Tuesday, December 13, 2016

Gagal ke Kawah Ijen, Pulau Merah Jadi Pelarian

pulau merah banyuwangi


Tahun lalu saya pernah merencanakan untuk melakukan road trip ke Banyuwangi bersama teman-teman kampus. Saya sudah menentukan destinasi apa saja yang akan dikunjungi selama 3 hari. Destinasi tersebut antara lain adalah Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater, Pulau Merah dan Teluk Ijo. Namun karena suatu alasan, rencana itu batal. Sejak saat itu saya jadi penasaran banget pengen ke Banyuwangi.

Pada Februari 2016 lalu akhirnya saya ada kesempatan untuk ke Banyuwangi. Bersama 3 teman (sebut saja Pandu, Saifud dan Yogi) berencana ke Kawah Ijen. Dan itu dilakukan dengan waktu yang bisa dibilang mepet. Sebenarnya tujuan ke Banyuwangi karena Pandu ada keperluan. Nah mumpung ada orang Banyuwangi lagi balik, sekalian aja saya ikut dan mlipir tipis-tipis ke Kawah Ijen. Hehehe!

Kami berangkat dari Malang hari Jum'at sore, awalnya agak ragu karena cuaca nggak bersahabat. Perjalanan Malang - Banyuwangi jauh lho, sekitar 8 jam. Kalau berangkat sore udah pasti sampai di sana malam atau bahkan dini hari. Itu yang bikin kami sempat ragu, takutnya di perjalanan ketemu hal-hal yang tak diinginkan. Tapi karena udah ngebet pengen ke Kawah Ijen, rasa khawatir akan hal itu pun sirna. Kami cuma harus berpikir positif saja nggak bakal terjadi apa-apa.

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat dengan kondisi hujan yang lumayan deras. Nggak ada tanda-tanda kalau hujan akan reda dalam waktu dekat. Akibat hujan yang terus mengguyur, perjalanan menjadi nggak nyaman. Pandangan dari balik helm menjadi nggak jelas, mana mata saya udah rabun. Beberapa kali kami berhenti untuk menghindari guyuran hujan. Pertama kali saat di Pasuruan, kami berhenti sekalian shalat Maghrib. Di situ sebenarnya kami udah nggak pengen lanjut. Apalagi kalau bukan cuaca yang tak kunjung membaik. Mumpung masih di Pasuruan, balik lagi ke Malang nggak terlalu jauh kan ya? Heuheu..

Tempat ngopi ternikmat

Pada prosesnya kami masih terus lanjut. Ada satu momen ketika kami semua setuju kalau Alf*mart menjadi tempat ngopi terbaik, mengalahkan tempat ngopi mana pun! Ya itu terjadi hanya saat itu saja. Ketika kami sedang berada pada kondisi lelah sehabis diguyur hujan berjam-jam. Menemukan Alf*mart dan ngopi di situ adalah pilihan terbaik! Hehe!

Setelah itu hujan reda dan kami masih harus mengendarai kuda besi beberapa jam lagi. Ketika memasuki kawasan Gunung Gumitir yang sepi dan gelap gulita. Tanpa adanya penerangan jalan umum. Kami mulai khawatir. Mana kanan-kiri jalan adalah hutan, kalau tiba-tiba ada yang nyegat kan ketar-ketir. Kami hanya bisa berharap pada Yogi yang jago silat.

Pada sebuah tikungan, tiba-tiba di depan kami ada sorot senter dari pinggir jalan. Saya kira itu orang lagi ngapain, eh ternyata seterusnya juga banyak. Pada beberapa titik tertentu memang ada sebuah gubuk kecil, dari situ ada orang yang menyoroti jalan. Mungkin mereka membantu pengendara menerangi jalan, karena di kawasan itu nggak ada penerangan sama sekali. Fiuhh.. hampir aja Yogi mengeluarkan jurus silatnya.

pulau merah banyuwangi
Jalanan udah kek punya sendiri

Sekitar jam 1 dini hari kami akhirnya tiba di rumah Pandu, di Genteng. Bukan genteng yang dipakai sebagai atap rumah, tapi emang nama daerahnya itu Genteng. Yang lebih penting perjalanan kami lancar, nggak ketemu hal-hal yang nggak diinginkan. Alhamdulillah...

pulau merah banyuwangi
Selamat Datang!

Esoknya kami berangkat ke Kawah Ijen sekitar jam 09.30 pagi. Awalnya sempat dilema mau berangkat jam berapa. Soalnya setahu saya orang-orang kalau ke Kawah Ijen itu dini hari. Tujuannya untuk melihat blue fire-nya yang cuma ada 2 di dunia itu. Karena kalau matahari udah naik nggak bakal bisa lihat blue fire. Tapi karena teman-teman nggak terlalu pengen lihat blue fire, yang penting ke Kawah Ijennya gitu. Ya sudah kami sepakat berangkat pagi hari. Lalu ketika kami sampai di Paltuding jam 11.30, apa yang terjadi? Pendakian sudah ditutup! Beuh!

Setelah ngobrol-ngobrol dengan petugas di sana, pendakian ke Kawah Ijen memang hanya dibuka mulai dini hari (jam 1 pagi) sampai jam 12.00 siang, itu pun harus sudah turun ke Paltuding. Saya nggak tanya kenapa, tapi kasusnya mungkin sama dengan Mahameru. Ya, adanya gas beracun yang keluar dari kawah. Di Semeru, para pendaki selalu summit attack pada dini hari supaya sampai di puncak pada paginya. Bukan tanpa alasan, katanya kalau berada di Puncak Mahameru pada siang hari berbahaya. Karena saat itu angin mengarah ke puncak, mungkin saja kan angin tersebut membawa gas-gas beracun yang berasal dari kawah. Seperti halnya Mahameru, Kawah Ijen juga mungkin mempertimbangkan hal tersebut. Maka dari itu jadwal pendakiannya terbatas.

kawah ijen banyuwangi
Hanya bisa meratapi

Kecewa memang. Udah jauh-jauh ke Banyuwangi, ke Paltuding malah, cuma buat ke Kawah Ijen doaaang. Eh, tapi sampai di sana ternyata tutup. Mau gimana lagi. Maksain berangkat juga bukanlah sebuah pilihan yang bisa diambil. Yah, ini memang kesalahan kami karena kurang mencari informasi. Nggak apa-apa deh, yang penting motor saya yang berplat E udah sampai di ujung timur Pulau Jawa. Heuheuheu..

kawah ijen banyuwangi
Sampai ujung timur pulau jawa

Dari pada kecewa berkelanjutan, kami berunding untuk menentukan destinasi lain. Lalu pilihan jatuh pada Pulau Merah. Yes, nyantai kita di pantai. Dari Paltuding kami menggeber motor ke Banyuwangi bagian selatan. Jam 4 sore kami baru sampai di Pulau Merah. Kata pertama ketika menginjakkan kaki di sana, "ih, rame banget". Sumpah. Banyak banget manusia, Padahal waktu saya baca tulisan di blog-blog tentang Pulau Merah itu kelihatannya sepi. Bukan sepi sih, nggak rame-rame amat gitu deh. Lah, ini mah berbanding 180 derajat. Entah ada berapa ratus manusia di sana.

pulau merah banyuwangi

Pulau Merah kalau menurut saya udah masuk kategori tempat wisata banget, Berbagai fasilitas udah tersedia di pantai ini. Ada beberapa versi cerita asal-usul nama destinasi wisata ini. Ada yang menyebut kalau nama pulau merah diambil dari keberadaan sebuah pulau kecil di sebrang pantai. Pulau tersebut itu memiliki tanah yang merah, sehingga dinamakan Pulau Merah. Versi lain mengatakan, konon dari pulau kecil tersebut pernah terpancar cahaya berwarna merah, maka warga menamainya sebagai Pulau Merah.

pulau merah banyuwangi

Terlepas dari itu, Pulau Merah bisa menjadi salah satu opsi destinasi wisata kalau berkunjung ke Banyuwangi. Banyak kok aktivitas yang bisa dilakukan. Kalau suka main air ya tinggal nyebur berenang. Kalau pengen nyantai bisa berjemur langsung di pasir putihnya atau dengan menyewa kursi yang bisa selonjoran dan payung supaya nggak kena sinar matahari langsung. Lalu kalau mau nyobain surfing bisa banget. Ombaknya cocok untuk orang-orang yang baru mau belajar surfing. Tapi saat ke sana kami nggak melakukan itu semua, kami mah cuma jalan-jalan nyusurin pantai sambil leyeh-leyeh menanti sunset. Hehehe!

pulau merah banyuwangi
Anak-anak disana udah pada jago surfing

pulau merah banyuwangi
Kalau surut bisa nyebrang ke pulaunya

Yah, meskipun gagal ke Kawah Ijen. Seenggaknya kami mendapatkan pelarian yang setimpal. Pulau Merah berhasil meredakan kekecewaan kami dan membuat sore itu menjadi seru. Mungkin belum saatnya saya ke Ijen. Waktunya belum tepat. Artinya saya harus kembali lagi ke Banyuwangi suatu hari nanti. See you again Banyuwangi!

pulau merah banyuwangi
lubang buaya

Tuesday, December 6, 2016

Snorkeling Perdana, Menyaksikan Kehidupan Bawah Laut Pantai 3 Warna

pantai 3 warna malang

Malang, sebuah kota yang dikelilingi oleh banyak gunung, sehingga memliki suhu yang relatif dingin. Meski daerah pegunungan, jauh dari kotanya, Malang bagian selatan memiliki sederet pantai pasir putih yang eksotis. Tapi kalau di spesifikan lagi untuk yang bisa untuk snorkeling, Pantai 3 Warna adalah jawabannya. 

Februari 2016 lalu, saya bersama teman-teman kampus traveling ke Pantai 3 Warna. Mumpung masih liburan. Saya penasaran banget pengen snorkeling. Sebelumnya saya udah latihan renang. Hasilnya lumayan-lah, bisa dibilang saya dapat poin 2-3/10 dari kata lancar. Heuheu! Nggak buruk-buruk amat lah ya untuk seorang yang udah berkepala 2 dan tingginya hampir menyentuh 180cm, hari gini baru belajar renang dari nol. Yah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Pantai 3 Warna memberlakukan sistem kuota. Hanya 100 orang per harinya. Oleh karena itu beberapa minggu sebelumnya, saya udah booking untuk hari sabtu, tanggal 13 Februari. Saya booking jauh-jauh hari karena pantai ini nggak pernah sepi. Sebelumnya saya juga pernah ke pantai ini tapi tidak diizinkan masuk karena kami datang tanpa booking dan kuota udah penuh. Alhasil kami cuma main air di Pantai Gatra.

pantai 3 warna malang
Pantai 3 Warna

Lokasinya yang jauh dari pusat Kota Malang membuat tak adanya angkutan umum. Sehingga kami menumpak motor untuk menuju ke sana. Belum apa-apa kami sudah diguyur hujan di perjalanan. Padahal masih pagi, awal yang kurang joss untuk memulai hari. Tapi tetap disyukuri saja. Sesampainya di sana, sudah banyak wisatawan yang sampai duluan.

Kami langsung menuju pos pengecekan. Ada sedikit masalah saat itu. Ketika dicek daftar bookingnya, rombongan kami malah masuk di list tanggal 3 Februari. Saya kaget, kok bisa? Jelas-jelas saya minta tanggal 13. Untungnya saya masih menyimpan pesan conversation waktu booking. Dan terbukti di pesan tersebut saya nggak salah booking. Ada kekeliruan pada pihak pengelola yang salah memasukkan ke daftar boking. Atau mungkin lagi nundutan sehingga yang seharusnya 13 terbacanya malah cuma 3-nya doang.

pantai 3 warna malang
Bareng anak-anak kaskub *bukan kaskus, apalagi kakus

Kemudian kami dipersilahkan ke pos berikutnya untuk registrasi. Untuk ke Pantai 3 Warna wajib menyewa jasa guide yang dipatok seharga 100k/10 orang. Rombongan kami yang berjumlah 14 orang, dengan adanya aturan tersebut mau nggak mau harus menyewa 2 orang guide. Di pos ini juga barang-barang yang dibawa diperiksa. Semua benda yang berpotensi sampah ditulis oleh mereka. Nantinya saat pulang akan dicek kembali, kalau benda-benda yang dibawa pulang minus/kurang seperti yang ditulis, bakal kenda denda 100k/item. Sedangkan tiket masuknya sendiri cukup murah, yaitu 5k/orang.

Setelah menunggu guidenya, kami mulai trekking ke Pantai 3 Warna. Jaraknya nggak terlalu jauh, cuma 30 menit berjalan santai. Nggak seperti pantai-pantai lainnya yang langsung menghadap ke tepi pantai dari parkir kendaraan, ke pantai ini harus trekking lagi melewati jalan setapak diantara hutan. Belum setengah perjalanan, hujan kembali mengguyur kami. Sementara yang lain sibuk memakai jas hujan biar nggak basah, saya mah trabas aja. Toh nantinya bakal main air, ujung-ujungnya basah juga kan yaa. Hehehe!

pantai 3 warna malang
Kawasan mangrove yang tergenang air

pantai 3 warna malang
Trek setelah diguyur hujan, berlumpur!

Ketika sampai di pantai 3 warna, kami semua kegirangan. Melihat birunya air laut membuat kami ingin segera menceburkan diri. Sekalian membersihkan diri akibat lumpur yang melumuri kaki kami. Saat diperjalanan, jalan setapak tanah jadi berlumpur akibat diguyur hujan. Bahkan nggak jarang kami terpeleset karena jalanan menjadi licin.

Tanpa babibu, kami langsung menyewa alat snorkeling seharga 15K yang sudah include masker, snorkel dan life jacket. Semua langsung nyebur ke pantai, kecuali Dany yang nggak ikut snorkeling sebab kondisinya yang emang sedang kurang sehat. Sedangkan beberapa orang yang nggak bisa renang (saya, Pandu dan Ikhwan) nekat nyebur ke laut. Berkat adanya pelampung, kami tidak khawatir bakal tenggelam. Meski Pandu sampai harus ditarik oleh Idang karena nggak bisa maju. Untungnya sebelum snorkeling ini saya sempat latihan renang dulu beberapa kali. Sehingga biar dikata nggak lancar-lancar amat, saya masih bisa maju. Meski itu pun harus berusaha dengan susah payah :(

pantai 3 warna malang

pantai 3 warna malang
Di pantai 3 warna wajib pakai pelampung

Pantai 3 warna letaknya persis menghadap Pulau Sempu. Cocok dijadikan spot snorkeling, meski perairannya nggak terlalu tenang karena arusnya terasa cukup kuat. Ini merupakan pengalaman snorkeling pertama saya. Untuk orang seperti saya, yang kalau renang di kolam pun pasti cari bagian yang kedalamannya tidak melebihi tinggi badan, saya cukup kaget ketika snorkeling di kedalaman laut yang mencapai 3 – 5 meter.

Waduh, kaki saya udah nggak bisa napak. Awalnya ada rasa takut menghampiri, takut ketinggian! Ya, rasanya saya takut jatuh. Eh, takut tenggelam. Secara itu dalam banget. Jauh dari jangkauan kaki saya yang selalu refleks menginjak dasar kolam kalau mulai panik. Tapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa. Toh, satu-satunya cara menghilangkan rasa takut ya harus dilawan. Nggak ada cara lain. Betul betul betul?

pantai 3 warna malang
Saha ieu nya? 

pantai 3 warna malang
Untung pakai pelampung, jadi bisa gaya :v

Pada prosesnya, saya kuat snorkeling hingga 1 jam lebih. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya bisa menyaksikan keindahan bawah laut dengan mata saya sendiri. Melihat berbagai macam terumbu karang, ikan-ikan kecil yang berwarna-warni dan juga seekor bulu babi! Namun saya kurang bisa menikmatinya, karena snorkel dan masker yang saya pakai rada nggak nyaman. Sehingga nggak jarang saya harus membetulkannya dulu.

Setelah puas (atau lebih tepatnya capek) snorkeling, kami kembali ke daratan untuk bersantai di pinggir pantai. Beberapa dari kami ada yang makan di salah satu warung yang ada disana. Sementara saya main pasir dengan beberapa teman lainnya. Pantai 3 warna memang menawan. Setelah melihat keindahan bawah lautnya, saya naik ke sebuah batu karang untuk melihat pantai dari ketinggian. Nama 3 warna memang benar-benar pantas disematkan pada pantai ini. Ketika saya lihat dari ketinggian, perpaduan warna biru tua, biru muda dan hijau membuat pantai 3 warna begitu eksotis.

pantai 3 warna malang
Ngapain nih, jangan ditiru wkwkw

Wajar saja kalau pantai ini sedang naik daun. Keindahan pantainya yang tak ada duanya dan di dukung dengan beragam aktivitas yang bisa dilakukan (renang, snorkeling, kanoing) membuat pantai ini begitu digandrungi wisatawan. Dan yang paling penting, berkat sistem pengelolaannya yang baik, semoga pantai 3 warna ini bisa tetap lestari!

pantai 3 warna malang
Pantai Clungup saat surut

Monday, November 28, 2016

Ketika Harus Bermalam di Tempat Umum



Musholla Bandara Soehat (sumber foto disini)

Saat sedang traveling, kadang ada suatu momen yang mengharuskan saya untuk menginap di tempat umum. Bagi saya yang gaya travelingnya menganut aliran backpacking, tidur di tempat umum itu adalah pilihan mutlak daripada harus menginap di hotel. Apalagi kalau hanya singgah beberapa jam saja. Momen seperti ini bisa terjadi akibat mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang super pagi, tiba di terminal larut malam sedangkan kumpulnya pagi atau karena emang nggak punya duit alias berhemat :)) Ya, semua itu sudah pernah saya alami.

Menginap di Mushola Bandara Soehat

bandara soekarno hatta
Waiting Room Bandara Soehat

Tidur di bandara pernah saya alami saat akan berangkat ke Manado dalam acara super journey challenge. Jadwal keberangkatan pesawat jam 5 pagi. Sebenarnya banyak saudara di Jakarta, tapi daripada harus menginap di rumah saudara ya mending di bandara aja. Begitu pikir saya. Soalnya jarak dari rumah saudara ke bandara lumayan jauh. Belum lagi harus bangun pagi demi mengejar jadwal.

Sebelumnya saya udah riset di internet. Dari catper pada blog yang saya baca, udah banyak yang pernah bermalam di Bandara Soekarno-Hatta. Kebanyakan bilangnya tidur di kursi tunggu. Karena saat malam hari, apalagi di atas jam 12, nggak banyak orang yang seliweran di bandara. Sehingga satu jejer kursi bisa digunakan untuk tidur dengan posisi selonjoran. Tapi itu pengalaman blogger yang pernah mencobanya, kalau saya lain lagi ceritanya. Saya mah tidur di mushola. Bukan di dalam musholanya, tapi dapat lapak di dekat penitipan barang yang masih satu area mushola. Kebetulan saat itu saya melaksanakan shalat isya. Awalnya saya di dalam mushola, dan sepertinya nyaman tidur di situ. Namun karena nggak ada orang yang tidur dan itu tempat ibadah kan yah, jadi saya urungkan niat tersebut. Saat mau ke ruang tunggu, saya melihat ada beberapa orang tidur lesehan beralas karpet di dekat penitipan barang, tepatnya sebelum tempat wudhu. Mereka tidur di pinggiran dekat tembok. Karena itu sebenarnya digunakan sebagai jalan untuk berwudhu, saya duduk di kursi tidak jauh dari situ. Menunggu, berharap salah satu dari mereka pergi. Meski agak lama akhirnya satu orang pergi dan lapaknya saya amankan.

Walaupun cuma beralas karpet, lumayanlah dapat lapak untuk selonjoran. Kemudian saya pun tertidur di situ hingga 1 jam sebelum subuh. Dan tahukah apa yang terjadi saat saya mau cuci muka dan melewati depan pintu mushola? Di dalam mushola penuh oleh orang yang tidur, udah kek ikan pindang!

Ngemper di Stasiun Banyuwangi

Stasiun BWI Baru (sumber foto disini)

Yang namanya stasiun itu nggak seluas bandara, apalagi stasiun yang khusus digunakan untuk kereta ekonomi dan nggak berada di kota besar. Tidur di stasiun nggak segampang di bandara. Tapi tiga kali sudah saya mengalaminya. Dua kali di stasiun Banyuwangi Baru dan sekali di stasiun Karang Asem, masih di Banyuwangi juga.

Di Banyuwangi Baru, dua-duanya terjadi saat pulang dari Bali dan Lombok. Untuk yang pernah backpacking ke Bali / Lombok lewat jalur darat pasti paham. Kereta dari Banyuwangi ke Malang cuma ada satu dan itu berangkat jam 5 pagi. Kalau ke Surabaya banyak sih, tapi yang kelas ekonomi cuma satu dan berangkat pagi juga. Nggak beda jauh. Boro-boro mau naik yang kelas bisnis / eksekutif, wong tidur aja ngemper di stasiun. Nah balik lagi, akibat jadwal keretanya yang berangkat pagi banget, mau nggak mau saya harus udah standby di stasiun malam harinya. Stasiun yang nggak jauh dari Pelabuhan Ketapang ini untungya punya teras yang cukup luas. So, bisa dimanfaatin banget tuh daripada harus sewa penginapan. Toh, saya aja sampai dua kali ngemper di situ. Dan yang membahagiakan, di situ banyak yang bermalam juga. Rame. Jadi nggak perlu khawatir ada begal. Lol.

stasiun karang asem
Stasiun Karang Asem

Kalau di Stasiun Karang Asem saat mengikuti Bootcamp Aksa 7 Kawah Ilalang. Nggak beda jauh sih. Ketika itu saya mengejar waktu meeting point jam 7 pagi. Kereta dari Malang cuma satu, itu pun sampai di Karang Asem jam 11 malam. Mau nggak mau harus ngemper lagi kan. Tapi di Karang Asem ini terasnya nggak seperti di Banyuwangi Baru, terasnya sempit. Malah bisa dibilang nggak ada terasnya. Keuntungan yang dipunya Karang Asem adalah keberadaan Rumah Singgah Banyuwangi yang dimiliki oleh Mas Rahmat. Free untuk para pejalan, monggo. Rumahnya juga dekat dari stasiun. Namun, saat itu saya nggak bermalam di sana karena suatu hal. Saya malah tidur di teras salah satu warung di depan stasiun, di kursi-kursinya gitu. Lumayanlah meski banyak nyamuk!

Bermalam di Terminal Guntur

Terminal Guntur (sumber foto disini)

Dibandingkan dengan stasiun dan bandara, menginap di terminal mungkin yang paling saya hindari. Tahu sendiri kan kondisi terminal-terminal di Indonesia seperti apa? Mau ngelapak dimana coba? Terminal Purabaya (Surabaya) dan Terminal Tirtonadi (Solo) pengecualian, ruang tunggunya bisa digunakan sebagai lapak untuk tidur. Kalau terminal lainnya saya nggak menjamin. Meski menghindarinya, tapi saya pernah karena tak ada pilihan lagi.

Ketika itu saya mau mendaki Gunung Papandayan. Dari Kuningan saya berangkat sendiri ke Garut via Bandung. Meeting point di Terminal Guntur dan waktunya saat Subuh. Oleh karena itu, saya berangkat dari rumah H-1. Niatnya dari Bandung mau berangkat agak malam, biar sampai di terminal pas waktu meponya, karena teman-teman saya berangkat dari Jakarta. Tapi apa daya, saya malah berangkat dari Bandung ba’da Isya. Bukan apa-apa, kalau kemalaman khawatir nggak ada angkutan. Hal itu saya simpulkan sendiri tanpa nanya-nanya dulu. Heu.

Udah berangkatnya terlalu sore, sampai di Terminal Guntur cepat banget. Padahal saya berharap perjalanannya lama, supaya nunggu di terminalnya sebentar. Tapi ekspektasi tak berbanding lurus dengan realita. Jam 10 malam saya udah sampai di terminal, itu pun pakai acara di bangunin kernet. Gara-gara ketiduran dan tujuan akhir elf bukan di Terminal Guntur. Untung sebelumnya udah ngomong turun di sana, nyaris aja saya bablas entah kemana.

Turun dari Elf, saya bingung mau kemana. Kondisi terminal sepi dan gelap. Lalu saya mencari mushola untuk melaksanakan shalat isya. Dan ternyata di mushola sudah ada dua orang bapak-bapak yang tergeletak tidur. Beres shalat, saya ikutan tidur deh di mushola.

Terdampar di Alun-Alun Batu

alun-alun batu
Alun-alun Batu

Ini kejadiannya adalah saat saya kursus Bahasa Inggris di Pare. Saat memasuki weekend kursus libur, beberapa teman saya minta diantar untuk main ke Malang. Tapi akibat berangkat terlalu malam, kami nggak turun di Terminal Landung Sari, melainkan di Batu. Selain karena angkot di Malang nggak beroperasi 24 jam, teman saya juga pengen main ke Batu.

Di alun-alun Batu kami mampir nyicip kuliner legendaris, yaitu Pos Ketan. Lapak kami menikmati ketan itu di teras ruko-ruko yang udah tutup. Di situ pula kami ngelapak untuk bermalam dengan hanya beralas keramik. Meski udah pakai jaket dan kaos kaki, tapi udara di Batu emang dingin banget. Apalagi udah lewat jam 12. Dinginnya keramik juga berkontribusi memperkeruh suasana. Untungnya di sana kami nggak lama. Beberapa teman saya lainnya (beda rombongan) juga sedang berada di Batu. Mereka menyewa villa dan kami diajak tidur di sana. Meski hanya beberapa jam, malam-malam tidur outdoor di Batu nggak mau lagi deh. Uaademm!


Itulah beberapa pengalaman saya bermalam di tempat umum. Banyak nggak enaknya sih, tapi nyaman di dompet. Untuk pejalan yang menganut aliran backpacking sih meski nggak nyaman, asal hemat di dompet ya dijalanin. Yang penting bisa jalan-jalan! Hohoho!

Friday, November 11, 2016

Melihat Tradisi Suku Sasak di Desa Sade, Kawin Culik!


suku sasak desa sade


Ketika berada di Lombok, saya nggak melulu traveling ke wisata alam seperti pantai, pulau, air terjun dan bukit. Mendekati berakhirnya masa PKL, saya berkunjung ke Desa Sade, desa yang masih memegang erat budaya adat suku sasak. Sekali-kali wisata budaya dan juga pengen beli tenunnya sebagai kenang-kenangan khas Lombok.

Desa Sade berada di Lombok Tengah. Kalau dari Mataram bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi sekitar 1 jam perjalanan santai atau 30 menit perjalanan nggak nyantai alias ngebut. Anyway, di Lombok ini jalannya mulus dan lebar. Dan yang saya suka, jalannya sepi… banget. Jarang-jarang ada orang yang pergi ke Lombok Tengah kalau bukan orang asli sana. Ya paling orang yang mau ke bandara atau main ke pantai. Bandara Internasional Lombok (BIL), Pantai Kuta Lombok, Tanjung Aan dan Desa Sade itu jalannya searah. Meski begitu jalanan tetap sepi. Ada plang petunjuk arahnya juga, jadi nggak perlu bingung. Karena di Lombok susah kalau naik kendaraan umum.

Sebelum pergi ke TKP, saya sudah melakukan riset dulu tentang Desa Sade. Informasi yang saya dapat dari blognya orang, kalau ke Desa Sade itu ketika parkir kendaraan biasanya ada orang asli Desa Sade yang menghampiri untuk menawarkan jasa guide lokal. Yang tarifnya luar biasa banget, seikhlasnya. Mau kasih berapa pun mereka terima. Tapi ya nggak kasih 500 atau 1000 juga. Meski mereka bilangnya “Mau kasih 2000 juga nggak apa-apa, Mas”. Tapi masa mau kasih segitu, berilah jumlah yang sewajarnya. Toh, mereka udah mengajak berkeliling desa sambil menceritakan sejarah dan budayanya.

Nah, ketika kami kesana ternyata nggak ada orang lokal yang menghampiri kami. Saat itu sedang ada study tour dari salah satu sekolah di Mataram. Mungkin orang lokal Desa Sade sedang sibuk memandu para siswa yang buaaanyak itu. Kami masuk ke komplek desa dan bingung mau ngapain. Bisa aja sih keliling desa tanpa guide. Tapi ngapain, nggak bakal tau apa pun tentang suku sasak. Lalu saya inisiatif bertanya ke orang-orang yang saya prediksikan itu warga lokal (pakai sarung).
“Permisi mas, masnya warga asli Desa Sade?” tanya saya.
“Iya mas, masnya butuh guide?” dia bertanya balik.
“Iya mas buat nemenin keliling desa.”, jawab saya.

suku sasak desa sade
Bareng Mas Jauhari

Kami berkenalan terlebih dahulu. Guide yang menemani kami masih muda, namanya Jauhari. Sebelum berkeliling, Mas Jauhari bercerita sedikit tentang suku sasak dan tradisinya. Salah satunya Kawin Culik. Yang pengen nyulik anak orang lalu dinikahin, datang aja ke Desa Sade. Legal! Tapi ada aturan mainnya. Perempuan yang akan dinikahkan oleh seorang lelaki harus dilarikan / diculik dulu ke rumah keluarga dari pihak laki-lakinya. Namun gadis tersebut nggak perlu memberitahukan kedua orang tuanya. Proses penculikan biasanya dengan membawa teman sebagai saksi dan dilakukan di malam hari. Karena kalau siang hari dikhawatirkan proses penculikan gagal ditengah jalan karena bisa diketahui orang banyak seperti kedua orang tua perempuan atau laki-laki lain yang menginginkan gadis tersebut a.k.a rival.

suku sasak desa sade
Mas Jauhari lagi cerita

Setelah sehari menginap, pihak laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya telah diculik. ‘Nyelabar’, istilah bahas setempat untuk pemberitahuan itu. Dilakukan oleh pihak laki-laki, tetapi orang tua pihak laki-laki tidak diperbolehkan ikut. Rombongan nyelabar terdiri dari 5 orang dan wajib mengenakan pakaian adat. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang (tetua adat) sebagai bentuk penghormatan kepada Kliang. Kemudian rombongan datang ke rumah pihak perempuan dan menyampaikan pemberitahuan. Setelah itu baru bisa menggelar proses pernikahan. So, gimana ada yang tertarik dengan tradisi ini? Monggo datang ke Desa Sade! Hehehe!

suku sasak desa sade
Kain tenun dengan motif menggambarkan Kawin Culik

Setelah bercerita tentang Kawin Culik, Mas Jauhari mengajak kami berkeliling melihat rumah adat mereka. Suku sasak Desa Sade adalah salah satu desa yang tetap menggunakan rumah adatnya sebagai tempat tinggal dan tak tertarik untuk membangun rumah modern. Rumah adat Suku Sasak ada 2 bagian, yaitu Bale Tani dan Lumbung. Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal, sedangkan Lumbung berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil pertanian. Bale Tani terbuat dari kayu dengan dinding dari anyaman bambu. Atapnya berasal dari alang-alang kering. Yang unik adalah bagian lantainya yang berasal dari campuran tanah, getah pohon, abu jerami serta kotoran kerbau. Ya, kotoran kerbau. Jangan berpikir kalau rumah mereka jadi bau. Karena kotoran kerbau tersebut tentu sudah mengering dimana bakeri penyebab baunya sudah mati saat dijemur matahari. Kotoran kerbau ini sangat berguna untuk mencegah kelembapan tanah dan juga menjaga agar suhu udara dalam rumah tetap dingin. Hhm, alami banget kan yah rumahnya...

suku sasak desa sade
Lumbung tempat menyimpan hasil tani

suku sasak desa sade
Mejeng depan masjid warga Desa Sade

suku sasak desa sade
Katanya banyak yang foto-foto di spot ini

Warga suku sasak sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani untuk laki-laki. Sedangkan para wanita masyarakat suku sasak pekerjaannya adalah penenun. Tapi Mas Jauhari bilang kalau sekarang ada juga yang bekerja sebagai TKI ke luar negeri. Setiap perempuan suku sasak akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga kalau sudah pandai menenun. Mereka menenun menggunakan alat tradisional. Berbagai hasil tenunan mereka dijadikan karya seperti taplak meja, kain sarung, kain songket, selendang, dan lain-lain.

Di depan rumahnya mereka menjajakan kain tenunnya untuk dijual. Harga yang mereka patok di sana itu jauh lebih murah dibandingkan kain tenun yang dijual di toko-toko di Kota Mataram. Jadi, kalau main ke sana belilah 1 atau 2 kain. Selain sebagai oleh-oleh / kenang-kenangan, itung-itung juga untuk membantu perekonomian warga lokal Desa Sade. Kalau mau, mereka juga menawari untuk mencoba menenun. Mereka akan mengajari caranya dengan baik.

suku sasak desa sade
Nyari gelang

suku sasak desa sade
Proses menenun

Sebelum pulang, kami mampir ke salah satu rumah untuk membeli kain tenun berupa syal. Lumayan 100ribu dapat 3 biji. Selain kain tenun, mereka juga menjual aksesoris seperti gelang, kalung, kaos , dan lain-lain. Setelah puas berkeliling, kami berpamitan dengan Mas Jauhari.

Jujur, selama ini saya jarang banget berwisata budaya kek gini. Biasanya ya wisata alam. Saat ke Desa Sade saya sadar, kalau Indonesia itu bukan alamnya saja yang kaya. Tapi budayanya juga. Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke ada berapa suku yang menghuni negara ini. Dengan sejarahnya masing-masing, tradisi dan bahasa tiap daerahnya yang berbeda-beda tentu membuktikan kalau Indonesia itu kaya! Meski begitu, semuanya tetap satu, satu INDONESIA.


suku sasak desa sade
Monggo dipilih

Thursday, November 3, 2016

Bootcamp Aksa7 Ranu Regulo #2: Aksa7 Untuk Indonesia!

bootcamp aksa7 ranu regulo


Paginya saya terbangun jam 6 lebih. Padahal harusnya bangun jam 6 karena ada senam. Tapi lihat temen-temen di tenda masih pada tidur. Keluar tenda ternyata masih sepi, baru beberapa orang aja yang bangun. Berhubung hawa masih dingin, ngopi deh sambil nimbrung di dekat api unggun. Lalu pindah di dermaga dekat danau. Ranu Regulo diselimuti kabut tipis yang membuatnya seolah berasap, dan disinari matahari yang naik belum terlalu tinggi. Syahduuu…

Saat waktu menunjukkan jam 7, baru deh disuruh kumpul. Yang ngopi silahkan seruput, yang ngerokok monggo disedot sampai habis. Dan yang belum bangun, digubrak-gubrak sampai sadar. Kami berkumpul lagi di pinggir danau, membentuk setengah lingkaran. Dapat clue untuk memilih satu orang dari keluarga untuk menjadi instruktur senam. Rani yang biasanya malu-malu, langsung mengajukan diri. Wah tumben banget nih Rani.

Keluarga Rinjani Warriors yang diwakili oleh Hans, sukses saat menjadi instruktur yang membuat semua peserta tertawa dengan gaya senamnya yang lucu. Gerakannya pas banget dengan lagu Nepali yang di-play, judulnya “Resham Firiri”. Setelah 2 menit, gantian keluarga kami. Dan wooow! Semua dibuat terkejut dengan gerakan senamnya Rani. Mulusss, gerakannya mengalir seperti air. Nggak kalah sama Hans! Pantesan aja dia tadi tiba-tiba bersedia jadi perwakilan keluarga Bima Aksa. Ternyata Rani, mantab! Senam ditutup dengan gerakan asoynya Ranu. Dengan diiringi lagu dangdut, gerakannya malah bukan kayak senam, tapi joget. Tariiiiik mang!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Kumpul pagi

Kemudian acara dilanjut dengan konfigurasi huruf “INDONESIA”. Di Ranu Regulo ini kami kebagian huruf “O”. Setelah di selangi sarapan bareng, kami berpindah ke bagian pinggir danau yang lebih terbuka. Tiba-tiba saja kak Abex meminta saya untuk mengordinir peserta membentuk huruf. Waduh. Mana dia bilang kalau bentuk hurufnya jelek nanti nggak bakal dipakai di film lagi. Parah banget. Tanpa babibu saya langsung menginstruksikan semuanya untuk membentuk lingkaran dan berpegangan tangan. Lalu mundur sejauh-jauhnya supaya huruf “O”nya semakin lebar. Saya ambil beberapa orang untuk membentuk lingkaran kecil ditengahnya untuk membuat efek 3D. Jadi kayak donat gitu. Kemudian saya koordinasi dengan Bang Ivan yang sedang memainkan dronenya untuk melihat hurufnya. Huruf O sudah terbentuk dan… action!

Selagi drone terbang dan pengambilan gambar oleh Mang Ghagha dan Bang Ivan, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selain itu, kami juga membentangkan bendera merah putih berukuran jumbo. Kami diberi jimat sebagai pengesahan bahwa kami sudah menjadi Warriors Aksa7, menjadi keluarga besar Aksa7. Saya merinding ketika mengibarkan bendera sambil menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Jiwa nasionalisme saya seolah sedang berada dipuncaknya.

bootcamp aksa7 ranu regulo
Bendera merah putih ukuran jumbo

bootcamp aksa7 ranu regulo
Sok-sokan candid :))

Setelah membereskan tenda, packing dan makan bareng, kami kembali berkumpul di dekat danau. Ini nih sesi yang ditunggu-tunggu seluruh peserta. Pembagian doorprize! Gimana nggak ngiler, hadiahnya disponsiri eiger semua. Ada buff, sandal, daypack, kaos, kemeja flannel, jaket hingga carier. Yang pertama adalah pembagian untuk keluarga terbaik, yang dimenangkan oleh keluarga Nusantara. Masing-masing individu mendapat hadiah yang berbeda sesuai dari penilaian tim juri. Keluarga Nusantara beranggotakan kakak hitz selebgram Lia Luli, sang raja joget Ranu, Anggara, Mbak Yoi dan si peminum kopi sesajen Qsoet. Hhm, jangan-jangan mereka menang berkat Qsoet minum kopi sajen ya. Hehe. Pokoknya selamat lah buat kalian!

Selanjutnya adalah pemenang untuk peserta yang paling suprising. Yang diawal kelihatannya diam, tapi seiring dengan berjalannya acara dia menunjukkan bahwa dirinya sesuatu banget. Dan pemenangnya berasal dari keluarga Bima Aksa, yaitu Rani! Yeay! Kata-katamu saat mengelilingi api unggun itu keren banget, Ran! Tapi itu hanya salah satu poin dari banyak kejutanmu sepanjang bootcamp, sehingga juri memilih kamu. Selamat ya Rani!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Keluarga Nusantara

Hadiah masih ada, tinggal dua. Dan ini adalah hadiah utamanya. Jaket dan carier! Kata kak Abex, akan dipilih 5 kandidat yang nantinya ditandingkan lagi untuk memilih 2 pemenang. Kak Abex mulai memanggil nama kandidat satu per satu. Yang pertama dipanggil adalah Hanif. Yang kedua.. saya sendiri! Ya, saya gak salah denger. Kak Abex menyebut nama saya. Di situ saya kaget sekaligus senang. Yuhuuu. 3 kandidat berikutnya berturut-turut adalah Hans, Jasmine dan Lia Luli. Waduh, masuk kandidat lagi ini kakak hitz. Nah, dari 5 orang ini akan diuji dengan menjelaskan sebuah topik yang diberikan oleh kak Abex dalam waktu 2 menit.

Hans dapat giliran pertama, dia diminta menceritakan tentang Gunung Semeru, apapun itu yang berhubungan dengan Semeru. Lalu Liu Luli tentang Aksa 7, saya dengan topik SAVER, Jasmine menjelaskan Warriors Aksa7 dan terakhir Hanif mengenai bootcamp Aksa7. Untungnya saat sesi talkshow saya nundutan waktu nonton film bareng, bukan saat SAVER lagi jadi pembicara. Sehingga saya bisa menjelaskan dengan cukup lancar. Kira-kira begini yang saya jelaskan, sekalian share komunitas SAVER yah. Hehe!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Para kandidat juara terlihat tegang :v

“SAVER adalah sebuah komunitas yang peduli dengan Gunung Semeru. Yang beranggotakan orang-orang yang secara sukarela mau menggerakkan konservasi demi kelestarian Gunung Semeru. Bentuk kegiatannya antara lain adalah membriefing para pendaki Gunung Semeru sebelum berangkat. Mereka menjelaskan bagaimana kondisi Gunung Semeru, flora dan fauna apa saja yang ada disana, hingga hal-hal yang boleh dan tidak diperbolehkan ketika mendaki. Mereka juga rutin melakukan aksi bersih gunung. Dan kalau ada kejadian hilangnya pendaki mereka juga ikut membantu dalam operasi SAR”. Kurang lebih intinya seperti itu. Keren kan SAVER. Patut dicontoh.

Para juri lalu berdiskusi untuk memilih pemenangnya. Saya hanya tinggal berdoa semoga bisa dapat salah satunya. Hehehe. Satu per satu dieliminasi dengan cara ditepuk pundaknya (cewek) atau dipeluk (cowok) dari belakang oleh Bang Novel. Orang pertama dan kedua yang tereliminasi ditepuk pundaknya, yaitu Jasmine, kemudian Lia Luli. Waduhhh ini nih, kalau udah masuk 3 besar dan kalah, sakit banget pastinya. Mendingan kena eliminasi duluan. Hanif dan Hans, yang emang wataknya nggak bisa diam, diultimatum sama kak Abex. Karena kalau nggak diam, nanti bakal dieliminasi. Saya hanya bisa cengar-cengir. Hahaha!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Jimat Aksa7

Ketika suasana semakin menegangkan, Bang Novel sudah siap-siap untuk memeluk salah satu dari kami. Dan siapakah yang dipeluk Bang Novel…? Hans! Ya, bukan saya! Seketika saya dan Hanif lompat-lompat dan teriak kegirangan. Karena baik saya maupun Hanif, sudah pasti dapat hadiahnya. Tinggal menentukan saja siapa yang dapat carier dan siapa yang dapat jaket. Siapa yang sangka, dari awal kita berangkat bareng, eh taunya dapat hadiah bareng juga. Malah ada yang bilang kami couple-an lah, gara-gara kami sama-sama pakai kemeja flannel kotak-kotak dan nggak dikancing. Warnanya juga sama katanya. Padahal mah beda. Hahaha! Ono-ono ae ah!

Saat penentuan juara 1, saya dan Hanif cengar-cengir terus. Kak Abex berdiri diantara kami sambil memegang tangan kami. Aturannya, yang kalah tangannya akan diangkat oleh kak Abex. Aduh deg-degan banget sumpah. Saya hanya menundukkan kepala sambil berdoa. Dan kak Abex mengangkat tangan… Hanif! Ya, lagi-lagi bukan saya! Saat itu juga saya malah nggak bereaksi selama beberapa detik. Saya nggak sadar kalau saya menang, sumpah! Sampai ketika saya samar-samar mendengar ada yang bilang, “Loh, dia menang tapi kok diem aja”. Itu nggak tau siapa, tapi berkat dia saya seketika sadar kalau saya adalah pemenangnya. Begitu sadar, saya langsung sujud syukur! Nggak nyangka banget bisa dapat doorprize, carier lagi, eiger pula. Balik modaaal. Hehehe!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Alhamdulillah yah :))

Terlepas dari doorprize-nya yang keren-keren. Acara bootcamp Aksa7 benar-benar luar biasa. Bukan cuma seru, tapi penuh inspirasi. Banyak hal yang saya dapat dari acara Ranu Regulo ini. Memperluas wawasan, khususnya dibidang konservasi dan pergunungan. Dapat keluarga baru. Dari mereka semua, saya belajar untuk berani bermimpi, berani berkarya. Untuk diri sendiri, orang lain dan tentunya untuk tanah air Indonesia tercinta ini.
Aksa 7..
Together we’ll be cool!
Together we’ll be strong!!
Be the warriors!!!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Together we’ll be strong!!

bootcamp aksa7 ranu regulo
Bootcamp Ranu Regulo Petjaaah!!


video
video by Aksa7

Singkat cerita, sepulangnya dari acara bootcamp, semua peserta pun galon (gagal move on) hingga beberapa hari.

Thursday, October 27, 2016

Bootcamp Aksa7 Ranu Regulo #1: Seru nan Inspiratif!


Udah pada tau AKSA7? Ituloh 7 anak muda yang mendokumentasikan pendakian 7 gunung tertinggi (seven summits) di 7 Pulau di Indonesia dalam sebuah film layar lebar. Mulai dari Kerinci (Sumatera), Semeru (Jawa), Bukit Raya (Kalimantan), Rinjani (NTB), Latimojong (Sulawesi), Binaiya (Maluku) dan Cartenz Pyramid (Papua). Mereka membuat film ini secara independen. Oleh karena itu butuh perjuangan yang besar untuk merealisasikannya. Namun mereka tidak sendiri, banyak orang yang simpati dan membantu AKSA7 secara sukarela. Mereka disebut sebagai Warriors AKSA7.

Sekilas tentang AKSA7, untuk lebih lengkapnya bisa browsing atau follow social media-nya aja yaa. Dalam rangka melengkapi filmnya, AKSA7 memiliki ide kreatif dengan merajut kata ‘INDONESIA’ dengan mengadakan bootcamp di 9 kota berbeda. Nah, 17 – 18 September lalu bootcamp diadakan di Malang, tepatnya di Ranu Regulo. Saya lihat infonya hanya beberapa hari sebelum hari H. Begitu tahu, tanpa babibu saya langsung daftar! Di bootcamp Ranu Regulo, ada Kak Abex (@anak_bebek) dan komunitas SAVER (Sahabat Volunteer Semeru) yang menjadi pembicara. Kak Abex sendiri sekaligus merangkap menjadi MC.

Aksa 7

Pada hari sabtu kami diharuskan berkumpul pada meeting point di Tumpang. Saya berangkat menggunakan sepeda motor bersama Hanif (sesama warriors juga yang baru saya kenal di grup WA warriors). Sampai di TKP, peserta bootcamp sudah banyak yang tiba duluan. Setelah menunggu peserta lengkap, kami di briefing terlebih dahulu. Pada bootcamp kali ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Lalu tiap kelompok diberi sebuah clue. Dan dari tiap clue akan ada penilaian baik secara individu maupun kelompok. Nantinya penilaian itu digunakan sebagai hadiah doorprize diakhir acara. Yuhuu semangat cari poin!

Saya 1 kelompok dengan Rani (Malang), Hana (Tegal), Asyhab (Klaten) dan Novel (Batam). Untuk clue pertama, kami diminta untuk membuat nama kelompok (yang identik dengan Indonesia) beserta yel-yel. Bima Aksa menjadi nama kelompok kami berdasarkan hasil diskusi. Kenapa begitu? Bima, seorang tokoh cerita rakyat dari keluarga Pandawa dan kini menjadi tokoh pewayangan. Dia merupakan yang terkuat diantara saudaranya yang lain. Begitu juga dengan kami, kami ingin menjadi yang paling tangguh diantara kelompok yang lain. #eeaaa

Kami semua berangkat ke Ranu Pani dengan menumpak truk. Ini merupakan perjalanan pertama saya ke Ranu Pani sejak 3 tahun yang lalu saat mendaki Gunung Semeru. Melewati Gubugklakah, Ngadas hingga Jemplang dengan tanjakan yang tak ada habisnya. Masih terasa familiar dengan suasananya. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan hijaunya hutan dan ladang milik warga. Menyegarkan mata banget, ditambah udaranya yang dingin. Wohoo adem.

We’re ready!!!

Hijauuu

Tiba di Ranu Pani, ternyata sepi. Nggak tumpah ruah seperti yang saya lihat di instagram orang-orang. Maklum, kami ke sana bukan saat peak season. Di Ranu Pani kami di briefing dulu, tiap kelompok dipinjamkan tenda eiger ambush yang gede itu. Jadi ingat waktu ke Gunung Arjuna bawa tenda itu yang cuma diisi oleh 4 orang, alhasil space kosongnya masih buanyak. Bisa guling-guling, kayang, salto, dll. Kemudian kami lanjut ke tempat tujuan kami, Ranu Regulooo! Nggak jauh. Nggak sampai 5 menit udah sampai. Beberapa panitia sudah standby. Tenda pleton untuk kegiatan acara pun sudah berdiri. Suasana damai Ranu Regulo begitu terasa. Tentram. Syahduuu..

Kegiatan diawali dengan menyanyikan yel-yel masing-masing. Kelompok saya dapat giliran pertama dan sukses membawakan yel-yel dengan kompak. Malah paling kompak diantara yang lain kalau menurut saya sendiri. Itu berkat yel-yel kami yang terbilang pendek. Kelompok lainnya juga nggak kalah seru. Mereka membawakan yel-yel dengan menarik. Meski ada yang lupa lirik ditengah-tengah atau sambil lihat catatan. Makanya jangan panjang-panjang! Hehe!

Keluarga Rinjani Warrior lagi yel-yel

Setelah itu kami diberikan clue kedua yang intinya dalam waktu 1 jam disuruh membangun rumah untuk keluarga kami. Ya mulai dari situ kami menyebutnya sebagai keluarga, bukan kelompok. Biar kesan kebersamaannya lebih dapet gitu. Biar lebih mesraaa..

Ada sedikit kendala saat mendirikan tenda. Ketika rampung memasang seluruh frame pada tenda, posisi tenda malah miring. Sempat kami bongkar dan pasang ulang, tapi sama aja. Setelah dicari-cari, ternyata ada salah satu rangkaian frame yang rusak. Ealah. Mau sampai kambing bisa bertelur juga nggak bakal bisa seimbang. Lalu kami ngadu ke panitia, dan diganti dengan frame yang lain. Padahal saat itu tenda keluarga lain sudah berdiri dan dipasang flysheet. Sedangkan kami? Masih sejajar dengan tanah. Mana clue 2 salah satu penilaiannya berdasarkan kecepatan. Heueu..

Mau nggak mau kami mendirikan tenda dari awal. Baru aja pasang beberapa frame, kak Abex udah meminta kami untuk break sejenak dan berkumpul. Ternyata oh ternyata, kami diminta untuk menghadiri ritual adat yang dilakukan oleh Kepala Suku Tengger. Ritual ini diadakan istilahnya untuk meminta izin kalau kami akan melakukan kegiatan di kawasan Ranu Regulo. Katanya di kawasan ini pernah ada beberapa orang yang hilang dan bahkan belum ditemukan sampai saat ini. Padahal Ranu Regulo ini nggak jauh dari pemukiman warga Ranu Pani. Maka dari itu kami diwajibkan untuk berperilaku sopan dan mematuhi pantangan-pantangan yang ada. Seperti tidak boleh berbicara kotor, merusak alam, dll. Intinya jangan songong dah :))

Begitu ritual selesai, kami langsung menyerbu sesajen. Mulai dari nasi kuning, pisang, jajanan hingga kopi. Para warriors makan sesajen dengan sangat lahap. Kelihatan banget kalau mereka kelaparan. Sampai-sampai Qsoet, meminum kopi yang seharusnya nggak boleh. Ketika diberitahu kalau kopi itu nggak boleh diminum, dia kaget. Wajahnya penuh kekhawatiran. Mana kopinya udah habis setengah gelas. “Kalau sudah terlanjur ya sudah, nanti dibuatkan lagi kopi untuk sesajennya”, kata salah satu warga Ranu Pani. Aduh.. aya-aya wae ah sam Qsoet mah. Hahaha!

Serbuuu sajen

Kenyang makan sesajen, kami kembali lanjut membangun rumah. Sementara yang lain tinggal merapikan barang-barang di dalam tenda, kami masih berusaha mendirikan tenda. Alhasil, kami paling akhir sendiri. Meski keluarga kami udah dapat tambahan waktu, tetep aja pasangnya masih belum bener dan barang-barang dalam tenda masih berantakan.

Tiap keluarga mempresentasikan rumah masing-masing. Ada yang di depan tendanya dihias pakai balon, tumpukan-tumpukan kayu. Ada juga yang konsepnya go green. Wah keren-keren lah. Lalu saat giliran keluarga kami, saya yang kebagian jadi leader grup, bingung mau ngomong apa. Boro-boro mikirin konsepnya gimana, dekorasinya aja cuma majang selusin telur asinnya Hana. Tapi bukan telur asin sembarangan lho, karena ini telur asin panggang yang bertuliskan “Bima Aksa7”. Keren nggak tuh. Setelah ngarang ngalor ngidul tentang konsep rumah, diakhir saya berkata “Kalau dilihat, rumah kami emang nggak bisa dibilang bagus. Tapi yah kita nggak lihat hasilnya gimana, karena yang lebih penting kita hargai prosesnya.” #ngeles

Bima Aksa :))

Setelah break makan siang, kami diberi clue selanjutnya. Clue ketiga kita main panjang-panjangaaan. Itu loh games yang mengharuskan pemain menyambungkan benda apapun yang bisa dipakai dan tidak boleh putus. Dengan catatan, benda yang saat itu sedang dipakai atau dibawa. Kecuali tali rapiaaa. Karena ada tuh yang megang tali rapia, yang jelas bakal menang. Dapat bocoran dari mana coba.

Semua peserta mengeluarkan ide-ide kreatif dan gokiiilnya. Mulai dari tongsis, jaket, tali sepatu, tas slempang hingga celana dan baju digunakan untuk main games ini. Alhasil para peserta pria kebanyakan tinggal koloran doang. Begitu juga dengan saya. Saking nggak mau kalahnya, kami sampai menyambung badan dengan posisi tiduran. Yang kasihan Novel dan Asyhab, mereka tidurannya di semak-semak gitu. Masalahnya mereka kan udah lepas baju, jadi langsung bersentuhan dengan badan. Ya tinggal berdoa saja semoga nggak gatal-gatal. Tapi seru banget pokoknya deh!

Game balapan jalan di atas trash bag

Clue berikutnya, kami dapat challenge untuk membuat konfigurasi foto keluarga. Awalnya kami sempat bingung juga, lalu Novel punya ide dengan konsep foto candid bersama ibu-ibu warga lokal yang sedang memasak di tungku perapiannya. Saat presentasi, giliran Asyhab yang menjelaskan. Intinya konsep foto kami adalah bahwa Warriors Aksa7 itu nggak cuma asik-asikan sama sendiri aja, tapi kita melihat ke sekitar juga. Kami bisa dan mau berbaur dengan warga lokal. Karena kami berkegiatan di tempat orang lain, setidaknya kami harus ada interaksi dengan mereka. Begitu. Hehee!

Acara masih berlanjut dengan diberikan clue ke-5, tiap keluarga diminta untuk membuat sebuah games dan menuliskannya pada secarik kertas. Saat saya terka-terka, sepertinya ide tiap kelompok bakal ditukar dan harus memainkannya. Dan dugaan saya terbukti ketika kami mendapatkan games dengan clue “berdiri di atas kertas berukuran 4x6”. What??? Ukuran pas foto? Gimana caranya coba? Sambil memikirkan solusinya, keluarga yang lain kebagian giliran duluan. Ada yang dapat games mencari suara hewan. Ada juga yang persis seperti kami, bedanya mereka berdiri dilingkaran berdiameter 2 jengkal tangan.

Ketika giliran kami tiba, Novel langsung berdiri di atas kertas 4x6 dan games selesai! Semua kaget. Ada yang heran, ada yang ketawa dan ada juga yang protes. Kenapa bisa begitu? Karena dari hasil diskusi keluarga kami, pada cluenya nggak ada kata-kata yang mengharuskan semua anggota harus berdiri di kertas. Jadi kami menyimpulkan kalau satu orang ya nggak masalah dong. Sampai-sampai kak Abex bilang kalau kami ini nggak mau repot mikir, tapi yang kami lakukan ada benarnya juga. Iya gak sih? Hahaha!

Game apa ya ini, lupa :v

Duh :))

Pada jam 7 malam, setelah break beberapa saat, kami berkumpul di tenda pleton untuk mengikuti sesi acara selanjutnya. Acaranya adalah talkshow mengenai Aksa7 dan dari pembicara kak Abex serta SAVER. Ini adalah point utama dari acara bootcamp Aksa7. Kalau diceritain isi dari sesi talkshownya sih postingan ini bakal panjang banget. Intinya sih seru dan bermanfaat banget. Kalau kak Abex, dia cerita kehidupannya bagaimana bisa sampai jadi seperti sekarang ini. Temen-temen dari SAVER, berbagi ilmu tentang konservasi khususnya di Gunung Semeru. Lalu Bang Teguh, perwakilan dari Ekspeditor Aksa7, cerita-cerita tentang apa sih Aksa7 itu. Bagaimana awalnya punya mimpi membuat film dokumenter di tujuh gunung di Indonesia. Banyak deh. Pokoknya inspiratif banget! Selain itu, ada sesi nonton bareng film dokumenter pendakian 5 gunung di 5 benua berketinggian 5000an mdpl yang dilakukan oleh pendaki SAR UNHAS yang rata-rata berumur 50 tahun! Wow! Dari situ saya sadar, kalau usia bukanlah halangan untuk menggapai mimpi. Amazing! Dan yang paling penting sih… makaaaaan!

Sesi talkshow di tenda pleton

Malamnya, sekitar jam 12an. Kami digiring keluar tenda sambil masing-masing membawa lilin berputar mengelilingi api unggun (belum nyala). Di bawah bulan purnama yang cantik, kami mendengarkan kata-kata kak Abex yang bijak nan inspiratif. Mario Teguh mah lewat. Kak Abex memotivasi kami untuk berani bermimpi, berani berkarya, selalu menyebarkan energi positif untuk diri sendiri, orang lain dan tanah air tercinta ini. Suasana malam itu semakin romantis saat diiringi lagunya Iwan Fals, “Kemesraan”. Sambil berangkulan, kami seolah membentuk rantai baja yang kuat, yang tidak akan bisa putus. Kemudian lilin-lilin yang kami bawa digunakan untuk menyalakan api unggun. Aah, malam itu sungguh sesuatu banget!

video
video by mang @ghaghah24