Monday, January 25, 2016

Lambosir, Dulu dan Kini

Lambosir, sebuah bukit di lereng Gunung Ciremai. Dulu, bukit ini menjadi tempat favorit hiking saya. Pertama kali kesana saat saya masih SD, saya lupa kelas berapa. Pokoknya saat masih bocah, tapi nggak ingusan. Saat itu saya diajak oleh kakak laki-laki saya, Yuri. Dia yang kala itu masih SMA, bersama teman-temannya berencana hiking ke Lambosir. Sebuah tempat yang masih asing di telinga saya.

Ketika itu kami berangkat naik angkutan Desa Cilimus – Linggajati, dan turun di Desa Setianegara. Lalu perjalanan dilanjut dengan berjalan kaki. Diawali dengan melewati perkampungan Desa Setianegara, lalu kami mulai memasuki kawasan hutan yang lumayan rapat vegetasinya. Tapi nggak lama, medan berubah menjadi sangat terbuka. Mulai dari situ pemandangan menjadi menarik, saya jadi tambah semangat. Ini pertama kalinya saya ke gunung, yah meskipun cuma ke bukit.

Disepanjang perjalanan saya melihat banyak rumput ilalang yang tumbuh lebih tinggi dari badan saya. Kalau di sawah dekat rumah, rumput ilalangnya pendek-pendek, nggak ada yang sampai setinggi saya. Saya benar-benar excited! Saya nggak merasa capek, biarpun itu hiking pertama saya. Yang ada saya malah senang bukan kepalang bisa lihat keindahan alam disana. Pengalaman baru bagi saya.

Kemudian ditengah perjalanan, kami terpisah menjadi 2 kelompok. Saya, Yuri dan Aldi mengikuti jalan setapak yang udah ada. Sedangkan yang lain nyoba-nyoba jalan lain, jalan lewat situ lebih cepat katanya. Jalan pintas. Lalu siapa yang sampai duluan? Kami. Mereka yang katanya lewat jalan pintas malah belum kelihatan batang idungnya satu orang pun.

Dulu di bukit lambosir nggak ada apa-apa, cuma ada sebuah tower, bukan tower ranger ya. Pemandangan disitu keren abis. Disekitarnya juga masih rimbun oleh semak-semak dan pepohonan yang nggak terlalu tinggi. Lalu kami naik ke tower, supaya dapat sudut pandang yang lebih luas. Apa yang kami lihat? Panorama alam yang sungguh luar biasa keren. Hijaunya alam membuat mata jadi seger. Gunung Ciremai terlihat menjulang tinggi dengan gagahnya. Di kejauhan, rumah-rumah terlihat sangat kecil.

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Gunung Ciremai

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Panorama dari bukit, hijau

Selain itu kami lihat ada sesuatu yang gerak-gerak gitu di semak-semak. Kami kira apaan, ternyata itu teman-teman kami yang lewat jalan pintas, mereka nyasar. Kukurusukan ke semak-semak gitu. Jalan setapak yang mereka lewati itu nggak panjang, berganti jadi semak belukar. Untungnya kami bisa melihat mereka dengan jelas. Dari atas tower kami berteriak mengarahkan mereka supaya sampai di Lambosir.

Ini kesan pertama saya pada dunia hiking. Seru, asyik, menyenangkan pokoknya deh, meskipun capek-capek dikit tapi terbayar dengan rasa takjub akan keindahan panoramanya. Sedangkan kesan pertama saya terhadap Lambosir, tempat yang keren abis, sepi nan menentramkan jiwa. Udaranya juga sejuk-sejuk seger khas Gunung Ciremai.

Beberapa tahun setelah itu, saya nggak pernah main-main lagi ke Lambosir. Masalahnya hiking aja nggak pernah. Apalagi setelah Yuri kuliah di luar kota, nggak ada yang ngajak. Temen sehobi juga nggak punya.

Sampai akhirnya saat masuk SMA, saya seperti menemukan kembali jiwa petualang saya yang lama tertidur. Saya menemukan 2 teman sehobi, Heri dan Haryanto. Bersama mereka kami sering ngebolang di sekitaran lereng gunung ciremai. Termasuk Lambosir. Ya, setelah sekian lama akhirnya saya bisa kembali kesana.

