Friday, May 27, 2016

Gunung Papandayan #1: Pendakian Selow Memanjakkan Mata

camp david papandayan


Papandayan, sebuah gunung yang berada di Garut ini ketinggiannya emang nggak sampai 3000an mdpl, hanya 2665 mdpl (wikipedia). Dengan fakta itu pula, katanya gunung ini cocok bagi yang baru mau mulai mendaki. Karena penasaran, saya nyoba untuk membuktikannya. Secara saya juga masih pemula. Hehe..

Musim panas tahun 2015 lalu, saya iseng-iseng ikut open trip. Yah meskipun kalau di itung-itung budget jauh lebih murah kalau berangkat secara independen. Tapi kala itu saya rada males bawa tenda dan peralatan masak (kompor, nesting, butana). Nah, kalau open trip kan tinggal bawa alat pribadi doang. Maka dari itu juga saya cuma bawa carier ukuran 40L, biasanya saya bawa kulkas alias carier ukuran 70+5L.

Meeting point kami di Terminal Guntur, Garut. Saya berangkat ke Garut lewat Bandung. Dari Kuningan berangkat ba'da duhur naik damri, lalu di lanjut dari Bandung naik mobil elp ke Garut. Awalnya saya pengen berangkat agak malam dari Bandung, supaya sampai di Terminal Guntur paginya gitu. Tapi karena watir nggak ada kendaraan umum kalau kemalaman, jam 7 saya udah caww. Lalu sampai Terminal Guntur sekitar jam 10 malam. Itu pun pakai acara dibangunin kenek pula akibat ketiduran. Untung nggak bablas. Nuhun mang!

Sampai terminal saya mlongo. Janjian ketemunya subuh, tapi jam 10 saya udah di TKP. Nunggu dimana coba. Mana sendirian, masih lama pula. Dari pada bengong terus, belum shalat Isya juga, saya nyari mushola. Dan mushola itulah yang menjadi tempat peristirahatan saya. Alhamdulillah.

Musholanya kecil, dan disitu udah ada penghuninya. Dua orang bapak-bapak yang sedang tidur. Saya nyari lokasi di pojokan, lalu mencoba untuk tidur. Baru merem beberapa menit, belum berpindah ke alam lain. Eh, tiba-tiba ada bunyi yang nggak mengenakkan. Bunyi kentut! Salah satu dari bapak-bapak itu kentut. Parah banget. Udah tau mushola sempit, maen kentut aja. Daripada menghirup gas yang mungkin aja baunya mematikan, saya nahan napas beberapa saat. Setelah mengira-ngira situasi udah aman, saya napas kembali. Fiuh leganya..

Lalu nggak lama, giliran saya yang pengen kentut. Tapi karena sungkan, saya keluarin sedikit-sedikit biar nggak bunyi. Eh taunya kentut saya mlepus (baca: nggak bunyi). Tau sendiri kan kalau kentut nggak bunyi itu biasanya bau. Dan ternyata iya bau. Saya yang terbiasa dengan kentut sendiri aja, kali ini kecium aroma busuk. Apalagi bapak-bapak itu. Entahlah gimana nasibnya. Kalau emang tidur paling nggak kerasa, tapi kalau belum. Heu hapunten pak!

Setelah tidur melewati malam yang panjang. Sekitar jam 4 pagi saya kebangun karena ada orang yang masuk mushola. Mereka pendaki juga. Ternyata jam segitu baru pada datang orang-orang yang mau ndaki. Saya pun bangun dan keluar, karena sungkan tidur sedangkan ada orang yang mau shalat. Setelah nunggu beberapa saat, saya di telpon oleh guide dari operator jasa open trip yang saya ikuti. Lalu kami bertemu di mushola. Selain saya, ada 4 orang lain yang ikut. 2 orang dari tangerang, yaitu Salman dan Ivan. 2 orang dari Jakarta, Iqbal dan Marsha. Dan 1 lagi Fikri, guide kami.

Kemudian kami berangkat naik angkot ke pertigaan pasar Cisurupan. Di situ ramai, udah banyak pendaki yang duluan ke situ. Kami dan para pendaki lain istirahat di masjid di sekitar situ sambil nunggu subuh. Sekitar jam 7, kami berangkat ke camp david dengan menyewa mobil pick up.

Di perjalanan menuju camp david, suasana pegunungannya udah terasa banget. Udara pagi itu sejuk-sejuk seger, bikin nggak sabar buat ndaki. Di Camp David yang merupakan titik awal keberangkatan pendaki, beda jauh dari gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia. Biasanya, cuma ada tempat untuk mengurus simaksi pendakian dan warung yang jumlahnya bisa dihitung sama jari. Lah di Camp David, tempatnya wisata banget. Warung makan dimana-mana, yang jual souvenir bertemakan Papandayan juga banyak. Justru ngurus simaksi nggak dilakukan di sana, melainkan di sebuah pos di tengah perjalanan saat naik mobil pick up.

camp david papandayan
Camp David

camp david papandayan
Jepret dulu sebelum berangkat
Dari kiri: saya, Ivan, Iqbal, Marsha, Salman dan Fikri

Sebelum berangkat, kami sempatkan sarapan dulu supaya ada tenaga untuk mendaki. Setelah itu kami memulai mendaki bersama puluhan pendaki lainnya. Perjalanan diawali dengan melewati kawasan kawah papandayan. Belum apa-apa udah ketemu kawah, cepatnya. Suantai, itu bukan puncak. Kalau di gunung berapi lainnya emang sih kalau sampai puncak, pasti kawahnya juga di situ. Tapi Papandayan lain, kawahnya ada di awal rute pendakian.

Bau belerang di situ sangat menyengat. Saya sarankan untuk menggunakan masker saat melewati kawasan itu. Dari kawahnya asap ngebul terus-menerus, dari kejauhan saja udah kelihatan. Ada juga aliran sungai yang mengalir di sekitar situ. Tapi jangan diminum! Airnya udah jelas mengandung belerang.

kawah papandayan
Kawasan Kawah Papandayan

Saat melewati kawasan kawah, kondisinya gersang. Panas. Jangan harap ada pepohonan, yang ada hanya batuan vulkanik yang tersebar dimana-mana. Mulai dari yang berukuran kerikil sampai yang ukurannya lebih besar dari badan saya.

Nggak jauh dari kawah, di atasnya sudah menunggu beberapa warung yang siap untuk disinggahi kalau merasa capek. Bisa ikut berteduh dari gersangnya kawasan kawah. Sambil membeli minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan. Tapi kalau kami sendiri lebih memilih berteduh di bawah pohon dan minum air mineral yang kami bawa sendiri. Hehe..

Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan dengan mlipir melewati sebuah jalan sempit yang di samping sebelah kanannya adalah jurang. Tapi jurangnya tidak terlalu tinggi. Bahkan di permukaan tanahnya terdapat beberapa tulisan yang dibuat oleh susunan batu.

Medan berubah drastis setelah mlipir jalan di samping jurang itu. Jika sebelumnya kami melewati kawasan kawah yang gersang nan panas, setelah itu medannya menjadi sangat hijau karena rimbunnya pepohonan. Udara pun menjadi segar. Selain itu kami bisa berlindung dari sengatan sinar matahari. Di tengah perjalanan mengalir sebuah sungai yang membuat para pendaki berhenti. Istirahat sejenak untuk sekedar menyegarkan diri dengan membasuh muka dan kepala.

mlipir jurang papandayan
Mlipir jalan pinggirnya jurang

sungai papandayan
Lewat sungai

Sekitar 45 menit berjalan, kami tiba di sebuah titik yang sangat ramai, itulah pos 2. Ada beberapa warung yang menjual berbagai jajanan. Bahkan, ada juga tukang cilok! Pos 2 adalah titik pertemuan antara jalur pendakian Gunung Papandayan via Cisurupan, Garut, dan dari Pangalengan, Bandung. Di titik itu pula persimpangan untuk menuju Pondok Saladah atau Gobber Hut yang merupakan lokasi camping ground. Ketika tiba di pos 2 wajib untuk melapor kepada petugas yang berjaga.

tukang cilok papandayan
Jajan Cilok

Kami akan mendirikan tenda di Pondok Saladah, karena searah dengan Kawah Mati dan Tegal Alun yang merupakan tujuan kami selanjutnya. Sedangkan Gobber Hut lokasinya berlawanan arah. Perjalanan ke Pondok Saladah tidak terlalu jauh. Sekitar 30 menit melewati hutan dengan jalannya yang berdebu. Lebih baik menggunakan masker supaya debu tidak masuk ke hidung atau mulut.

Setibanya di Pondok Saladah, suasananya ramai-ramai lancar. Puluhan tenda sudah berdiri. Juga ada beberapa warung yang menawarkan minuman segar rasa-rasa yang menggoda. Tapi tetap, minum air dari sumber mata air di gunung lebih menyegarkan.

pondok saladah papandayan
Pondok Seladah

Tanpa berlama-lama kami pun langsung mendirikan 2 tenda yang dibawa oleh Fikri. 1 tenda kapasitas 4 orang dan 1 lagi cukup untuk 2 orang. Saat itu menunjukkan jam ½ 11. Belum tengah hari, tapi panas matahari yang entah berapa derajat sudah seperti memanggang saya.

Setelah tenda berdiri, kami semua masuk ke dalam untuk beristirahat. Ini pendakian tersingkat saya selama saya berkecimpung dalam dunia pendakian. Biasanya, saya mulai mendaki di pagi hari dan baru mendirikan tenda ketika sore atau malamnya. Tapi di Papandayan, saat waktu belum jam 12 siang, tenda udah berdiri dan tinggal istirahat. Nikmatnya...

papandayan v alpen
Mirip Pegunungan Alpen

pondok saladah papandayan
Ada adek kecil naik gunung

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment