnya bilang ke Cemara Kandang jaraknya jauh, sekitar 30 km. Padahal setau saya nggak sampai 1 km. Dan ternyata benar, kami dibohongi. Nggak sampai 1 menit, kami sampai di Cemoro Kandang. Hhm, sa ae si bapak iki. Saat turun, kami berpikiran sama. Suasana di Cemara Kandang kok sepi banget, mana gelap. Seketika kami setuju untuk balik ke Cemoro Sewu. Kami diketawain saat bertemu dengan pendaki yang dari Surabaya. “Lho, kenapa balik lagi kesini mas?” katanya sambil nyengir-nyengir. “Cemara Kandang tempatnya gelap mas, meragukan”, jawab saya. Hahaha!

Begitu pos perizinan buka, kami langsung registrasi. Harga tiket masuknya Rp 15K/orang. Sebelum mulai mendaki, tentunya kami isi perut dulu. Supaya nggak loyo ketika mendaki. Betul betul betul?

gunung lawu cemoro sewu
masak-masaaak!

gunung lawu cemoro sewu
Pintu Gerbang Cemoro Sewu

Perjalanan diawali dengan melewati trek berupa bebatuan yang disusun sedemikian rupa. Treknya mirip seperti Arjuna – Welirang via Tretes. Bedanya kalau ini lebih sempit. Batunya juga berukuran lebih kecil dan kadang susunannya seperti membentuk tangga. Wajar sih, kalau di Tretes digunakan sebagai jalur untuk Jeep pengangkut belerang. Di sebelah kanan kirinya dikelilingi hutan cemara. Yah sesuai nama jalurnya, Cemoro Sewu (Seribu Pohon Cemara)

Sampai Pos 1, Wesen-wesen, medannya relatif tertutup oleh pohon-pohon cemara yang tinggi. Namun selepas itu, vegetasinya mulai terbuka. Pendakian kali ini kami mendaki selow banget. Jalan nyantai banget, sering ambil break. Bukan, bukan fisik melemah karena jarang naik gunung lagi. Tapi karena kami ingin lebih menikmati perjalanan. Naik gunung itu santai aja. Ngapain juga buru-buru. Puncaknya nggak kemana-mana kok. Selagi mendaki mending lihat pemandangannya, bercanda sama teman sependakian. Percayalah, naik gunung itu bukan cuma soal puncak. Menikmati perjalanannya itu lebih berkesan.

gunung lawu cemoro sewu
Berangkat!

gunung lawu cemoro sewu
Pos 1 Wesen-wesen

Lawu via Cemoro Sewu ini ada keuntungannya untuk yang nggak mau banyak-banyak bawa logistik atau nggak punya tenda. Dari 5 pos sepanjang jalur pendakian, 3 diantaranya terdapat warung-warung yang menjual makanan sekaligus bisa untuk menumpang tidur. Warung yang paling terkenal adalah Warung Mbok Yem. Karena dia adalah orang pertama yang mempunyai ide untuk membuka warung di Gunung Lawu. Letaknya malah berada di Hargo Dalem, yang hanya butuh beberapa menit saja untuk ke Hargo Dumilah (Puncak Lawu). Hanya pos 3 dan 4 saja yang nggak ada warungnya. Buat yang pengen buka usaha. Mumpung kosong, bikin aja warung di pos 3 atau 4!

Jalur Lawu ini mengingatkan saya ketika mendaki Arjuna. Selain treknya yang mirip, puncaknya juga nggak kelihatan. Dari bawah terlihat sebuah dataran yang kalau dibandingkan dengan yang lain, itu adalah yang paling tinggi. Tapi saat mendaki dan berhasil sampai ke titik itu. Eh, ternyata ada lagi yang lebih tinggi. Dan begitu seterusnya sampai beberapa kali. Diphp-in. Padahal dari pos 2 sampai pos 4 jalannya tangga lho. Tangga yang terbuat dari susunan batu. Apalagi saat mendekati pos 4, emh itu anak tangganya tinggi-tinggi. Joss banget. Huhu..

gunung lawu cemoro sewu
Bener kan naik tangga...

gunung lawu cemoro sewu
Tanjakan yang tiada akhirnya

Mulai dari pos 3, cuaca mulai nggak bersahabat. Kabut tebal perlahan mulai turun. Otomatis jarak pandang pun menipis. Beberapa kali air turun dari langit. Hujan? Bukan! Itu hanya sugesti kalau kata Eko. Yah, memang benar. Air turun bersamaan dengan kabut. Ketika kabut sudah lewat, ya udah berhenti. Tapi saat tiba di pos 4. Langit udah gelap banget. “Ini mah mau hujan”, pikir saya dalam hati. Saya langsung mengajak yang lain untuk mengenakan mantel.

Selagi berjalan menuju pos 5. Langit yang tadinya cuma gerimis, tiba-tiba aja hujan deras disertai oleh GULUDUG. Petir! Noh kan turun. Untung kami udah sedia mantel sebelum hujan. Saya heran saat melihat pendaki yang menjadikan matras untuk melindunginya dari hujan. Apalagi yang hujan-hujanan. Mereka pikir ini di pekarangan rumah, bisa hujan-hujanan gitu. Ini gunung, gan! Mana ketinggiannya udah nyentuh 3000an mdpl. Kalau kehujanan nanti bajunya basah, terus kedinginan. Bisa-bisa hypothermia. Kalau udah gitu mau gimana? Saya nggak habis pikir, mereka naik gunung persiapannya apa sih? Udah tau mulai masuk musim hujan. Tapi nggak ada antisipasi kalau di lapangan bakal hujan. Geleng-geleng kepala deh saya lihat pendaki yang kayak gitu.

gunung lawu cemoro sewu
When the rain falls, i turn become dementor :v

Lama-kelamaan hujan semakin deras. Mungkin bisa dibilang badai. Sampai di pos 5, kami langsung berlindung masuk ke warung yang kondisinya kosong. Yang punya nggak ada, barang-barangnya juga nggak ada. Dari pada ngeluarin uang demi membeli semangkuk indomie kuah hangat di warung sebelah, kami memilih memasak sendiri di dalam warung kosong tersebut. Kondisi warung semakin padat saat rombongan pendaki lain mulai berdatangan. Beberapa pendaki ikut merapat pada kami demi secuil kehangatan dari api kompor.

Ketika mie sudah siap, baru saja satu suap, tiba-tiba terdengar suara teriakan bernada marah dari dekat pintu. “Siapa yang masak di warung saya? Kalau mau masak di tenda sendiri saja jangan di sini! KELUAR!!!”

gunung lawu cemoro sewu
Kambing aja naikgunung, embeee