Nggak banyak yang berubah dari bukit itu. Suasananya tetap sepi, nggak ada orang. Cocok banget emang buat nyari ketenangan. Yang berubah adalah tower, towernya rusak. Lalu ada sebuah bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Saya nggak tau itu bangunan untuk apa.

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Pondoknya saat sudah rampung

Pernah saya kesana saat kondisinya abis kebakaran. Sangat memprihatinkan, sepanjang jalan beberapa ratus meter sebelumnya hangus terbakar. Lalu di kejauhan dari Lambosir, terlihat jelas api sangat besar yang masih melalap hutan Ciremai. Ngeri. Daerah situ memang rawan kebakaran saat musim kemarau.

Setelah lulus SMA, saya nggak pernah lagi hiking ke Lambosir. Sampai akhirnya bulan Juli tahun lalu saya melihat di instagram, ada orang foto di Lambosir. Lalu saya iseng-iseng cari, ternyata banyak banget orang yang foto-foto di Lambosir. Saya kaget, mulut saya menganga, idung saya kembang kempis. Lambosir jadi ngehits gitu.

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Batu yang biasa di pake foto

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Tempatnya terbuka sekali

Mumpung lagi liburan di rumah, saya main kesana. Ternyata untuk menuju kesana saat ini bisa pake kendaraan. Bukan cuma motor, mobil juga bisa. Saat saya sampai disana, kondisinya udah beda banget. Bangunan yang dulu belum jadi itu ternyata sebuah pondok, yang biasanya digunakan sebagai tempat bagi pihak dari pengelola yang berjaga. Tapi bisa juga dipake wisatawan untuk sekedar duduk-duduk, ngopi-ngopi ataupun molor.

Suasananya juga rame, banyak orang yang main kesitu. Lambosir kini jadi tempat eko-wisata dan eko-pendidikan. Di sekitarnya ada persemaian dan penanaman bermacam-macam bibit pohon. Jenis pohonnya sendiri adalah tanaman endemik Gunung Ciremai.

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Lagi pada selfie

Persemaian Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Persemaian bibit tanaman

Saya ingat-ingat saat pertama kali ke Lambosir, kondisinya udah beda 180 derajat. Dulu bukit ini sepi banget, tiap kali kesana pasti nggak ada orang lain. Kalau sekarang mah rame. Terus kalau mau kesana sekarang jadi praktis sih, bisa naik motor, nggak capek. Tapi tetep aja lebih seru trekking. Pan kalau naik motor mah bukan hiking namanya. Lalu yang beda lagi adalah kalau kesana harus bayar, ditarik tiket masuk. Dulu mah boro-boro, ada orang juga nggak.

Saya sempat terlintas di pikiran, kalau Lambosir dibuat seperti ini takutnya alam Lambosir nanti rusak. Kayak tempat wisata alam lain di Indonesia yang nggak terjaga. Biasa, masalah sampah. Nggak masalah sebenernya. Dengan kondisi seperti sekarang, orang-orang jadi bisa menikmati alam di Bukit Lambosir dengan akses dan fasilitas yang memadai.

Emang sih ada penjaganya disitu yang ngawasin wisatawan, mereka juga yang jaga dan bersihin kalau ada sampah berserakan dari wisatawan yang nggak bertanggung jawab. Tapi tetep aja, yang kayak gitu harus dari diri sendiri. Harus ada kesadaran. Kalau berkunjung ke alam jangan cuma menikmatinya saja, tapi harus melestarikannya juga.

Yah, semoga saja wisatawan yang datang bisa bersikap santun. Semoga bisa melestarikannya sehingga generasi selanjutnya tetap bisa menikmati keindahan alam di Bukit Lambosir ini. Supaya keindahannya nggak hilang. Dengan kondisi seperti ini saja saya udah kehilangan sesuatu dari Lambosir, yaitu sepi.

Bukit Lambosir Gunung Ciremai
Gaya dikit

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment