Saturday, June 18, 2016

Belajar Jadi Spiderman di Tebing Kilo Tiga

tebing kilo tiga
Tak pernah terpikir di kepala untuk pergi ke tempat yang bagi saya sendiri merupakan tempat yang tidak pernah saya ekspektasikan sebelumnya. Sebuah destinasi yang berkat keindahannya sempat menjadi primadona wisata bahari di Indonesia, bahkan dunia. Destinasi tersebut adalah Bunaken, surga bawah laut bagi para penghobi olahraga diving.
Berawal dari mengikuti kontes menulis yang diselenggarakan oleh Superadventure.co.id, terpilihlah 8 jawara yang diberangkatkan ke Bunaken secara “cuma-cuma” pada 4-8 Mei. Kami bakal ditemani oleh 2 orang Guest Star selama perjalanan. Marischka Pruedence, Travel Blogger yang hobi diving dan sudah menyelami banyak taman bawah laut Indonesia. Serta ada pria bertatto yang jago masak dan sudah mengelilingi Indonesia untuk merasakan cita rasa masakan nusantara, ialah Rahung Nasution.
super journey
Para Jawara
(dari kiri: Alim, Detha, Rico, Aya, Ayu, Edy, Dena dan saya)
Pesawat Garuda Indonesia mengantarkan keberangkatan kami dari ibukota ke Manado kala itu. Di sana sudah menunggu Tim Indonesia Expeditions -operator perjalanan ke gunung-gunung di Indonesia maupun dunia- yang menjemput kami. Mereka akan menemani kami selama 5 hari ke depan. Salah satunya ada Bang Ian (Sofyan Arief Fesa) yang merupakan salah satu seven summiter pertama Indonesia dari Mahitala Unpar.
bandara sam ratulangi
Mejeng depan Sam Ratulangi Airport
Kami tidak langsung ke Bunaken, tujuan pertama kami adalah Desa Kilo Tiga, Amurang. Di sana kami akan melakukan kegiatan rock climbing di salah satu tebing yang sudah mencetak banyak climber handal, Tebing Kilo Tiga namanya. Di perjalanan kami merapat dulu di Resto City Extra untuk makan siang. Di situ kami makan beberapa jenis masakan sea food serta sayur-sayuran. Yang khas, disana ada yang namanya sambal dabu-dabu, khasnya Kota Manado. Sambal ini disajikan secara segar, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang merah, dll, diiris untuk kemudian diaduk dan disiram oleh minyak goreng panas. Meskipun pedas, tapi tetap terasa segar.
tebing kilo tiga amurang
Trekking ke lokasi tebing
tebing kilo tiga amurang
Perlu turun pakai tali
Tiba di Desa Kilo Tiga, perlu trekking lagi untuk menuju lokasi tebing. 30 menit perjalanan, saya akhirnya bisa melihat tebing yang menjulang tinggi dengan susunan bebatuannya yang seolah menggantung. Di sana juga sudah ada Bang Egy, Bang Arlen, Bang Octries dan teman-teman dari Forum Panjat Tebing Manado. Mereka sudah menyiapkan peralatan panjat dan juga tenda-tenda yang sudah berdiri sebagai tempat istirahat kami.
Meskipun hari sudah sore, kami tetap semangat menjajal Tebing Kilo Tiga. Bang Ian mendapat giliran pertama sekaligus memberikan demo pada kami semua. Dia sangat lihai ketika memanjat, pijakan demi pijakan dia lewati dengan pasti, dalam beberapa detik dia sudah berada beberapa meter diatas. Hal itu tentu membuktikan bahwa dia sudah sangat berpengalaman.
tebing kilo tiga amurang
Tebing Kilo Tiga
tebing kilo tiga amurang
Bang Ian lagi beraksi
Giliran selanjutnya adalah Detha, Kak Prue dan Edy. Setelah itu baru giliran saya tiba. Bagi saya ini adalah pertama kalinya memanjat di tebing “sungguhan”. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali mencoba climbing tapi di tebing bohongan alias wall climbing. Yaitu di papan panjat yang biasa digunakan latihan oleh anggota Sispala maupun Mapala di kampusnya. Ya, hanya sebatas itu. Dan itu pun saya lakukan dengan susah payah. Apalagi di tebing beneran?
Sebelum memanjat saya sudah memakai harness (alat pengaman yang dipasang ditubuh) dan helmet. Harness dihubungkan menggunakan carabiner dan descender pada tali kernmantel yang sudah terpasang pada tebing. Lalu ada chalk bag untuk menyimpan magnesium karbonat yang berguna untuk menghilangkan keringat di telapak tangan supaya tidak licin saat memanjat. Satu lagi, ada sepatu panjat. Tapi karena saya masuk kategori “big foot”, jadi nggak ada sepatu yang muat. Terpaksa saya harus nyeker.
Dalam climbing, selain pemanjat, ada satu orang lagi yang disebut sebagai belayer. Tugasnya adalah menahan beban si pemanjat. Jadi kalau lagi manjat tiba-tiba kepleset dan jatuh, tenang karena ada belayer yang menahan. Jadi nggak akan jatuh. Apalagi safety procedurenya udah lengkap. Aman pokoknya.
Saya memanjat di jalur yang sama seperti yang lainnya. Nggak seperti kelihatannya, dalam panjat tebing membutuhkan kejelian yang tinggi untuk menemukan pegangan atau pijakan tangan dan kaki. Bagi yang pertama kali mencoba seperti saya sendiri, pasti dibuat bingung saat harus mencari dan menentukan mana pijakan yang baik. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa.
tebing kilo tiga amurang
Spiderman abal-abal
Pijakan demi pijakan saya lewati hingga berhasil naik sampai beberapa meter. Lalu saya sampai di bagian tebing menggantung yang bersudut 180 derajat atau disebut roof. Pada titik itu, kaki dan tangan sudah gemetaran akibat menahan beban tubuh sendiri. Ditambah bingung karena entah kemana lagi tangan harus mencari pegangan. Meskipun dari bawah terus disemangati dan diberi clue seperti “kaki kiri naik ke pijakan itu” atau “tangan kanan pegangan di celah-celah dekat kepala” oleh Bang Ian dan Bang Arlen. Tapi tetap saja saya nggak tahu mana pijakan/pegangan yang mereka maksud. Bagi seorang expert seperti mereka, mungkin celah-celah “sempit” di antara dinding tebing saja cukup untuk dijadikan pegangan.
Ketika berusaha melewati bagian itu, kaki saya yang sudah tremor bukan kepalang terlepas dari pijakan. Membuat beban tubuh bertumpu pada tangan. Namun, karena pegangan tangan saya pada celah-celah tebing tidak kuat, otomatis tangan pun reflex melepaskan pegangan pada tebing dan membuat saya seketika jatuh. Ya, jatuh dan menggantung di tali.
Asyiknya jatuh dari tebing :v
Panjat tebing memang bukan sekedar memerlukan niat dan nyali, tapi butuh teknik yang harus diasah secara terus-menerus kalau ingin handal seperti teman-teman dari Indonesia Expeditions atau pun Forum Panjat Tebing Manado. Setelah melewati perjalanan panjang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga, kami menghabiskan malam dengan obrolan-obrolan ringan di dekat api unggun. Tentunya kami “makang” malam dengan bumbu 3 pulau nusantara (Manado, Jawa dan Batak) untuk sayur dan ayam bakar buatan Bang Rahung. Malam itu kami tutup dengan bernyanyi bersama.
Keesokan harinya setelah sarapan dengan sepotong sandwich, kami kembali menjajal Tebing Kilo Tiga. Namun dengan jalur yang berbeda. Jalur yang bisa dibilang lebih mudah. Malah kata Bang Arlen sih jalur cewek, karena itu adalah jalur paling mudah diantara yang lain. Untuk jalur-jalurnya sendiri, di Tebing Kilo Tiga ini punya penamaan yang unik. Selain jalur cewek, ada jalur malaria yang berawal saat para pemanjat terserang penyakit malaria. Hingga jalur ratapan yang ditasbihkan sebagai jalur paling susah, karena setiap pemanjat harus mengerahkan seluruh kemampuannya.
tebing kilo tiga amurang
Bang Rahung nggak ambil bagian nih
Di jalur cewek, hampir semua dari kami berhasil memanjat sampai bagian top (bagian tebing yang merupakan tujuan akhir pemanjatan). Sedangkan di sisi tebing lainnya, kami juga mencoba yang namanya teknik ascending – descending, yaitu teknik menaiki dan menuruni seutas tali menggunakan alat yang disebut ascender dan descender. Banyak pengaplikasian dari teknik ini, seperti SRT untuk naik-turun di goa vertikal, rappeling, canyoning, dll. Kami belajar teknik ini karena rencananya kami akan melakukan canyoning pada hari ke-3.
Pada teknik ascending menggunakan alat yang bernama ascender atau jummar. Ascender berfungsi untuk naik dan menahan beban dengan menjepit tali kernmantel. Sedangkan descender kebalikannya, fungsinya untuk turun perlahan dari tali. Bagi saya pribadi kedua teknik ini sudah nggak asing karena saya pernah melakukan caving di goa vertical yang tentunya membutuhkan skill ini. Tapi saya sudah lupa karena itu terjadi beberapa tahun yang lalu.
tebing kilo tiga amurang
Kak Prue mencoba teknik ascending – descending

Setelah semua mendapatkan giliran, kami kembali ke lokasi camp untuk packing barang. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Desa Timbukar untuk melakukan kegiatan arung jeram di Sungai Nimanga.

Nih, ada video waktu Bang Octries lagi beraksi layaknya Spiderman. (video by Marischa Pruedence)

CONTACT
For assistance, contact: info@indonesiaexpeditions.com

Related Articles

2 comments:

  1. Karakteristik tebing batunya seru ya. kalau di Jogja karakter tebingnya beda banget, batu karst jadi kudu ati-ati biar tangan nggak tergores. Duh jadi kangen mainan tali lagi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, jd dibikin penasaran sama tebingnya..
      wahh kalo di jogja di daerah mana??

      Delete