Coban Sewu, Air Terjun Mengagumkan dan Membingungkan

08:15 Ilham Firdaus 0 Comments

coban sewu

Coban Sewu belakangan ini sudah ramai banget diperbincangkan. Apalagi kalau bukan karena pesonanya yang mengagumkan. Siapapun pasti akan terbuai akan keindahannya. Tapi Coban Sewu juga ternyata membingungkan. Kenapa? Simak cerita saya.. Hehe!

Coban Sewu atau biasa disebut juga sebagai Air Terjun Tumpak Sewu berada di perbatasan antara Malang dan Lumajang. Perbedaan penamaannya juga berasal dari lokasi pintu masuknya. Pintu masuk dari Malang menyebutnya sebagai Coban Sewu, sedangkan dari Lumajang adalah Air Terjun Tumpak Sewu. Coban yang artinya air terjun dan sewu yang berarti seribu. Tidak berlebihan, karena memang banyak banget aliran air terjun yang berada di kawasan itu.

Idul Adha tahun lalu, kebetulan tepat hari kamis yang membuat saat itu menjadi long weekend. Saya bersama seorang teman, Cahyadi, melakukan long trip dari Malang menuju Jember. Lalu kembali ke Malang lewat Probolinggo, dan itu kami lakukan dengan motoran.

Ba’da shalat Id, kami berangkat. Dari Malang Kota kami menuju Dampit dan lanjut ke arah Lumajang. Awalnya saya maupun Cahyadi cuma tahu kalau Coban Sewu itu berada di Lumajang. Namun setelah melewati Dampit dan masih di Kabupaten Malang, kami melihat banner yang bertuliskan “Coban Sewu” dengan gambar pemandangan air terjun yang familiar bagi saya. Kami berdua bingung. Karena setahu kami Coban Sewu adanya di Lumajang bukan di Malang. Sehingga saya berpikir kalau air terjun yang bernama “Coban Sewu” itu ada 2. Di Malang satu dan di Lumajang satu.

Karena penasaran, kami pergi kesana. Kami sempat bertanya pada salah satu ibu-ibu yang lagi ngegosip.

“Maaf Bu numpang tanya. Kalau ke Coban Sewu bener kesini?”, tanya saya.

“Iya mas bener. Sampean ikutin aja jalannya, nggak jauh kok”, jawab ibu gosip.

Untuk memastikan kalau Coban Sewu itu Tumpak Sewu atau bukan, saya nanya lagi.

“Bu, kalau Coban Sewu sama Tumpak Sewu itu sama?”, tanya saya lagi.

Si ibu kebingungan, lalu nanya sama temennya. Lalu temennya jawab “iya sama mas”, tapi dengan nada nggak yakin dan raut wajah yang bingung juga. Wah ibu-ibu ini kayaknya nggak tahu. Dari pada kelamaan, kami pun pergi sambil mengucapkan terima kasih. Kami pun berasumsi kalau itu air terjun yang berbeda dengan yang kami tuju.

coban sewu
Abadikan Momenmu!

Nggak sampai 5 menit, kami sampai di tempat parkir dan pintu masuk Coban Sewu. Setelah bayar tiket seharga 5rb/org, kami harus trekking menuju lokasi air terjun. Btw, saat itu saya bawa carrier 70+5L. Soalnya kami bawa tenda untuk tempat bermalam kami. Camp di bawah air terjun. Nggak deng, yakali emang mau meditasi.

Setelah trekking sekitar 10-15 menit, kami udah bisa lihat air terjunnya dari atas. Saya heran, begitu juga Cahyadi. Karena dari info-info yang kami dapat, untuk menuju Coban Sewu harus trekking sekitar 1 jam. Lah ini 15 menit udah nyampe. Saya semakin berpikir kalau itu bukanlah air terjun destinasi kami. Tapi kalau lihat air terjun itu, panoramanya seperti yang sering saya lihat di internet. Familiar banget. Saya bingung, browsing di internet tapi nggak ada sinyal. Saya stress, nanya Cahyadi tapi dia juga nggak tahu. Beuh..

Ah bodo amat, dari pada bingung mikirin itu kami putuskan untuk melihat air terjun dari bawah. Trek yang dilalui untuk turun ke Coban Sewu adalah jalan yang dibuat oleh warga berupa tangga-tangga yang terbuat dari bambu. Hanya muat untuk 1 orang dan harus ekstra hati-hati saat menuruninya, karena jatuh puluhan meter ke permukaan tanah adalah bukan pilihan. Sebelumnya saya titipkan carier di salah satu warung di sekitar situ, karena nggak memungkinkan turun sambil gendong carier.

Saat tiba di bawah, derasnya suara air terjun dari berbagai titik bergemuruh sebelum kami bisa melihatnya. Karena terhalang batu besar dan harus trekking sedikit lagi melewati sungai kecil. Setelah melewati batu besar kami baru bisa melihat keindahan seribu air terjun dengan disambut oleh percikan airnya. Saya dengan sigap menyimpan kamera DSLR yang sedang saya gunakan karena khawatir basah kena cipratan air. Maklum, kamera pinjaman. Punya teman saya, Saipud. Ganti dengan mengeluarkan kamera pocket untuk mengabadikan momen.

coban sewu
Coban Sewu dari bawah

coban sewu
Aliran lainnya

Suasana di sana ramai, maklum lagi pada libur Idul Adha. Orang-orang butuh piknik. Ada sekelompok remaja, ada pasutri bersama anaknya, sampai yang kakek-nenek juga ada. Apalagi yang pacaran, banyak. Dan yang jomblo juga ada ternyata! Ya, saya sendiri.

coban sewu
yang pacaran lagi selfie

coban sewu
Rame euy

Sampai saat itu, kami masih berpikir kalau air terjun yang di depan mata kami ini bukanlah Coban Sewu tujuan kami. Karena itu, kami nggak berlama-lama di sana. Setelah menikmati keindahannya dari bawah sambil mengabadikan momen, kami kembali naik.

Ketika akan naik tangga bambu yang sebelumnya kami turuni, kami melihat ada beberapa orang datang dari arah yang berbeda. Mereka tidak datang dengan turun melewati tangga bambu, melainkan melewati jalan di sepanjang aliran sungai. Sambil terus naik, saya dan Cahyadi berdebat apa itu adalah Coban Sewu yang selama ini jadi tujuan kami. Kalau iya, ngapain kami buru-buru.

Saya mengingat-ingat foto-foto di internet yang pernah saya lihat. Air terjun itu mirip banget sama yang ada di internet. Saya yakin. Begitu juga dengan Cahyadi. Kami pun tetapkan kalau saat itu kami sedang berada di Coban Sewu tujuan kami. Kami menyesal karena terlalu buru-buru saat di bawah. Tapi karena sudah terlanjur, ya sudahlah. Balik turun lagi juga males. Akhirnya kami istirahat di warung yang saya titipi carier. Sambil makan gorengan dan minum jus jeruk bentuk sachet alias nut*isari.

Lalu kami meninggalkan Coban Sewu untuk melanjutkan perjalanan ke Lumajang. Di perjalanan, ketika sudah melewati perbatasan antara Malang dan Lumajang, saya melihat banner bertuliskan Tumpak Sewu! Ya, saya baru benar-benar yakin kalau Coban Sewu dan Tumpak Sewu adalah air terjun yang sama.

coban sewu
Tuh dengerin

0 comments: