Tuesday, June 28, 2016

Menyambut Mentari di Gunung Mahawu

gunung mahawu

Setelah asyik berpacu adrenalin dengan jeram di Sungai Nimanga, agenda kami berikutnya adalah mendaki Gunung Mahawu di Tomohon. Di sana kami menginap di Hotel Gardenia Inn. Tempatnya apik. Masing-masing kami tidur berdua di satu kamar. Bukan kamar, sih, lebih tepatnya sebuah “rumah mini” dengan satu ruangan kamar tidur, kamar mandi yang luas dan sebuah teras yang “pas” untuk menikmati udara segar khas pegunungan. Jarak antar rumah 5 meter. Di sekitarnya terhampar halaman berumput yang luas dan tertata rapi lengkap dengan tanaman hiasnya. Lokasinya yang jauh dari kota membuat udaranya segar dan bebas polusi. Nggak cuma itu, berada di daerah pegunungan membuatnya terbebas dari polusi cahaya, sehingga ketika malam hari terlihat jutaan bintang bertaburan di langit. Malam itu kami tidur cepat, karena kami akan mendaki berburu sunrise pada esok dini harinya.

gardenia inn tomohon
Pekarangan hotel Gardenia Inn

Jam 1 dini hari, alarm ponsel Dena berbunyi. Saya terbangun, tapi karena rasa kantuk yang terlalu kuat, saya kembali tidur. Berkali-kali alarm ponsel saya dan Dena bunyi bergantian, tapi teteup saya malas beranjak dari ranjang. Udah pewe banget. Mana udara malam itu dingin, eh kasur hotelnya bikin betah, susah deh buat bangun. Hingga saat waktu menunjukkan jam 2.30 saya benar-benar bangun akibat terpaksa harus memenuhi panggilan alam yang nggak bisa ditunda. Setelah itu saya membangunkan Dena yang masih dalam mimpinya untuk bersiap-siap. Sekitar jam 3, kami berkumpul untuk menuju ke Gunung Mahawu.

Ada 2 jalur untuk mendaki Gunung Mahawu. Pertama, jalur wisata banget yang bisa ditempuh “hanya” dengan waktu 10 menit. Dengan melewati tangga beton yang dilengkapi dengan pegangan di tengahnya. Yang kedua adalah jalur seperti gunung-gunung lainnya dengan melewati jalan makadam dan jalan setapak. Waktu tempuhnya sendiri paling lama 2 jam perjalanan. Untuk naiknya kami lewat jalur kedua, sedangkan pulangnya kami lewat jalur 10 menit.

Kami diantar menggunakan mobil elp sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami baru memulai trekking dengan medan jalan makadam yang cukup lebar. Di kanan kirinya adalah hutan yang cukup lebat. Suara serangga seperti jangkrik dan tonggeret saling bersautan menemani pendakian kami. Begitu juga suara burung, yang paling saya ingat adalah suara dari “buek” alias burung hantu. Ketika buek itu bersiul, beberapa dari kami membalasnya. Eh bueknya nggak mau kalah. Dia kembali membalas dengan suara yang lebih nyaring.

gunung mahawu
Detik-detik matahari terbit

Di perjalanan saya melihat ada beberapa shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Lama-kelamaan jalan semakin sempit dan berubah menjadi jalan setapak yang hanya muat dilewati oleh satu orang. Tak lama, jalan berganti lagi menjadi tangga beton yang dilengkapi pegangan besi disisi kanannya, tapi pegangan tersebut sudah mulai rusak, terlihat dari kondisnya yang sudah berkarat dan ada yang patah. Jalan akan terus seperti itu sampai puncak. Saya tiba di puncak berbarengan dengan langit yang mulai menunjukkan warna kemerah-merahan tanda matahari akan terbit.

Di puncak masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan tinggi sehingga panoramanya tertutupi. Oleh karena itu, di sana disediakan sebuah bangunan tanpa beratap setinggi 3 meter yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan dari atasnya. Meski tingginya hanya sekitar 1.300 mdpl, Gunung Mahawu punya kaldera yang cukup luas. Di dalamnya juga terdapat danau kawah yang berukuran kecil, tapi bau belerangnya masih jelas tercium. Selain itu, dari atas puncak saya juga dapat melihat gunung lainnya seperti Gunung Lokon dan Gunung Empung yang berdiri dengan gagahnya. Sementara di kejauhan terlihat Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua dan pulau-pulau kecil lainnya yang seolah mengapung di laut Sulawesi.

kaldera gunung mahawu
Kaldera Gunung Mahawu

Waktu berada di puncak, hal yang wajib dilakukan apalagi kalau bukan mengabadikan momen. Soalnya kata orang-orang zaman sekarang, kalau ke suatu tempat tanpa adanya bukti berupa foto disebut omong kosong belaka. “No pic, hoax!”, gitu katanya. Ritual ini sendiri paling lama dilakukan. Alasannya karena masing-masing dari kami pengen foto yang sendiri-lah, foto bareng-bareng-lah, foto selfie-lah, foto selfie bareng-bareng alias wefie-lah. Macem-macem pokoknya. Kalau dikasih waktu 1 jam doang mah nggak bakal cukup buat foto-foto.

gunung mahawu
Momen kebersamaan

gunung mahawu
bareng Bang Rahung & Kak Prue

Sekitar jam 7 pagi, kami bersiap untuk turun gunung dengan melewati jalur 10 menit. Tapi sebelumnya kami harus mengitari puncak gunungnya dulu, karena titik untuk turun di jalur 10 menit ada di sisi lain dari puncak. Setelah menuruni sekitar 160 anak tangga (saya nggak ngitung kok, ini dari wikipedia), kami sampai di gerbang masuk pendakian gunung Mahawu. Ternyata benar, jalur ini memang cuma butuh waktu sekitar 10 menit perjalanan. Dengan trek berupa tangga beton yang dilengkapi pegangan besi, mengingatkan saya dengan Gunung Bromo. Bedanya kalau di Gunung Mahawu kanan-kirinya pepohonan rimbun, jadi suasananya adem.

gunung mahawu
Menuruni jalur 10 menit

Di dekat gerbang masuk terdapat tulisan “Mahawu” yang berukuran besar. Tanpa aba-aba, kami langsung ambil posisi di depannya begitu Bang Ian kasih isyarat. Mobil elp yang sebelumnya mengantar kami pun sudah stanby untuk menjemput. Tujuan kami berikutnya adalah mengunjungi Pasar Beriman Tomohon atau terkenal dengan sebutan Pasar Extreme. Kenapa? Tunggu saja ceritanya!

gunung mahawu
MAHAWU

Friday, June 24, 2016

Mengarungi Derasnya Jeram Sungai Nimanga

rafting sungai nimanga

Setelah mengerahkan seluruh tenaga kala melakukan aktivitas rock climbing di Tebing Kilo Tiga, agenda Super Journey selanjutnya adalah dengan memacu adrenalin dengan ORAD (olahraga arus deras). Kami akan rafting mengarungi derasnya jeram sungai Nimanga.

Kami tiba di garis start pengarungan sungai Nimanga di waktu yang tepat. Waktunya makan siang! Sepanjang perjalanan menumpak elf dari Desa Kilo Tiga, Amurang, ke Desa Timbukar, Minahasa, saya dilanda kelaparan karena paginya cuma sarapan sepotong sandwich. Biasa orang Indonesia, nggak bakal kenyang kalau nggak makan nasi. Sesampainya disana ikan bakar berukuran besar untuk tiap-tiap orang siap untuk disantap. Lalu ada juga hidangan khasnya, yaitu daging paniki a.k.a batman alias kelelawar. Dan hmm, rasanya sih seperti daging ayam. Tapi terasa lebih alot.

Sebelum memulai rafting, kami diberi pengarahan terlebih dahulu oleh instruktur. Tentang bagaimana cara mendayung, cara duduk pada perahu karet dan juga instruksi yang diberikan skipper pada saat pengarungan. Alat keselamatan seperti helmet dan pelampung sudah terpasang, dan masing-masing orang memegang dayung. Saya siap mengarungi sungai!

diberi pengarahan oleh instruktur

Kami mengarungi sungai dengan 3 perahu. Masing-masing perahu diisi 5 orang termasuk 1 orang skipper dari operator raftingnya. Di perahu pertama ada Ayu, Bang Dewe, Bang Rahung dan Bang Bui. Saya sendiri di perahu kedua bersama Dena, Rico dan Kak Prue. Dan di perahu terakhir yaitu Alim, Aya, Detha dan Edy. Sedangkan Bang Ian dan yang lainnya bertugas mendokumentasikan aktivitas arung jeram kami pada titik-titik tertentu sepanjang jalur sungai.

“Dayung maju”, begitu kata skipper ketika aliran sungai tenang. Dan “stop” saat perahu sudah mendekati jeram-jeram yang cukup deras. Lalu “dayung mundur” untuk mengurangi kecepatan kalau perahu melaju terlalu cepat. Untuk belok skipper memberi instruksi “belok kanan” dengan orang yang berada di sisi kanan perahu mendayung maju dan mendayung mundur untuk orang yang di sisi kiri perahu. Untuk “belok kiri” berlaku sebaliknya.

Terkadang skipper juga memberi instruksi “boom” atau “boom boom boom” yang artinya merunduk untuk menghindar kalau di depan ada rintangan seperti dahan pohon yang menghalangi. Apabila perahu stuck/tersangkut diantara bebatuan, skipper akan bilang “pindah kanan” / “pindah kiri” yang berarti semua orang harus duduk di sisi kana/kiri perahu. Supaya perahu bisa terlepas dari bebatuan. Namun kalau cara itu tak berhasil, biasanya skipper akan turun dari perahu dan melepaskan bagian yang nyangkut.

rafting sungai nimanga


rafting sungai nimanga

Ini pertama kalinya saya melakukan arung jeram. Untuk ukuran pemula seperti saya, sungai Nimanga bisa dikatakan pilihan yang tepat. Dengan tingkat kesulitan sungai berada di grade 3, sungai ini memilki banyak jeram tapi tidak berbahaya. Pada tiap jeramnya punya nama yang unik. Jeram pertama dalam pengarungan adalah jeram Golden Gate. Lalu ada jeram Python yang memompa adrenaline saya, karena jeramnya yang panjang dan meliuk-liuk seperti ular. Kemudian ada pula jeram Superman, disebut begitu sebab ada sebuah batu yang kalau dilewati akan membuat perahu seolah terbang layaknya manusia super itu. Sebagai penutup adalah jeram Goodbye yang merupakan jeram terakhir di sungai ini.

Di tengah pengarungan, langit yang awalnya cerah berubah menjadi hujan deras yang semakin menambah seru rafting kala itu. Ada momen ketika kami berhenti untuk melompat bergantian dari atas tebing setinggi 5 meter. Ada juga kejadian menegangkan ketika Dena terjatuh dari perahu saat perahu menabrak keras sebuah batu yang berukuran besar. Dia terlempar dari perahu dan jatuh ke sungai, meskipun saya sempat memegang tangannya tapi terlepas karena licin. Untungnya, saat itu dia jatuh di bagian sungai yang jeramnya kecil dan arusnya cenderung tenang. Dia hampir jatuh lagi untuk kedua kalinya ketika perahu kami kembali menabrak batu, tapi sebelum itu terjadi kami dengan sigap berhasil menahannya.

rafting sungai nimanga
tersangkut di antara batu

rafting sungai nimanga

Setelah mengarungi sungai sepanjang 9 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam, kami mencapai garis finish dengan ditandai oleh jeram Good Bye. Sungguh pengalaman yang seru, mendebarkan dan memacu adrenalin. Mendayung selama 2 jam sukses membuat lelah dan tangan pegal. Tapi keseruan selama pengarungan sanggup membayar kelelahan itu. Suatu hari, mungkin saya akan rindu rasanya berlayar di atas perahu karet melawan jeram di sungai.

Rafting memang salah satu olahraga yang masuk kategori memacu adrenalin. Bagaimana tidak? Dengan keberadaan jeram-jeram di sungai, sanggup membuat jantung berdebar-debar ketika mengarunginya. Apalagi rafting ini olahraga yang mainnya hitungan detik, harus memutuskan dengan cepat kapan waktunya “dayung maju”, “belok kiri” atau pun “boom” untuk menghindar. Kalau kelamaan mikir, yang ada keburu nabrak batu dan berakhir jatuh ke sungai. Namun, asal menerapkan safety procedure dan paham betul hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat rafting, olahraga ini bisa menjadi olahraga yang menyenangkan.


Dari garis finish, kami kembali ke garis start dengan menumpak mobil bak terbuka miliknya operator rafting. Setelah mandi dan ngopi-ngopi, kami melanjutkan perjalanan ke Tomohon untuk mendaki Gunung Mahawu.

rafting sungai nimanga
Break sesaat

rafting sungai nimanga
After rafting

Saturday, June 18, 2016

Belajar Jadi Spiderman di Tebing Kilo Tiga

tebing kilo tiga
Tak pernah terpikir di kepala untuk pergi ke tempat yang bagi saya sendiri merupakan tempat yang tidak pernah saya ekspektasikan sebelumnya. Sebuah destinasi yang berkat keindahannya sempat menjadi primadona wisata bahari di Indonesia, bahkan dunia. Destinasi tersebut adalah Bunaken, surga bawah laut bagi para penghobi olahraga diving.
Berawal dari mengikuti kontes menulis yang diselenggarakan oleh Superadventure.co.id, terpilihlah 8 jawara yang diberangkatkan ke Bunaken secara “cuma-cuma” pada 4-8 Mei. Kami bakal ditemani oleh 2 orang Guest Star selama perjalanan. Marischka Pruedence, Travel Blogger yang hobi diving dan sudah menyelami banyak taman bawah laut Indonesia. Serta ada pria bertatto yang jago masak dan sudah mengelilingi Indonesia untuk merasakan cita rasa masakan nusantara, ialah Rahung Nasution.
super journey
Para Jawara
(dari kiri: Alim, Detha, Rico, Aya, Ayu, Edy, Dena dan saya)
Pesawat Garuda Indonesia mengantarkan keberangkatan kami dari ibukota ke Manado kala itu. Di sana sudah menunggu Tim Indonesia Expeditions -operator perjalanan ke gunung-gunung di Indonesia maupun dunia- yang menjemput kami. Mereka akan menemani kami selama 5 hari ke depan. Salah satunya ada Bang Ian (Sofyan Arief Fesa) yang merupakan salah satu seven summiter pertama Indonesia dari Mahitala Unpar.
bandara sam ratulangi
Mejeng depan Sam Ratulangi Airport
Kami tidak langsung ke Bunaken, tujuan pertama kami adalah Desa Kilo Tiga, Amurang. Di sana kami akan melakukan kegiatan rock climbing di salah satu tebing yang sudah mencetak banyak climber handal, Tebing Kilo Tiga namanya. Di perjalanan kami merapat dulu di Resto City Extra untuk makan siang. Di situ kami makan beberapa jenis masakan sea food serta sayur-sayuran. Yang khas, disana ada yang namanya sambal dabu-dabu, khasnya Kota Manado. Sambal ini disajikan secara segar, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang merah, dll, diiris untuk kemudian diaduk dan disiram oleh minyak goreng panas. Meskipun pedas, tapi tetap terasa segar.
tebing kilo tiga amurang
Trekking ke lokasi tebing
tebing kilo tiga amurang
Perlu turun pakai tali
Tiba di Desa Kilo Tiga, perlu trekking lagi untuk menuju lokasi tebing. 30 menit perjalanan, saya akhirnya bisa melihat tebing yang menjulang tinggi dengan susunan bebatuannya yang seolah menggantung. Di sana juga sudah ada Bang Egy, Bang Arlen, Bang Octries dan teman-teman dari Forum Panjat Tebing Manado. Mereka sudah menyiapkan peralatan panjat dan juga tenda-tenda yang sudah berdiri sebagai tempat istirahat kami.
Meskipun hari sudah sore, kami tetap semangat menjajal Tebing Kilo Tiga. Bang Ian mendapat giliran pertama sekaligus memberikan demo pada kami semua. Dia sangat lihai ketika memanjat, pijakan demi pijakan dia lewati dengan pasti, dalam beberapa detik dia sudah berada beberapa meter diatas. Hal itu tentu membuktikan bahwa dia sudah sangat berpengalaman.
tebing kilo tiga amurang
Tebing Kilo Tiga
tebing kilo tiga amurang
Bang Ian lagi beraksi
Giliran selanjutnya adalah Detha, Kak Prue dan Edy. Setelah itu baru giliran saya tiba. Bagi saya ini adalah pertama kalinya memanjat di tebing “sungguhan”. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali mencoba climbing tapi di tebing bohongan alias wall climbing. Yaitu di papan panjat yang biasa digunakan latihan oleh anggota Sispala maupun Mapala di kampusnya. Ya, hanya sebatas itu. Dan itu pun saya lakukan dengan susah payah. Apalagi di tebing beneran?
Sebelum memanjat saya sudah memakai harness (alat pengaman yang dipasang ditubuh) dan helmet. Harness dihubungkan menggunakan carabiner dan descender pada tali kernmantel yang sudah terpasang pada tebing. Lalu ada chalk bag untuk menyimpan magnesium karbonat yang berguna untuk menghilangkan keringat di telapak tangan supaya tidak licin saat memanjat. Satu lagi, ada sepatu panjat. Tapi karena saya masuk kategori “big foot”, jadi nggak ada sepatu yang muat. Terpaksa saya harus nyeker.
Dalam climbing, selain pemanjat, ada satu orang lagi yang disebut sebagai belayer. Tugasnya adalah menahan beban si pemanjat. Jadi kalau lagi manjat tiba-tiba kepleset dan jatuh, tenang karena ada belayer yang menahan. Jadi nggak akan jatuh. Apalagi safety procedurenya udah lengkap. Aman pokoknya.
Saya memanjat di jalur yang sama seperti yang lainnya. Nggak seperti kelihatannya, dalam panjat tebing membutuhkan kejelian yang tinggi untuk menemukan pegangan atau pijakan tangan dan kaki. Bagi yang pertama kali mencoba seperti saya sendiri, pasti dibuat bingung saat harus mencari dan menentukan mana pijakan yang baik. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa.
tebing kilo tiga amurang
Spiderman abal-abal
Pijakan demi pijakan saya lewati hingga berhasil naik sampai beberapa meter. Lalu saya sampai di bagian tebing menggantung yang bersudut 180 derajat atau disebut roof. Pada titik itu, kaki dan tangan sudah gemetaran akibat menahan beban tubuh sendiri. Ditambah bingung karena entah kemana lagi tangan harus mencari pegangan. Meskipun dari bawah terus disemangati dan diberi clue seperti “kaki kiri naik ke pijakan itu” atau “tangan kanan pegangan di celah-celah dekat kepala” oleh Bang Ian dan Bang Arlen. Tapi tetap saja saya nggak tahu mana pijakan/pegangan yang mereka maksud. Bagi seorang expert seperti mereka, mungkin celah-celah “sempit” di antara dinding tebing saja cukup untuk dijadikan pegangan.
Ketika berusaha melewati bagian itu, kaki saya yang sudah tremor bukan kepalang terlepas dari pijakan. Membuat beban tubuh bertumpu pada tangan. Namun, karena pegangan tangan saya pada celah-celah tebing tidak kuat, otomatis tangan pun reflex melepaskan pegangan pada tebing dan membuat saya seketika jatuh. Ya, jatuh dan menggantung di tali.
Asyiknya jatuh dari tebing :v
Panjat tebing memang bukan sekedar memerlukan niat dan nyali, tapi butuh teknik yang harus diasah secara terus-menerus kalau ingin handal seperti teman-teman dari Indonesia Expeditions atau pun Forum Panjat Tebing Manado. Setelah melewati perjalanan panjang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga, kami menghabiskan malam dengan obrolan-obrolan ringan di dekat api unggun. Tentunya kami “makang” malam dengan bumbu 3 pulau nusantara (Manado, Jawa dan Batak) untuk sayur dan ayam bakar buatan Bang Rahung. Malam itu kami tutup dengan bernyanyi bersama.
Keesokan harinya setelah sarapan dengan sepotong sandwich, kami kembali menjajal Tebing Kilo Tiga. Namun dengan jalur yang berbeda. Jalur yang bisa dibilang lebih mudah. Malah kata Bang Arlen sih jalur cewek, karena itu adalah jalur paling mudah diantara yang lain. Untuk jalur-jalurnya sendiri, di Tebing Kilo Tiga ini punya penamaan yang unik. Selain jalur cewek, ada jalur malaria yang berawal saat para pemanjat terserang penyakit malaria. Hingga jalur ratapan yang ditasbihkan sebagai jalur paling susah, karena setiap pemanjat harus mengerahkan seluruh kemampuannya.
tebing kilo tiga amurang
Bang Rahung nggak ambil bagian nih
Di jalur cewek, hampir semua dari kami berhasil memanjat sampai bagian top (bagian tebing yang merupakan tujuan akhir pemanjatan). Sedangkan di sisi tebing lainnya, kami juga mencoba yang namanya teknik ascending – descending, yaitu teknik menaiki dan menuruni seutas tali menggunakan alat yang disebut ascender dan descender. Banyak pengaplikasian dari teknik ini, seperti SRT untuk naik-turun di goa vertikal, rappeling, canyoning, dll. Kami belajar teknik ini karena rencananya kami akan melakukan canyoning pada hari ke-3.
Pada teknik ascending menggunakan alat yang bernama ascender atau jummar. Ascender berfungsi untuk naik dan menahan beban dengan menjepit tali kernmantel. Sedangkan descender kebalikannya, fungsinya untuk turun perlahan dari tali. Bagi saya pribadi kedua teknik ini sudah nggak asing karena saya pernah melakukan caving di goa vertical yang tentunya membutuhkan skill ini. Tapi saya sudah lupa karena itu terjadi beberapa tahun yang lalu.
tebing kilo tiga amurang
Kak Prue mencoba teknik ascending – descending

Setelah semua mendapatkan giliran, kami kembali ke lokasi camp untuk packing barang. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Desa Timbukar untuk melakukan kegiatan arung jeram di Sungai Nimanga.

Nih, ada video waktu Bang Octries lagi beraksi layaknya Spiderman. (video by Marischa Pruedence)

CONTACT
For assistance, contact: info@indonesiaexpeditions.com

Friday, June 3, 2016

Gunung Papandayan #2: Dari Hutan Mati Hingga Tegal Alun

hutan mati papandayan

Entah belum merasa capek atau sudah kebiasaan, saat mencoba istirahat dan memejamkan mata malah nggak bisa. Sedangkan Salman, Ivan dan Fikri yang satu tenda dengan saya sudah tidur dan pergi ke alam lain. Mana panas matahari lagi puncak-puncaknya. Berada di dalam tenda nggak ada bedanya dibandingkan dengan di luar tenda, sama-sama panas.

Nggak tahan dengan panasnya, saya kabur mencari spot yang teduh di bawah pepohonan. Aslinya mau ngajak yang lain, tapi karena udah pada tidur dan sungkan mau bangunin, akhirnya pergi sendirian. Awalnya saya cuma mau cari tempat yang teduh sambil mengambil gambar di sekitar Pondok Saladah aja. Tapi karena penasaran sama Hutan Mati, saya pergi ke sana.

Saat tiba di sana, panorama yang saya lihat sungguh menakjubkan. Amazing! Bayangkan, sebuah hutan yang di tumbuhi banyak pepohonan, pohon-pohon tersebut sudah mati (nggak punya daun) namun tetap berdiri tegak. Spot unik yang hanya bisa ditemukan di Gunung Papandayan. Hutan Mati sendiri terbentuk akibat letusan Gunung Papandayan beberapa tahun yang lalu. Membakar hutan Papandayan hingga pepohonannya mengering dan tanahnya menjadi putih yang sarat akan kandungan belerang.

hutan mati papandayan
Lagi nyari angle yang apik

Di Kawah Mati saya memotret pemandangan yang sangat unik ini dari berbagai sudut. Puas mengabadikan panorama Kawah Mati, saya agak bimbang. Balik ke Pondok Saladah atau lanjut ke Tegal Alun. Saat melihat jam, waktu masih menunjukkan jam 1 siang. Masih lama sebelum malam tiba. Akhirnya kaki saya melangkah menuju Tegal Alun. Saat itu saya masih sendirian. Sampai ketika saya sedang istirahat, saya bertemu dengan 3 orang pendaki yang akan menuju Tegal Alun juga. Saya bergabung untuk mendaki bersama dan kami pun berkenalan. Mereka adalah Anton, Pria dan Wahid yang berasal dari Bogor.

Bersama mereka, saya melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Di tengah perjalanan kami menemukan sebuah persimpangan. Yang pertama jalannya belok kiri dan kurang jelas karena tertutupi pepohonan yang lebat. Sedangkan satunya lurus dan agak menanjak, namun jalannya jelas dan terbuka. Kami pun pilih jalan yang lurus. Karena terlihat lebih meyakinkan.

Setelah beberapa menit berjalan, jalan yang kami pilih lama-kelamaan semakin menanjak dan terkesan terjal. Membuat kami harus berpegangan pada batang pohon setiap kali melangkahkan kaki. Terkadang kami juga harus berpegangan satu sama lain karena konturnya miring. Saya berpikir, harusnya tadi kami pilih jalan yang belok kiri saja. Kelihatannya nggak separah ini. Tapi nggak mungkin juga untuk putar balik. Lebih baik lanjut naik dari pada turun, ngeri, curam banget dilihat dari atas. Toh, akhirnya kami dapat melihat pemandangan yang sangat bagus dari situ. Pondok Saladah dan keramaian pendaki dari ketinggian.

tegal alun papandayan
Jalannya sempit

pondok saladah papandayan
Pemandangannya bikin mata seger

Nyaris 1 jam kami melewati tanjakan extreme itu, sungguh melelahkan. Setelah itu jalan menjadi landai. Nggak sampai 10 menit, kami menemukan sebuah tanah datar yang sangat luas. menyerupai lapangan bola. Dan yang membuat saya tercengang, lapangan itu dipenuhi oleh Edelweiss. Ya, si bunga abadi! Luar Biasa! Saya yakin, saat itu saya sedang berada di Tegal Alun, meskipun saya nggak menemukan papan petunjuknya.

Suasananya sepi saat pertama kali saya melihat Tegal Alun dari balik hutan. Hanya ada kami berempat dan 2 orang pendaki dari Bandung yang berpapasan dengan kami di jalan (lupa namanya). Lalu kami berkeliling sambil mengabadikan momen. Tegal Alun benar-benar luas, Edelweiss pun tumbuh di setiap sudutnya. Tempatnya sangat terbuka. Saya membayangkan malam hari di sana, melihat gemerlap cahaya bintang di dinginnya malam di Tegal Alun. Sayang di situ nggak diperbolehkan untuk camp.

edelweiss tegal alun papandayan
Edelweiss sejauh mata memandang

tegal alun papandayan
Enak buat tiduran

Ketika berkeliling, kami akhirnya menemukan papan yang menunjukkan bahwa di situ adalah Tegal Alun. Nggak jauh dari situ, saya melihat beberapa pendaki muncul dari balik hutan. Ternyata ada jalan lain untuk menuju Tegal Alun. Dan saya yakin, itu adalah jalan belok kiri yang kami temukan sebelumnya di persimpangan.

Rasa penasaran saya seperti nggak ada habisnya. Awalnya kabur dari tenda cuma ingin mencari tempat yang teduh. Lalu penasaran dengan Kawah Mati dan lanjut ke sana. Di Kawah Mati saya bertemu dengan 3 pendaki dari Bogor dan mendaki sampai Tegal Alun. Dan kali ini di Tegal Alun, dengan bertambahnya 2 orang dari Bandung, kami berenam sepakat untuk melanjutkan lagi ke Puncak Papandayan.

Kebanyakan orang yang mendaki Papandayan menjadikan Tegal Alun sebagai titik utama pendakian. Padahal sebenarnya masih ada puncaknya. Meskipun kata orang-orang di puncak pemandangannya nggak terlalu istimewa karena tertutupi pepohonan. Mungkin akibat hal itu pula jarang ada pendaki ke sana. Saat kami mencari jalan ke puncak, petunjuk pun minim. Nggak ada satu pun tanda yang mengarahkan jalan ke puncak. Kami hanya mengandalkan informasi dari pendaki yang kami temui yang turun dari puncak.

Kami mendaki ke puncak berdasarkan arahan dari pendaki tersebut, tapi beberapa kali kami malah bertemu jalan buntu. Bukan jalan buntu sih, tapi jalan yang berujung dengan jurang. Tapi kami nggak menyerah, kami terus lanjut dan menemukan sebuah sungai. Nggak jauh dari sungai itu, ada beberapa pendaki yang turun ke arah kami. Lalu kami interogasi mereka. Mereka bilang kalau jalan yang kami lewati memang benar, tapi setelah sungai itu jalannya akan semakin samar alias nggak jelas. Karena sebelumnya di daerah itu sempat terjadi kebakaran dan membuat jalur ke puncak yang “benar” hilang. Sehingga membuat mereka mencari jalan sendiri ke puncak.

Mereka menyarankan kami untuk kembali saja ke camp dan mencoba lagi ke puncak esok harinya. Takutnya kemalaman di jalan, mana nggak bawa senter pula. Mereka sendiri sudah dari pagi mendaki ke Puncak Papandayan. Sedangkan saat itu sudah menunjukkan jam 2, hari semakin sore. Kami putuskan untuk mengikuti saran dari mereka dan turun kembali ke camp.

Saat hari udah gelap, hawa di Pondok Saladah menjadi sangat dingin, berbanding terbalik dengan siang harinya yang begitu panas. Untuk menghangatkan tubuh, kami membuat api di dekat tenda sambil memasak untuk makan malam. Malamnya kami habiskan dengan mengobrol bersama pendaki lain dan juga ranger di sana. Ketika rasa kantuk tiba, satu per satu kami tidur karena esoknya kami akan mengejar sunrise di Hutan Mati.

Tidur saya cukup nyenyak. Sekalinya merem, bangun-bangun udah jam 4 pagi. Lalu siap-siap untuk perjalanan ke Hutan Mati. Nggak jauh jarak dari Pondok Saladah ke Hutan Mati. Sekitar 10 menit berjalan santai, kami udah sampai. Kemudian kami menuju sisi Hutan Mati yang menghadap ke Kawah Papandayan, tepat di pinggir jurang. Di situ, udah banyak pendaki yang menanti terbitnya matahari.

Warna kemerah-merahan mulai nampak di langit sebelah timur. Para pendaki udah bersiap untuk mengabadikan momen yang khas dalam mendaki gunung. Momen yang identik dengan semangat baru. Menyambut hari baru untuk memulai aktivitas. Setelah menunggu, momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Matahari terbit menerangi Hutan Mati dari kegelapan. Berbarengan dengan itu, rasa hangat mulai terasa oleh tubuh. Untuk beberapa saat, kami menikmati momen sunrise dengan rasa bahagia.

sunrise hutan mati
Menanti matahari terbit

sunrise hutan mati
Yohoo sunrise

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Karena saya udah tau jalurnya, saya mengajak teman-teman untuk melewati jalur yang belok kiri saat ada persimpangan. Dan ternyata benar seperti dugaan saya, jalurnya nggak separah jalur yang saya lewati sebelumnya. Meskipun ada satu tanjakan yang lumayan terjal, “Tanjakan Mamang” namanya.

Sekitar 1 jam berjalan, kami akhirnya sampai di Tegal Alun. Perasaan lega hadir pada diri saya. Untuk kedua kalinya saya berhasil menginjakkan kaki di Tegal Alun dalam satu kali pendakian. Lalu kami habiskan waktu untuk bersantai di Tegal Alun selama beberapa jam. Karena kami nggak ada rencana untuk mendaki sampai ke puncaknya.

tanjakan mamang papandayan
Tanjakan Mamang

tegal alun papandayan
Yeahhh!

Papandayan memang surganya pendaki gunung. Mata saya terus dimanjakan dengan keindahan alam yang tak ada duanya sepanjang perjalanan. Dengan waktu tempuh yang relatif singkat dan medan yang nggak terlalu berat, saya percaya kata orang-orang kalau Gunung Papandayan emang salah satu gunung yang cocok untuk seorang yang pemula dalam dunia pendakian. Ditambah dengan berbagai fasilitas seperti toilet umum dan warung jajan yang berjejer (di sepanjang perjalanan dan Pondok Saladah) semakin memudahkan para pendaki saat mendaki.

Pendakian kali ini saya nggak mendaki sampai puncak. Emang sih tujuannya hanya sampai Tegal Alun, tapi tetep aja penasaran. Yah, next time mungkin saya bakal ke Papandayan lagi dan mendaki sampai puncaknya. Wait 4 me, Papandayan!