Thursday, January 21, 2016

Backpacking ke Bali #1: Menjejakkan Kaki di Pulau Dewata

Bulan Agustus 2015 kemarin saya menjejakkan kaki di pulau dewata. Bersama 5 orang teman yang semuanya saya kenal saat berada di kampung inggris, Pare. Kami berangkat saat jadwal kursus di kampung inggris libur beberapa hari, dan trip ini di rencanakan seminggu sebelumnya.

Ke 5 teman saya ini masing-masing bernama Waluyo, Aji, Ito, Yusuf dan Deny. 4 orang dari kami orang Sunda, kecuali Deny dari Jakarta dan Bang Ito yang asli Balikpapan. Semuanya sudah bekerja, kecuali saya yang berstatus mahasiswa. Ini juga jadi ajang kami menguji kemampuan Bahasa Inggris kami. Secara Bali kan banyak bule gitu, bisalah di ajak ngobrol setelah 2 minggu di Pare. Ya minimal bisa yes no yes no udah lumayanlah.

Kampung Inggris Pare
Mejeng Depan Camp
Dari kiri: saya, Bang Waluyo, Yusuf, Aji, Deny, Bang Ito

Sabtu jam 10 pagi, dari Pare kami menuju Malang menggunakan bus. Sekitar 3 jam. Lalu dilanjut naik kereta dengan estimasi waktu 7 jam, dan sampai di Banyuwangi jam 11 malam. Lama juga tuh. Paling males emang di kereta berjam-jam gitu. Akhirnya cara membunuh waktu selain ngobrol ngalor ngidul atau nyusurin gerbong kereta, ya tidur.

Stasiun Malang Kota Baru
Stasiun Malang

Kami tiba di stasiun BWI sekitar jam 11 malam. Setelah itu jalan kaki ke Pelabuhan Ketapang, deket cuma 1 km, 15 menit sampai. Abis itu langsung naik ferry, dan sampai Pelabuhan Gilimanuk 1 jam kemudian. Di Gilimanuk ini bakal di cek identitas, harus KTP. Tulisannya sih identitas. Tapi sewaktu dulu saya ke Rinjani lewat sini juga, temen saya Rahman nggak ada KTP dan dia nunjukkin SIM. Eh di tolak, dia di tahan untuk beberapa saat. Ngeselin nggak tuh, SIM juga pan identitas keleus.

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Pelabuhan Ketapang

Perjalanan belum berakhir, dari gilimanuk kami naik bus lagi selama 4 jam ke terminal Ubung. Berapa jam tuh dari titik awal Pare sampai Ubung? Hampir 20 jam! Mana nggak bawa antimo. Mabok sudah!

Yah kami akhirnya tiba di Ubung pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Disana kami istirahat sambil nyarap dulu dan cari rental motor. Sebelumnya kami udah booking sih, di rental yang dapat dari internet. Tapi karena posisinya bukan di Ubung, jadi harus di antar dulu segala macem. Bayarnya juga jadi nambah. Kan malesin. Untungnya kami nemu di terminal ada 1 tempat rental, tapi sayangnya masih tutup. Rupanya kami emang lagi beruntung, ruko tetangga tempat rental itu buka dan si empunya ruko menelpon pemilik rental itu. Setelah menunggu lumayan lama, orangnya datang. Langsung deh urus sewa 3 motor untuk 2 hari, harganya kami dapat 50rb/hari/motor. Jauh lebih murah dari rental yang sebelumnya, dan yang penting, ga pake ribet.

Setelah siap, kami pun berangkat. Pantai Sanur jadi tujuan pertama kami, letaknya nggak terlalu jauh dari Ubung. Jalannya juga tinggal ngikutin plang yang ada di sepanjang jalan. Jadi, nggak ada acara nyasar-nyasar dulu.

Setibanya di Sanur, suasananya rame banget. Kami langsung ke pantainya. Pantainya sih biasa, ada pasir putih, terus air, ada ombak, kapal. Hhm sama aja kayak pantai-pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya di Malang. Bedanya, di sini banyak sumur! Ehm, if you know what i mean lah..

Panta Sanur Bali.
Sanur Beach

Nggak terlalu menarik bagi kami, nggak ada rencana nyebur ke pantai juga. Lagian saya nggak bisa renang. Jadi sampai situ kami bengong doang. Daripada mati gaya, kami coba nyusurin pantainya. Kecuali Bang Waluyo yang nyari makan, mau coba makan seafood disitu. Padahal dia udah makan di terminal Ubung.

Saat nyusurin pantai, ternyata ini pantai glamour banget. Sepanjang pantai, sampingnya berjejer hotel-hotel dan resto-resto mewah. Bikin ngiler kami yang backpackeran gini. Biar kelihatan gaya, kami foto-foto di spot yang keliatannya oke di sekitar hotel. Salah satunya, berpose di kursi berjemur dekat kolam renang punya salah satu hotel disitu. Nggak tau deh itu boleh apa nggak, kami mah pasang muka tembok aja.


Kursi jemur, Nuda Dua Bali, Indonesia
Dikursi berjemur

Pantai Sanur Bali
Ada yang bagus dikit, jepret!

Setelah dirasa cukup kami balik dan ketemuan lagi sama Bang Waluyo. Meskipun sebenernya itu pantai masih panjang dan mungkin ada tempat menarik lagi untuk narsis. Tapi capek. Panas, mana jalan kaki pula.

Oiya sampai selesai nyusurin pantai kami belum juga nguji English kami. Selain keliatannya bule-bulenya pada ngga bisa di ajak ngobrol karena mereka lagi melakukan sesuatu, kami juga kayaknya ngga ada yang berani mulai. 

Lagi nunggu Bang Waluyo, tiba-tiba Aji berbisik “Ham, pang motokeun urang geh”. Dikira mau foto dimana, taunya dia mau foto sama bule. Nggak jauh dari kami ada cewek bule sendirian lagi bengong. Aji nyamperin dan ngajak ngobrol, terus foto bareng. Njirrr..

Pantai Sanur Bali
Aji dapet satu

Abis itu kami berlima gantian ngajak ngomong sama bule itu. Terus Bang Ito ngegombal, "Miss, I think you look beautiful without sunglasses". Bule itu senyum-senyum malu gitu, dan Bang Ito membawa pulang bule itu, eh foto bareng sama bule maksudnya. Beuh gilaaa Bang Ito.

Kami terus ngobrol sampai pacar si cewek bule itu datang. Kami berkenalan dan ngobrol sebentar dengannya, lalu mereka pergi. Nggak lama Bang Waluyo datang dan bilang abis makan seafood, yang enak banget gitu. Iya bang percaya. Cerita doang nih, nggak bagi-bagi?

Lalu kami melanjutkan perjalanan kami ke destinasi selanjutnya..

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment