Friday, July 29, 2016

Solo Hiking, Nggak Benar-benar Sendiri

solo hiking ciremai

Naik gunung adalah hal yang menyenangkan, apalagi kalau bareng teman. Tapi, gimana kalau mendaki sendirian alias Solo Hiking. Rasa-rasanya kalau mendaki seorang diri mengkhawatirkan juga. Alasannya karena kalau saat mendaki tiba-tiba mengalami kejadian buruk siapa yang mau nolongin?

Awalnya saya nggak pernah kepikiran dan nggak ada keinginan untuk naik gunung sendirian. Tapi sampai saat ini, saya udah 2 kali melakukan pendakian seorang diri. Yang pertama saya lakukan di Gunung Panderman, Malang. Lalu yang kedua adalah gunung yang ada di belakang rumah saya, Gunung Ciremai.

Entah apa yang ada di pikiran ketika memutuskan untuk melakukan solo hiking. Mungkin gara-gara nonton film Wild dan Into The Wild. Film yang mengisahkan seseorang dalam melakukan perjalanan ke alam bebas sendirian. Tapi, meskipun namanya solo hiking, toh saat di TKP nggak bener-bener sendirian kok. Karena di perjalanan bakal ketemu pendaki lain juga (kalau ada). Itu yang bikin saya memberanikan diri untuk melakukan pendakian seorang diri. Dan itu terbukti pada 2 pendakian solo tersebut.

Saya memilih Gunung Panderman sebagai tujuan solo hiking pertama saya karena gunung ini nggak terlalu berat medannya. Sehingga resiko terjadinya kenapa-kenapa nggak terlalu besar. Selain itu, waktu tempuhnya juga cukup 2 – 3 jam saja mendaki dengan ritme yang santai.

Dari kostan saya menggeber motor ke kota Batu, letak Gunung Panderman berada. Setibanya di basecamp, sudah ada pendaki yang duluan naik, terlihat dari adanya beberapa motor di sana. Nggak lama setelah saya juga datang segerombolan pendaki. Salah satu dari mereka menyapa saya.

solo hiking panderman
Sunrise dari Panderman

Pendaki: “Darimana mas?”
Saya: “Saya dari Malang mas.”
Pendaki: “Rombongannya berapa orang mas? Rame banget ya.”
Saya: “Saya sendirian mas. Saya bukan rombongan mereka.”
Pendaki: “Wah sama dong, saya juga sendirian.”
Saya: “Seriusan? Bareng aja kalau gitu mas.”
Pendaki: “Oke. Kenalin dulu. Saya Juned.”
Saya: “Saya Ilham.” Sambil jabat tangan.

Setelah perkenalan singkat tersebut, kami langsung mengurus simaksi dan mulai mendaki. Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol obrolan-obrolan random yang ngalor-ngidul. Dia bertanya pada saya, apa alasan naik gunung sendirian, “Kenapa naik sendirian, Ham? Lagi galau kah?” Saya tertawa ketika mendengarnya. Emangnya ada yang saya galaukan. “Nggak kok. Lagi jenuh sama suasana kota, jadi pengen menyendiri aja.” jawab saya. Jawaban Juned juga sama ketika saya kembalikan pertanyaannya. Dia bilang, dia sedang jenuh dengan aktivitas kuliah. Bedanya dia sempat mengajak beberapa temannya. Namun karena berhalangan, akhirnya dia mendaki sendiri.

solo hiking panderman
Bangun tidur langsung cekrek

solo hiking panderman
Ini Juned

Sedangkan pengalaman solo hiking kedua saya terjadi di Gunung Ciremai. Waktu itu saya naik via jalur Palutungan. Sebenarnya dari rumah lebih dekat ke Linggajati, tapi saya nggak mau. Angkat tangan sama jalur itu, nggak kuku. Biarpun udah berkali-kali mendaki Ciremai, semuanya lewat Linggajati. Belum pernah sama sekali lewat Palutungan. Meski nggak familiar sama jalurnya, apalagi sendirian, saya tetap yakin pendakian ini bakal lancar.

Nggak seperti di Panderman yang dari awal mula udah ketemu orang untuk diajak barengan, saya benar-benar sendirian saat meninggalkan basecamp. Tapi saya yakin, diatas pasti udah banyak pendaki. Soalnya saya mendaki di akhir bulan Juli, yang merupakan musimnya naik gunung. Lagi ramai-ramainya. Benar saja. Saat saya sampai di Pos Cigowong, udah banyak pendaki yang mendirikan tenda atau sekedar istirahat.

solo hiking ciremai

Selepas Cigowong ini, saya mulai sering berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Entah itu yang turun atau yang sedang perjalanan naik juga. Kalau papasan saat sambil berjalan, biasanya cuma sekedar nyapa aja. Nah, kalau papasannya waktu lagi sama-sama istirahat di tanah yang datar, selain nyapa, pastinya ada obrolan-obrolan singkat. Rata-rata dimulai dengan pertanyaan “darimana” atau “rombongannya berapa orang”. Ketika saya menjawab pertanyaan kedua dengan jawaban “sendirian aja kang/teh”, respon mereka beragam. Seperti “kok berani kang sendirian?”, “wah, mantap kang” atau ada juga yang nggak percaya dan bilang “serius kang? Masa sendirian?” Lain lagi dengan respon Teteh-teteh yang sambil membandingkan dengan temannya laki-lakinya, “Tuh, yang kayak gini nih baru laki.”  Terakhir ada yang merespon dengan balik bertanya, “Kenapa kang kok sendiri? Nggak ada temen nanjak atau emang pengen sendiri? Atau jangan-jangan jomblo?” Aduhh sembarangan ini orang, tahu aja saya jomblo.

Kebanyakan pendaki yang berpapasan dengan saya cuma ketemu sekali. Tapi seenggaknya ada 2 rombongan pendaki yang sepanjang pendakian kami sering kali berpapasan karena saling salip-menyalip. Yang pertama Daweng bersama 4 orang temannya yang berasal dari Cilegon. Kedua, Firman dan 2 temannya dari Indramayu. Bahkan sampai sekarang, saya masih keep in touch dengan mereka. Khusus dengan rombongannya Daweng, mereka malah mengajak saya untuk ngecamp bareng. Awalnya kami hanya sekedar saling salip, lama-kelamaan kami sering istirahat bareng di waktu yang bersamaan. Nah saat itulah mereka ngajak ngecamp bareng. Malah dengan sukarela, salah satu dari mereka menawarkan untuk membawakan carier saya yang segede gaban itu. Orang baik memang bisa ditemukan dimana saja. Bersyukur saya bertemu dengan mereka.

solo hiking ciremai
Daweng dkk, daweng yg ketutupin carier biru

Ketika matahari mulai kembali ke peraduannya, kami masih mendaki ke Pos Goa Walet, tujuan kami mendirikan tenda. Namun, saat mendengar kabar dari pendaki yang turun kalau di Goa Walet penuh, Daweng dkk, memutuskan untuk gelar tenda di tanah datar yang kami temukan di perjalanan. Karena kemungkinan di Goa Walet nggak kebagian lapak. Disitulah kami berpisah, karena saya tetap melanjutkan ke Goa Walet. Sebenarnya watir nggak dapat lapak juga. Tapi karena rencana saya akan pulang via Linggajati, gelar tenda di tempat yang lebih dekat dengan puncak lebih baik pikir saya. Biar sekalian capeknya. Saya pun berpisah dengan mereka.

Masih di perjalanan menuju Goa Walet, saya bertemu dengan Firman yang sedang mendirikan tenda di tanah datar yang luasnya cukup untuk 2 tenda. Dia menawarkan saya untuk gelar tenda di sampingnya. Tapi tetep, saya mau mencoba peruntungan di Goa Walet.

Saat hari sudah gelap, saya baru sampai di Goa Walet. Dan benar apa kata orang-orang, Goa Walet ramai banget. Udah kayak pasar malam dadakan. Kemudian saya mblusuk ke sisa lapak di antara tenda para pendaki. Siapa tahu cukup untuk 1 tenda. Namun setelah saya muter-muter, nggak ada lapak tersisa. Ketika sedang bingung, saya melihat 2 orang pendaki yang clingak-clinguk seperti sedang mencari lapak juga. Lalu saya bertanya pada mereka. Ternyata bukan, mereka sedang mencari temannya yang sudah duluan ke Goa Walet. Dari mereka pula saya dapat info kalau di dalam goanya terdapat lapak kosong. Saya pun buru-buru ke TKP. Dan bingo! Apa yang dibilang mereka benar, ada sebidang tanah yang cukup untuk gelar sebuah tenda. Nuhun, mang!

solo hiking ciremai
Bareng si Daweng

Esoknya saat sudah di puncak, saya kembali bertemu dengan Daweng. Tapi, hanya 1 ada orang temannya di situ. Sedangkan 3 orang lainnya tidak ikut muncak. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dan fotbar, saya lanjut mengitari puncak untuk turun via Linggajati.

Di perjalanan turun menuju Pangasinan, lagi asik lari-larian, dari kejauhan saya melihat orang yang familiar bagi saya. Ketika dia memanggil, saya baru sadar kalau itu Anyuh. Tetangga sekaligus teman dekat kakak saya. Dia mendaki bareng Mod (senior saya waktu SISPALA) dan beberapa temannya yang lain. Saya pun pulang bareng mereka. Sampai rumah malah. Yaiyalah, tetanggaan.

solo hiking ciremai
Masak di pinggir kawah

Meski namanya Solo Hiking atau Naik Gunung Sendirian, nggak benar-benar sendiri. Saya manusia, makhluk sosial yang pada hakikatnya butuh interaksi antar sesamanya. Seperti dari kedua pengalaman saya tersebut, saya selalu bertemu orang baru. Bahkan ketemu tetangga. Pada akhirnya, naik gunung sendirian ini hanya saat berangkat dari rumah saja. Karena begitu udah di gunung, saya nggak bakal bener-bener sendiri. Kecuali kalau emang di gunung tersebut cuma saya seorang yang mendaki. Eh, tapi nggak juga sih, karena ada kamu yang selalu ada di hati. Ehm.

Tuesday, July 19, 2016

Momen Ngenes Ketika Naik Gunung

telaga taman hidup

Meski udah sering naik gunung, bukannya saya mulus-mulus aja waktu di perjalanan. Terkadang, ada aja kejadian mengenaskan yang menimpa saya. Kejadian yang bikin pendakian jadi nggak nyaman. Sampai-sampai bisa membahayakan diri sendiri. Hal itu gara-gara kelalaian saya dan teman saat menyiapkan keperluan pendakian. Berikut adalah momen-momen ngenes yang menimpa saya ketika mendaki gunung:

Sepatu yang kekecilan
Waktu naik gunung, kalau bisa, wajib malah, semua yang dipakai harus nyaman dipakai. Salah satunya sepatu. Poin pertama, usahakan pakai sepatu khusus naik gunung atau biasanya disebut sepatu trekking. Kedua, ini yang penting, pastikan ukuran sepatunya lebih besar satu nomor dari ukuran kaki. Ngepas aja nggak nyaman, apalagi kekecilan. Itu yang pernah saya alami beberapa kali.

naik gunung sepatu kekecilan
Sepatu saya yang kekecilan

Saat belum mampu beli sepatu sendiri, tiap naik gunung saya menggunakan sepatu trekking warisan milik kakak saya. Ukuran kaki saya 42-43, sedangkan sepatunya 40! Niatnya sih ngincer poin pertama, yaitu pakai sepatu gunung. Tapi bodohnya, perbedaan ukurannya yang jauh nggak saya perhatikan. Padahal saat dipakai udah jelas, itu jempol sampai nekuk saking sempitnya. Masih aja dipakai. Alhasil, kuku jempol kaki saya jadi korbannya. Beberapa minggu setelah turun gunung, jempol kaki saya nggak ada kukunya. Coplok! Yang kanan waktu habis dari Gunung Ciremai. Terus setelah dari Gunung Slamet, gantian yang kiri.

Efek peristiwa sepatu kekecilan ini yang parah terasanya saat turun gunung, karena kalau turun kan, jari-jari kaki yang nahan jadi tumpuannya. Nah itu rasanya sakit banget. Kalau udah gitu, saya jalannya jadi pelan banget dan sangat berhati-hati. So, supaya hal seperti itu nggak terjadi, wajib penuhi kedua poin yang saya sebutkan sebelumnya. Apalagi poin nomor 2!

Naik gunung tanpa alas kaki alias nyeker
Yang ini masih berhubungan sama yang sebelumnya. Bedanya kalau ini lebih lebih luas lagi, bukan cuma sepatu. Pokoknya alas kaki, mau itu sepatu atau sandal. Pernah nggak kalian naik gunung tanpa alas kaki alias nyeker? Kalau saya pernah. Itu terjadi saat pendakian pertama saya di Gunung Ciremai.

Kala itu saya mengenakan sepatu yang biasa dipakai untuk sekolah, sepatu kasual gitu deh. Bodoh memang, mau naik gunung apa mau ke sekolah. Di tengah perjalanan, di malam hari, sepatu saya jebol. Mana waktu itu posisinya cuma berdua sama teman saya, Heri, gara-gara ketinggalan dari rombongan. Saya maupun Heri nggak bawa sandal, dengan terpaksa saya harus nyeker! Disitulah momen paling menyiksa saat naik gunung untuk urusan kaki.

Sendal putus, diiket rapia deh

Berjam-jam saya nyeker hingga akhirnya saya pinjam sandal punya Ryan, setelah berhasil menyusul rombongan. Kaki saya pun terselamatkan. Tapi itu hanya bertahan semalam. Esoknya saat turun gunung, sandal pinjaman itu putus. Mau nggak mau saya harus nyeker lagi. Akibatnya kaki saya penuh luka gores. Untuk meminimalisir itu, saya berinisiatif pakai kaos kaki, begitu pikir saya. Eh baru beberapa menit, kaos kakinya bolong. Yaudah, nyeker lagi.

Berita baiknya, itu adalah pengalaman pertama dan terakhir saya nyeker saat naik gunung. Nggak mau lagi saya mengalami hal seperti itu. Solusinya biar nggak kayak saya, pakai sepatu trekking, yang masih layak pakai. Kalau solnya udah brodol, benerin. Kalau nggak bisa, beli lagi yang baru. Lalu buat jaga-jaga, bawa sandal kalau tiba-tiba sepatu jebol diluar perkiraan. Sandalnya juga jangan sandal jepit swallow, sama aja, nanti yang ada malah putus. Ujung-ujungnya nyeker juga.

Tidur menggigil di luar tenda
Apa hal yang paling nikmat saat naik gunung? Tidur. Ya, itu menurut pandangan saya. Setelah lelah mendaki seharian, tentunya hadiah terbaik adalah tidur di dalam tenda, dibalik hangatnya sleeping bag. Tapi apa jadinya kalau udah berjam-jam mendaki, malamnya malah tidur di luar tenda? Bahasa kerennya sih, tidur beratapkan langit berbintang. Iya kalau langitnya cerah, kalau mendung? Hujan yang ada.

Siapa coba yang mau malam-malam di gunung tidurnya di luar tenda? Saya juga nggak mau. Tapi saya pernah. Dua kali malah. Keduanya saya alami saat mendaki Gunung Ciremai. Waktu jaman-jamannya saya SMA, saya baru kenal yang namanya naik gunung. Saat itu mendaki gunung juga belum sepopuler sekarang, masih sepi-sepi tentram. Info yang masih jarang di internet berimbas ke wawasan saya yang minim soal dunia pendakian.

tidur di luar tenda
Ngampar diluar tenda

Kejadian pertama saat debut pendakian saya. Saya mendaki bareng 9 orang teman. Nah, detik-detik mengenaskannya terjadi saat kami sampai di pos Sangga Buana 2. Kami cuma bawa 1 tenda, punya Heri. Dengan kapasitasnya 2 person, tendanya Heri dipaksa buat masukin 4 orang. Alhasil mereka harus berdempetan. Sedangkan 6 orang lainnya (termasuk saya) ngampar matras di luar tenda. Mampus nggak tuh. Di ketinggan yang hampir tembus 3000 mdpl, saya hanya tidur beralas matras, beratap langit berbintang dan berselimutkan SB alias sleeping bag. Yang lebih ngenes, 5 teman saya lainnya juga pakai SB sih tapi dengan artian berbeda. Sarung Bag.

Pertanyaannya, dingin nggak tuh? Beuh, nggak usah ditanya! Rasanya kayak di dalam freezer kulkas, malah lebih extreme. Padahal udah pakai kaos lengan panjang, jaket 2 lapis, celana 3 lapis (celana gunung, kolor dan sempak), kaos kaki bola yang panjangnya selutut dan sembunyi dibalik SB, tapi itu nggak pengaruh. Dinginnya teteup tembus menusuk ke tulang. Nggak kebayang temen-temen lain yang sarungan doang.

desak-desakan di tenda
Desak-desakan dalam tenda dengan posisi duduk

Pengalaman kedua terjadi sebulan setelahnya. Kali ini lebih parah lagi, lebih konyol. Rombongan kami saat itu berjumlah 19 orang, 11 cowok dan 8 cewek. Nah, tenda yang kami bawa juga cuma satu. Masih tendanya Heri yang idealnya diisi 2 orang. Masalah besar, paling maksimal aja tenda itu muat 4 orang. 15 orang lainnya gimana? Solusi terbaiknya, semua cewek (8 orang) masuk ke dalam tenda dan mereka mau nggak mau harus tidur dengan posisi duduk! Kalau nggak ya, silahkan bergabung dengan para lelaki yang tidur beratap langit berbintang.

Dari 2 kali mengalami hal tersebut, kabar bagusnya kami semua selamat sentosa. Bersyukur nggak ada yang kena hypothermia meski semalaman tidur dengan kondisi mengigil menahan dingin. Dan terpaksa tidur berpelukan dengan satu sama lain demi menambah rasa hangat.

Supaya di gunung nggak ngalamin kejadian tidur beratapkan langit berbintang, gampang! Bawa tenda sesuai jumlah rombongan. Udah, gitu aja.

Dehidrasi berat akibat kehabisan stok air
Air adalah kebutuhan yang sangat penting saat naik gunung. Untuk minum, masak dan mandi. Abaikan yang terakhir. Pokoknya, air itu berharga banget. Apalagi di gunung-gunung yang nggak ada sumber mata airnya sepanjang perjalanan. Contohnya Gunung Ciremai jalur Linggajati. Jerigan 5L wajib terisi penuh dari awal pendakian.

Momen-momen kehabisan persediaan air adalah momen ngenes berikutnya. Apalagi kalau udah dehidrasi berat. Efeknya kerongkongan kering, pikiran nggak fokus dan 5L (lemah, lesu, letih, letoy dan leuleus). Imbasnya jalan jadi oleng dan sempoyongan. Tisoledat dan nyusruk jadi dampak rentetan berikutnya gara-gara udah nggak bisa fokus sama jalan di depannya.

air berharga digunung
Air sangat berharga di gunung

Peristiwa ini rada sering saya alami, tapi yang paling parah adalah saat debut di Gunung Ciremai dan ketika summit attack di Gunung Rinjani. Di Ciremai, kejadiannya saat turun gunung. Waktu itu rombongan kami terpisah jadi 3 grup. Paling depan grup pelari, mereka turunnya kayak lagi balap lari, ngebut. Kedua, grup oleng, ini jalannya sempoyongan akibat udah terserang 5L. Yang terakhir adalah grup ngesot karena jalannya lambat banget. Saya sendiri tergabung di grup oleng. Nah, di grup oleng ini isinya saya, Heri sama Gembong. Kami semua udah lemes banget gara-gara dehidrasi, stok air udah abis. Yaudah, jalan udah sering kepleset dan nyungsep deh. Kalau udah gitu biasanya saya suka mangkel sendiri. KZL. Pengennya cepet-cepet sampai rumah tapi perjalanan masih jauh.

Tapi WARNING yah, yang seperti ini jangan ditiru. Kalau mendaki gunung itu, usahakan 1 rombongan itu bareng-bareng terus, jangan terpecah. Soalnya kalau ada kenapa-kenapa kan susah juga. Kalau dulu mah saya belum begitu paham resikonya gimana.

Sedangkan di Rinjani, saya kehausan berat saat summit attack. Waktu itu kami hanya membawa persediaan air 1 botol air mineral 1.5L dan 2 botol 600mL untuk 5 orang. Ini gara-gara kami salah memperkirakan waktu pendakian dari Plawangan Sembalun ke puncak. Yang ternyata memakan waktu 8 jam (jam 3 pagi – jam 11 siang). Belum setengah perjalanan, air sudah habis. Mau balik lagi tapi tanggung. Alhasil kami tetap lanjut dengan sesekali minta air 1 – 2 teguk ke pendaki lain. Sungkan sih, tapi mau gimana lagi.

Untungnya ketika di gunung rasa kemanusiaan sesama pendaki itu tinggi, sehingga mereka dengan sukarela dan tanpa merasa berat hati memberikan sedikit airnya. Agar tidak merepotkan pendaki lain dan diri sendiri, solusinya bawa persediaan air yang banyak. Nggak perlu berlebihan, tapi secukupnya saja dan belajar untuk manajemen air yang baik ketika naik gunung.

Beban carier yang menandingi kulkas
Dan yang terakhir adalah naik gunung dengan beban carier yang berat banget. Ini juga bikin bikin frustasi. Emang sih, sebenarnya kalau bawa barang semakin banyak semakin bagus. Tapi harus dibatasi, barang-barang yang sekiranya nggak pernting nggak usah dibawa. Yang ada nambah beban saat pendakian nantinya.

Saya pernah sekali menyerah bawa carier gara-gara beratnya udah diluar kemampuan saya. Waktu itu lagi mendaki Gunung Argopuro via Bermi. Saya cuma ditemani 1 orang teman, Yogi. Mungkin ini juga salah satu faktor keputusan yang salah saya ambil. Udah pada tahu kan, kalau ke Argopuro waktu tempuh pendakian minimal 5 hari PP. Karena gelarnya sendiri adalah gunung dengan trek pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Otomatis, logistik untuk pendakian juga semakin banyak.

naik gunung bawa kulkas
Belum seluruhnya dari isi carier

Biasanya saya naik gunung minimal 3 orang, sehingga pembagian logistik bisa dibagi. Sementara waktu ke Argopuro kami bawa semi carier ukuran 25L dan sebagian besar logistik ditaruh di carier 75L. Niatnya sih bakal gantian gitu sama Yogi kalau diperjalanan pegel. Eh, realitanya saya maupun Yogi bener-bener nggak mampu menanggung beban carier seberat logistik untuk 5 hari tersebut, meski udah gantian bawanya. Badan saya rasanya remuk.

Hari pertama yang rencananya camp di Telaga Taman Hidup, gagal total! Baru setengah perjalanan, kami menyerah. Pertama kali saya menggendong carier seberat itu. Nyiksa banget. Mau putar balik, tapi sayang karena udah jauh-jauh ke Probolinggo. Akhirnya kami memilih camp tepat di pinggir jalur pendakian. Baru esoknya kami lanjut ke telaga. Tapi cuma sebentar, karena kami putuskan untuk balik pulang ke Malang.

Ini kesalahan saya memang karena terlalu memaksakan diri mendaki ketika hanya ada 2 personil yang berangkat. Ditambah ketersediaan carier yang cuma 1 bikin logistik penuh di carier tersebut. Sehingga saat mendaki, beban ditanggung oleh yang kebagian bawa carier.

Untuk menghindari hal ini, baiknya latihan fisik lagi. Biar nggak lemah. Manajemen logistik, bawa barang penting untuk keperluan mendaki saja. Lalu packing dengan beban yang seimbang untuk tiap anggota rombongan. Jangan dibebankan ke satu orang saja. Kasihan. Tapi nggak masalah sih kalau orangnya kuat, tangguh dan berjiwa porter. Atau, sekalian aja sewa porter.


Kesimpulannya, 3 dari 5 momen ngenes tersebut saya alami sekaligus pada satu pendakian. Yaitu pada debut saya di Gunung Ciremai. Mulai dari nyeker saat berangkat, tidur di luar tenda ketika malam dan dehidrasi berat waktu pulangnya. Momen-momen tersebut terjadi karea murni akibat kelalaian saya dan teman-teman saat memanajemen keperluan pendakian.

Solusi umumnya untuk semua momen tersebut adalah lakukan persiapan yang matang sebelum naik gunung. Karena saat naik gunung itu harus nyaman. Kalau nggak, ya mungkin salah satu dari kejadian di atas bisa saja terjadi. So, kenyamanan saat mendaki itu penting.

Tuesday, July 12, 2016

Menelusuri Keindahan Tiap Sudut Gunung Bromo


bromo pananjakan


Diantara Taman Nasional yang ada di Indonesia, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bisa dibilang yang paling tenar. Pamornya bukan cuma lingkup nusantara, melainkan sudah ke mancanegara. Nggak sedikit turis asing yang berlibur ke Bromo. Selama di Malang, udah 2 kali saya main ke sana.

Kesempatan pertama di bulan Februari tahun 2015 lalu. Dengan menumpak motor, saya bersama 5 orang teman berangkat ke Bromo jam 11 malam. Ada 3 jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Bromo. Jalur Tumpang (Malang), Nongkojajar (Pasuruan) dan Cemoro Lawang (Probolinggo). Kalau dari Malang sebenarnya lebih dekat lewat Tumpang, tapi jalannya rada rusak. Maka dari itu kami memilih lewat Nongkojajar, meski kami semua belum ada yang pernah, tapi petunjuknya jelas. Selain itu jalannya juga udah mulus. Sedangkan, kalau lewat Probolinggo terlalu jauh. Biasanya yang lewat Probolinggo sekalian mlipir ke Air Terjun Madakaripura. Air terjun yang terkenal dengan hujan abadinya dan konon tempat pertapaan Patih Gajah Mada.

lautan pasir bromo
Ojeg kuda (bg: Pura Luhur Poten)

Ketika memasuki Desa Tosari terjadi kecelakaan ringan. Motor yang saya tumpangi jatuh. Saat itu teman saya, Rimas, yang nyetir. Penyebabnya adalah jalanan yang awalnya aspal seketika berganti menjadi jalanan berlumpur dan tidak rata. Kami nggak sadar sebab kondisinya yang gelap tanpa penerangan. Kami hilang keseimbangan dan jatuh ke sebelah kiri. Syukurnya hanya luka kecil saja, meski pakaian kami bagian kiri jadi coklat kena lumpur.

Sekitar 2 jam perjalanan, kami tiba pos perizinan TNBTS. Karena hari itu tanggal merah kami dikenai tiket untuk hari libur sebesar Rp 37500/orang dan Rp 5000/motor (roda 2). Lalu kami lanjut ke Puncak Pananjakan. Kalau sering lihat view Gunung Bromo dan Gunung Batok yang bersandingan serta Gunung Semeru yang berdiri gagah dibelakangnya, itu dipotret dari Pananjakan. Ini juga salah satu alasan kami pilih jalur Nongkojajar.

pananjakan bromo
View dari Pananjakan

Sesampainya di sana, suasananya ramai banget. Puluhan Jeep terparkir di pinggir jalan, begitu juga puluhan motor di parking area. Dan entah berapa ratus manusia yang berkumpul di sana menunggu momen terbitnya matahari. Ini akibat perginya bertepatan dengan tanggal merah (hari raya imlek). Sehingga wisatawan membludak.

Meski masih jam 2 dini hari, kurang sekitar 3 jam lagi ke momen sunrise, tapi animo wisatawan sangat tinggi. Padahal suhu saat itu dingin banget. Sampai-sampai kami bikin kopi supaya hangat. Saat momen sunrise tiba, semua orang tumpah ruah di satu tempat yang dijadikan titik point of view. Mereka berdesak-desakan demi mengabadikan momen tersebut. Kami mah boro-boro, malas. Apalagi saat saya tiba-tiba merasa pusing dan mual (mirip sama lagi mabok, mabok di perjalanan maksudnya, kalau naik mobil). Mungkin gara-gara terlalu banyak orang yang bikin saya jadi pusing.

pananjakan bromo
Pananjakan penuh sesak

Setelah momen sunrise berakhir, wisatawan berangsur-angsur mulai turun ke lautan pasir untuk naik ke Gunung Bromo. Begitu juga dengan kami. Namun, saat sudah sampai di lautan pasir, kondisinya lebih ramai lagi. Karena wisatawan dari 3 jalur yang berbeda campur aduk di sana. Melihat antriannya yang puanjaaang, kami mengurungkan niat untuk mendaki Bromo. Sebelum kembali pulang, kami hanya mengabadikan momen di lautan pasir dengan background Gunung Batok.

lautan pasir bromo
Mejeng di Lautan Pasir (bg: Gunung Batok)

Sedangkan di kesempatan kedua hampir seluruh spot di Gunung Bromo saya explore. Kali ini saya berangkat hanya berdua dengan Mas Anggi atau biasa disebut Eng. Dia berasal dari Padang dan sedang backpacking sendirian di Pulau Jawa. Kami berangkat ke Bromo satu hari setelah pertemuan pertama kami. Ya, kami baru kenal sehari sebelumnya saat kopdar BPI Malang (Backpacker Indonesia Regional Malang). Dia merupakan kenalan dari salah satu teman saya di BPI.

lautan pasir bromo
Bareng Eng

Suasana di Pananjakan nggak seramai seperti sebelumnya, karena kami pergi saat weekday. Masih ada ruang-lah, nggak sampai berdesak-desakan. Ketika mengexplore Puncak Pananjakan, kami menemukan sebuah spot yang jauh dari keramaian. Lebih leluasa untuk mengambil gambar dari situ. Tempatnya sendiri rada turun sedikit dari titik utama Puncak Pananjakan.

Kami ke Bromo bertepatan dengan hari raya suku tengger yang disebut Kasada. Pada hari itu masyarakat suku tengger mengadakan acara di Pura Luhur Poten dan juga melakukan ritual Labuh Sesaji di Kawah Bromo. Mereka menjajakan sesajen sebagai bentuk rasa syukur kepada Shang Yang Widi yang dirayakan setiap tahun saka. Mulai dari perjalanan turun ke lautan pasir, pada titik-titik tertentu di lautan pasir, hingga di puncak Gunung Bromo terdapat sesajen.

sesajen suku tengger bromo
Sesajen (cuma motret kok, nggak nyicip)

Untuk ke puncak Bromo, tersedia anak tangga yang dilengkapi pagar dikedua sisinya. Ada hal yang bikin saya miris, yaitu saat melihat kondisi kawah Bromo. Dibalik kepulan asapnya yang keluar secara terus menerus, kawahnya dipenuhi oleh sampah! Sampah plastik seperti botol minuman hingga bekas bungkus makanan berserakan di kawahnya. Miris banget. Dibalik keindahannya yang telah mendunia, tetap saja ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang merusaknya. Beginilah kondisi obyek wisata di Indonesia. Entah apa yang ada dipikiran para wisatawan yang “tak bertanggung jawab” tersebut, sampai-sampai membuang sampah ke kawah seenaknya sendiri.

kawah gunung bromo
Sampah di Kawah Bromo

Tak lama kami di puncak, bau belerang yang menyengat bikin kami nggak betah berlama-lama. Setelah itu kami lanjut lagi ke spot berikutnya, yaitu Bukit Teletabies. Karena jalannya yang searah, kami pergi ke sana sekalian pulang lewat jalur Tumpang. Berbanding terbalik dengan lautan pasir yang gersang, di Bukit Teletabies sangat hijau. Ditumbuhi oleh banyak rumput dan pepohonan. Sehingga asik untuk nyantai dan leyeh-leyeh.

bukit teletabies bromo
Bukit Teletabies


Dengan tiket masuknya yang terbilang rada mahal, Gunung Bromo memang sangat memanjakkan mata. Saya tak henti-hentinya dibuat takjub oleh panorama alamnya yang gilaaa keren banget! Wajar kalau akhirnya TNBTS ini jadi ikon pariwisata Jawa Timur bahkan Indonesia. Untuk menjaga kelestariannya, sebaiknya pihak TNBTS memasang larangan untuk membuang sampah. Atau kalau perlu memberlakukan denda untuk setiap orang yang buang sampah sembarangan. Karena sejauh saya memperhatikannya, banyak sekali sampah berserakan. Entah itu di lautan pasir maupun di kawah. Supaya ke depan generasi berikutnya bisa menikmati keindahannya yang masih terjaga kelestariannya.

Sunday, July 10, 2016

Pertama Kali Diving, Telinga Sakit Tapi Ketagihan!

scuba diving di bunaken

Pagi itu saya too excited, gimana nggak? Hari itu adalah puncaknya acara Super Journey. Destinasi penutup kami yang merupakan highlight utama dari Super Journey, Bunaken. Selama kurang lebih 1 jam menyebrangi laut, kami tiba di Bunaken. Di sana kami akan melakukan scuba diving. Ini yang ditunggu-tunggu sama semuanya. Meski saya nggak lancar-lancar amat berenang, tapi saya sangat bersemangat!

Dari resort, kami pergi ke salah satu spot diving bernama Alungbanua. Sebuah spot yang bisa dibilang tidak seindah Bunaken pada umumnya. Karena spot tersebut biasa digunakan untuk para penyelam yang baru pertama kali mencoba diving. Struktur terumbu karang di sana tidak terlalu rapat, bahkan sebagian besar dasarnya pasir. Jadi nggak perlu khawatir bakal merusak terumbu karangnya.

scuba diving di bunaken
Otw Bunaken

Sebenarnya untuk melakukan olahraga scuba diving butuh license. Tapi karena sebagian besar belum punya, ada sebuah cara untuk menyelami keindahan bawah laut. Namanya discovery diving. Dimana para instruktur atau dive master akan mengawasi kami dengan ketat. Pemilihan spot yang aman juga menjadi prioritas utama.

Semua perlengkapan menyelam sudah siap. Mulai dari wetsuit, masker, fin, tabung oksigen, BCD dan alat lainnya dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Sebelum nyemplung ke laut, kami diberi arahan oleh dive master tentang kegunaan tiap alat dan bagaimana cara menggunakannya. Juga kode-kode tangan yang digunakan sebagai isyarat pada saat menyelam, karena saat di bawah air nggak bisa ngobrol ya.

scuba diving di bunaken
Ready to dive!

Kak Prue juga memberitahu cara equalize. Yaitu cara untuk menyamakan tekanan pada telinga. Karena semakin dalam menyelam, tekanan air laut akan semakin kuat dan itu membuat telinga menjadi sakit. Caranya seperti buang ingus tapi sambil mencubit lubang hidung. Equalize ini sangat penting, karena kalau memaksakan menyelam dengan kondisi telinga sakit tanpa melakukan equalize, bisa menyebabkan telinga terus-menerus sakit selama berhari-hari.

Setelah mendapat arahan, satu per satu dari kami nyebur ke laut. Saat yang lain udah pada nyemplung, saya justru masih sibuk mencari-cari fin yang pas. Karena fin yang sebelumnya saya bawa ternyata udah di pakai orang. Tahu sendiri ukuran kaki saya paling gede sendiri. Alhasil saya harus tukeran fin dulu sama yang lain.

scuba diving di bunaken
Masih pada ngapung dipermukaan

Setelah urusan fin beres, giliran saya pun tiba. Jantung saya berdebar-debar. Begitu nyebur ke laut, saya langsung tarik nafas dari regulator. Meski awalnya rada panik, saya bisa nafas dengan stabil setelah beberapa saat. Ketika saya mengalihkan pandangan ke bawah, yang lain sudah menyelam lebih dalam lagi. Sebagian masih kesusahan untuk turun lebih dalam, termasuk saya. Saya malah masih berkutat di permukaan. Untuk bisa tenggelam, harus melakukan deflate dengan menekan tombol deflator. Yaitu untuk mengeluarkan udara pada pelampung BCD, jadi bisa tenggelam. Pada prosesnya saya berhasil turun sampai ke dasar berkat dipandu oleh dive master. Tapi saat ditinggal dive master, saya ngpapung lagi ke permukaan. Susah banget! Padahal udah pakai pemberat juga, tapi teteup nggak bisa kelelep.

scuba diving di bunaken
Ngintip ikan

scuba diving di bunaken
Temennya Nemo

Semakin lama saya semakin terbiasa meskipun kadang masih lupa harus nafas dari mulut (bukan hidung). Mempertahankan posisi stabil di kedalaman tertentu juga susah banget. Saat saya ingin menyelam lebih dalam, badan saya justru terangkat naik ke atas. Kebanyakan dari kami juga masih belum bisa mengontrol posisi di bawah air. Hingga kami kadang saling bertubrukan. Kadang ketendang kaki orang, kejedot tabung oksigen orang. Dan yang paling parah, kepala saya kejedot kapal saat akan naik ke permukaan.

Dasar laut di bawah kapal berhenti mungkin hanya sekitar 3 – 4 meter. Tapi kalau lebih jauh lagi, ada sebuah palung yang semakin jauh semakin dalam. Warna air yang sebelumnya berwarna biru bening, kalau terus ke palung akan semakin gelap. Saya sempat menyelam sampai kedalaman 9 meter. Ternyata semakin dalam, aneka terumbu karang dan ikan semakin beragam. Sayangnya, saya kurang bisa nikmatin pemandangan di bawah laut karena telinga saya terasa sakit tanpa henti. Karena capek juga melakukan equalize terus-menerus, saya memutuskan untuk naik ke permukaan. Telinga saya masih terasa mendengung ketika menginjakkan kaki di atas kapal. Untung saya cepat naik, kalau nggak gendang telinga saya mungkin udah kenapa-kenapa.

scuba diving di bunaken
Berusaha menenggelamkan diri

Itu adalah pengalaman pertama kali scuba diving bagi saya dan langsung nyebur ke laut Bunaken. Sungguh luar biasa. Rasanya saya ingin mencobanya lagi lain waktu. Ternyata scuba diving bikin nagih, sama kayak naik gunung. Kesempatan berikutnya sepertinya saya wajib untuk berlatih dan membiasakan memakai peralatan selam di kolam renang terlebih dahulu. Karena setahu saya, untuk pemula yang pertama kali diving harus melakukan intro dulu di kolam renang. Setelah itu baru terjun ke medan sesungguhnya.

scuba diving di bunaken
OK!

Setelah semua naik ke kapal, kami kembali ke resort berbarengan dengan matahari yang kembali ke peraduannya. Malamnya kami makan malam dengan masakan Chef Rahung yang luar biasa lezat. Malam terakhir itu terasa panjang, kami semua duduk membentuk lingkaran mengobrol obrolan yang random dan sesekali menggoda Ayu dan Bang Dewe yang dicomblangi. Tidak terasa saat waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari, kami pun mulai tumbang satu per satu.

Malam berakhir, matahari sudah naik. Saya baru bangun jam 8 pagi. Sangat telat untuk ukuran bangun pagi. Tapi bukan saya saja yang bangun kesiangan, kebanyakan dari kami juga baru bangun sekitar jam 8 – 9. Hari itu adalah hari terakhir kami melakukan petualangan. Snorkeling menjadi kegiatan penutup kami.

Dengan bermodalkan masker, snorkel dan fin kami mulai berjalan ke arah laut menuju spot snorkeling. Sebelumnya saya pernah snorkeling di Malang, waktu itu menggunakan life jacket tapi tanpa fin. Dibandingkan dengan di Bunaken, nggak pakai pelampung juga ternyata tetap ngambang di permukaan. Pikir saya bakal tenggelam, apalagi saya tidak begitu handal berenang. Dengan bantuan fin, saya juga tidak perlu mengeluarkan power yang besar saat berenang.

scuba diving di bunaken
Snorkeling yuhuu

Awalnya saya hanya berani di daerah yang dangkal, daerah dimana kaki saya masih bisa berpijak di dasar laut. Tapi semakin jauh dan semakin dalam varietas biota bawah laut semakin cantik dan berwarna. Mana yang lain juga berenang ke daerah yang dalam. Saya pun memberanikan diri berenang ke daerah yang dalam. Dan saya berhasil! Meski rada watir kalau tiba-tiba saya tenggelam dan nggak bisa naik ke permukaan. Tapi rasa takut itu tergusur oleh rasa penasaran saya pada keindahan bawah laut yang sangat eksotis itu.

Sekitar 1 jam snorkeling, kami terpaksa kembali ke resort karena harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat. 60 menit terasa kurang bagi saya untuk menikmati bawah lautnya dengan bersnorkeling. Keindahan taman laut Bunaken seolah membius saya, membuat saya candu terhadap kegiatan di laut. Seperti diving dan snorkeling yang bahkan tidak pernah terpikirkan di kepala saya sebelumnya. Tidak ada keinginan untuk menikmati panorama bawah laut. Namun kini, setelah menyaksikan secara langsung cantiknya bawah laut Bunaken, saya bertekad untuk lebih mengenal Indonesia dari bawah lautnya.

scuba diving di bunaken
Kak Prue ngibarin banner sponsor

Setelah membersihkan diri di resort, kami mampir ke Kota Manado untuk makan siang dan membeli oleh-oleh. Kemudian kami menuju Bandara Sam Ratulangi. Jadwal pesawat saya beda sendiri dengan yang lain. Saya langsung pulang ke Surabaya, sedangkan yang lainnya tetap ke Jakarta. Jam 5 teng, setelah berpamitan dengan semuanya saya buru-buru check in. Dan ternyata pesawat lion air yang akan saya naiki itu delay selama 1 jam. Alhasil jadwal keberangkatan saya hampir berbarengan dengan jadwal teman-teman. Lebih duluan saya beberapa menit, sih. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk berangkat bareng, pulang pun harus bareng. Makanya jadwal pesawat saya jadi delay. Jam 18.10 saya kembali pamit dengan semuanya. Dan kali itu pesawat saya benar-benar berangkat dan terbang meninggalkan Manado.

Sungguh 5 hari yang sangat berkesan. Teman baru, pengalaman baru, perjalanan singkat bersama orang-orang hebat ini tidak akan saya lupakan. Rasanya saya ingin lebih lama lagi melakukan petualangan bersama mereka. Kalau diberi kesempatan, tentu saya ingin bertemu mereka lagi, bertualang bersama, berbincang dan bersenda gurau dengan duduk membentuk lingkaran sambil makan malam (masakannya Bang Rahung tentunya) di pinggir pantai seperti yang kami lakukan di Bunaken.

Terima kasih semuanya, semoga kita bisa berjumpa kembali!

Berikut video saat kami scuba diving di Alungbanua. (video by Marischka Pruedence)



Friday, July 1, 2016

Pasar Extreme Tomohon, Semua yang Berkaki Dimakan

pasar extreme tomohon


Mobil elp yang kami tumpangi melaju meninggalkan Gunung Mahawu. Kami turun gunung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pasar Beriman Tomohon. 15 menit perjalanan melewati jalan khas pegunungan, kami akhirnya sampai di pasar yang biasa disebut sebagai Pasar Extreme ini. Ketika turun dari mobil, saya melihat suasana pasar layaknya pasar tradisional pada umumnya. Orang-orang di sana menjual berbagai dagangan seperti sembako, sayur-mayur, buah-buahan, ikan dan daging. Nggak ada bedanya sama pasar-pasar lainnya.

Kami berjalan menyusuri sudut-sudut pasar hingga menemukan persimpangan yang terdapat sebuah plang bertuliskan “Pasar Extreme”. Saya penasaran, seperti apa sebenarnya kondisi pasar extreme tersebut. Saat saya memasuki area itu, ternyata di situ adalah lokasi orang berjualan daging. Namun yang membuat saya tercengang, daging yang dijual di sana bukanlah daging hewan yang lazim diperdagangkan di pasar Indonesia kebanyakan.

Emang sih ada juga daging sapi, kambing atau ayam yang dijual. Tapi yang menjadi daya tarik adalah daging-daging seperti anjing, kucing, babi hutan, paniki (kelelawar), ular piton, tikus sawah ekor putih, hingga Yaki (monyet khas Sulawesi Utara) yang dijual secara bebas di pasar ini. Saya jadi ingat yang dibilang Bang Bui saat kami makan sehari sebelumnya, dia berkata “Di Manado, semua yang berkaki dimakan kecuali meja sama kursi”. Saya percaya dengannya setelah melihat hewan-hewan tersebut dijadikan bahan makanan.

pasar extreme tomohon
Tikus Sawah Ekor Putih

pasar extreme tomohon
Paniki atau kelelawar

Daging anjing dan kucing dijual secara utuh dengan kondisi yang sudah dibakar. Hewan-hewan tersebut dieksekusi dengan cara diikat lehernya kemudian dipukul kepalanya sampai mati, baru setelah itu dibakar. Untuk tikus sawah ekor putih, sebelum dibakar tubuhnya ditusuk terlebih dahulu. Jadi seperti sate tikus, tapi dengan kondisi utuh. Lalu bagian ekornya tidak ikut dibakar karena untuk menandakan bahwa itu adalah tikus ekor putih, bukan tikus rumahan seperti si Jerry. Sedangkan si batman alias paniki dijual terpisah antara badan dengan sayapnya.

pasar extreme tomohon
Anjing

pasar extreme tomohon
Kucing

Saya sempat melihat beberapa anjing hidup yang dikurung di dalam kandang, anjing-anjing tersebut memasang ekspresi ketakutan. Sepertinya mereka tahu, bahwa mereka tinggal menunggu giliran saja untuk dieksekusi. Hewan-hewan yang tidak lazim dijual tersebut nggak setiap hari bisa ditemukan di pasar. Seperti babi hutan dan yaki, saya tidak menemukannya ketika ke sana. Yang memprihatinkan waktu saya mendengar cerita dari Bang Arlen kalau kucing di sana udah jarang ditemukan, mungkin akibat terlalu sering dijadikan santapan orang Manado. Padahal, mereka adalah hewan yang lucu. Nggak kebayang kalau sampai dijadikan menu makan malam.

pasar extreme tomohon
Ular piton

pasar extreme tomohon
Anjing yang siap dieksekusi

Setelah puas (atau lebih tepatnya nggak tahan) berkeliling di Pasar Extreme, kami sarapan di warung makan di daerah Wakeke. Untungnya saya nggak kehilangan selera makan, sehingga saya bisa makan Bubur Tinutuan khas Manado. Bubur ini terbuat dari bahan-bahan seperti beras, jagung, labu dan sayuran lainnya. Rasanya nggak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Namun terasa lebih khas karena ada rasa manis dari jagung mudanya.

bubut tinutuan
Bubur Tinutuan

Kemudian kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Rencananya kami akan melakukan canyoning di air terjun Tinoor. Canyoning sendiri seperti Rappeling yaitu menuruni tebing menggunakan teknik descending pada seutas tali kernmantel. Bedanya kalau Canyoning menuruni air terjun. Tentunya akan lebih menantang dibanding rappeling. Karena selain harus fokus turun, pastinya akan semakin sulit karena bakal dihujam oleh air terjun.

Setibanya di penginapan, Bang Ian memberitahukan kalau jam 12 kami harus sudah check out. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur. Dan sekalinya merem, saya baru bangun saat tinggal beberapa menit lagi sebelum jam 12. Saat bangun, saya melihat Dena masih jongjon. Di grup WA juga belum ada yang nyuruh kumpul. Saat lihat keluar, ternyata hujan deras. Roman-romannya ini bakal nggak jadi canyoning. Padahal udah kepengen banget.

Kemudian jam 12.30, barulah Bang Ian ngechat di grup untuk siap-siap berangkat. Ketika kami sudah berkumpul semua, dia kasih tahu kalau canyoning dibatalkan. Bingo! Firasat saya menjadi kenyataan. Hujan deras selama berjam-jam membuat aliran air terjun menjadi sangat deras dan berbahaya untuk melakukan canyoning. Walhasil, agenda kami batal dan menjadi lowong. Lalu kami rembukan dan memutuskan untuk menonton film Captain America: Civil War di bioskop. Baliknya ada kejadian konyol. Waktu mau keluar mall, kami semua kehilangan arah alias nyasar. Sampai-sampai kami baca peta, tapi tetep nggak ketemu. Gara-gara hal itu muncul lelucon kalau kami yang notabene kebanyakan pendaki gunung, nggak pernah tuh kesasar waktu di hutan, eh giliran di mall malah pada bingung nyari jalan. Emang dasar anak gunung. Setelah menemukan jalan keluar, kami akhirnya bisa pulang dan balik ke penginapan.

captain america civil war
Baca peta, tapi tetep nyasar