Tuesday, August 30, 2016

Air Terjun Mangku Sakti Memang Benar-benar Sakti!

air terjun mangku sakti sembalun

Beberapa minggu sudah saya hidup di Mataram dan tiap weekend selalu mangtai. Namun, lama-lama bosen juga. Karena main ke pantai itu panas, tapi bukan berarti saya takut item. Justru saya pengen punya kulit coklat-coklat eksotis gitu. Sebenarnya bisa sih nyebur ke laut biar nggak panas, tapi air laut itu nggak segar. Mana rasanya asin, nggak bisa diminum. Oleh karena itu, pada weekend berikutnya saya memilih jalan-jalan ke air terjun. Yang airnya segar dan bisa diminum. Biar nggak perlu beli air minum lagi gitu. Ehm, maklum backpacker.

Air terjun yang saya kunjungi adalah Air Terjun Mangku Sakti yang berada di Sembalun. Dibandingkan dengan Air Terjun Sendang Gile atau Air terjun Tiu Kelep yang cukup terkenal di Lombok, Mangku Sakti ini merupakan destinasi yang tergolong baru. Btw, pada perjalanan kali ini Saifud nggak ikut. Dia pulang ke Lamongan karena ada keperluan keluarga. Biar nggak berduaan doang, Yogi ngajak temannya. Rudy dan Oky.

Dengan letaknya yang berada di daerah Sembalun, untuk menuju ke sana membutuhkan waktu setidaknya 3 jam perjalanan dari Mataram. Maka dari itu saat waktu menunjukkan jam 9 pagi kami berangkat. Perjalanan menuju Mangku Sakti harus banyak-banyak nanya sama orang. Sebenarnya kalau mau mengandalkan google maps juga bisa. Awalnya kami juga gitu, tapi dengan minimnya sinyal di sana mau nggak mau teteup pilihannya cuma bertanya sama warga setempat.

air terjun mangku sakti sembalun
Lewat padang savanna juga

Namun, nanya sama warga pun nggak semulus yang saya bayangkan. Di tempat yang perkiraan letaknya masih lumayan jauh dari TKP. Orang-orang di sana kebingungan saat kami tanyakan arah ke Mangku Sakti. Mereka taunya Air Terjun Sendang Gile. Tak patah arang, sambil terus maju kami terus bertanya pada warga berkali-kali. Hingga entah untuk kali ke berapa kami bertanya dan syukurlah bertemu dengan orang yang tau Air Terjun Mangku Sakti. Kami pun mengikuti arahan yang dia berikan.

Setelah hampir 2 jam, akhirnya kami tiba juga di… loket masuk Mangku Sakti. Dari situ masih harus lanjut dengan melewati jalan makadam sejauh 3km. Hadeuh masih jauh, mana harus lewat jalan makadam. Padahal pantat udah tepos. Oiya untuk tiket masuknya murah, hanya dipatok 5K/orang. Jalan makadam yang kami lewati bukan jalan makadam biasa. Medannya yang naik turun dan berbatu memaksa yang dibonceng (saya dan Rudi) harus turun beberapa kali dari motor. Bukan motornya yang nggak kuat, tapi khawatir bannya pecah. Kalau terjadi, mau nambal dimana coba? Benar apa yang dibilang Rudi, jalannya horror. Rasa-rasanya mending jalan kaki daripada naik motor. Capek dikit nggak apa-apa lah ya.

air terjun mangku sakti sembalun
3 air terjun + bukit panorama

air terjun mangku sakti sembalun
Harus trekking dulu

Berbagai medan telah kami lalui, mulai dari padang savanna hingga blusukan ke dalam hutan. Akhirnya! Kami sampai… di parkiran. Duh. Belum ada tanda-tandanya pula. Dalam hati saya berkata “Ini beneran ada air terjunnya nggak sih?” Saya menghampiri bapak-bapak paruh baya berumur antara 55 – 60 tahun yang sedang memperhatikan kami. Saya bertanya, “Ngapain lu lihat-lihat?” Bukan, maksudnya saya bertanya pada beliau apakah ke air terjunnya masih jauh atau tidak. Dan saya senang ketika mendengar jawaban darinya kalau ke Air Terjun Mangku Sakti dan Mangku Kodek hanya tinggal 15 menit berjalan kaki. Sedangkan untuk ke Air Terjun Kuda Sembrani butuh waktu 30 menit, karena arahnya yang berbeda. Sebelum pergi kami diberitahu oleh bapak itu kalau nggak boleh mandi di Air Terjun Mangku Kodek. Katanya pernah ada “kejadian”. Saya paham apa yang dimaksud jadi saya hanya meng-iya-kan tanpa bertanya lebih lanjut.

Seperti yang di bilang bapak yang kami temui, setelah 15 menit trekking AKHIRNYA kami tiba di Mangku Sakti! Kali ini beneran sampai di TKP. Pemandangan berupa batu-batu besar (yang biasa ditemui kalau di sungai) menyambut kami. Setelah mendaki batu yang posisinya rada tinggi, saya dibuat takjub dengan keindahan air terjun setinggi 40m ini. Gimana nggak? Aliran airnya yang mengalir berwarna hijau tosca dan berpadu dengan ornamen berupa bebatuan sungai membuatnya terlihat cantik! Usut punya usut, warnanya yang hijau tosca tersebut berkat kandungan belerang pada airnya. So, untuk yang punya penyakit kulit (panu, kurap, dll) langung nyebur aja!

air terjun mangku sakti sembalun
Produk lokal yang kuat di Lombok *bukan endorse*

air terjun mangku sakti sembalun
Ada juga yang menyebutnya dengan Kali Putih

Nggak banyak wisatawan yang datang, hanya ada sepasang bule yang ditemani oleh guidenya. Itu pun mereka mau pulang ketika kami sampai. Entah darimana mereka bisa tahu keberadaan air terjun ini. Meski udah pernah di sambangi oleh host-hostnya MTMA, tapi Mangku Sakti ini tergolong destinasi baru. Belum begitu terkenal, bahkan warga-warga di sana aja banyak yang nggak tahu.

Spot ini emang fotogenic banget, saat pertama kali sampai saya reflek jeprat-jepret. Nggak lupa, tujuan utama saya datang ke sana adalah main air. Udah beberapa kali ngerasain air lautnya Lombok, saya juga ingin dong merasakan kesegaran air terjunnya. Tapi sayang ada belerangnya, jadi nggak bisa diminum. Eh. Tapi dengan adanya belerang bisa juga melakukan hal lain. Yaitu luluran. Ya, luluran pakai belerang. Melihat wisatawan lain luluran, saya penasaran dan nyobain. Tapi kok jijik-jijik gimana gitu ya, soalnya warnanya kuning-kecoklatan gitu. Udah kayak eek aja. Ah, bodo amat. Yang penting luluran!

air terjun mangku sakti sembalun
Luluran yang menjijikan

Selain bisa main air dan luluran, bisa juga nyobain rasanya sensasi dipijat sama air terjun. Dibandingkan pijat++, dipijat sama air terjun rasanya sungguh greget! Lebih
kayak dipukul daripada dipijat. Tapi seru! Apalagi sambil teriak-teriak, rasanya plooooong banget. Kalau mau nyobain tinggal mendekat aja ke titik jatuhnya air terjun, kolam di sekitarnya nggak dalam kok. Tapi cari yang di pinggir aja, soalnya kalau guyuran air terjun itu kena kepala. Lumayan sakit juga. Secara udah kayak dipukul rasanya.

air terjun mangku sakti sembalun
Pijat-pijat air terjun

Hanya sekitar 2 jam kami di sana. Dengan perjalanan yang membutuhkan waktu 3 jam. Kami memutuskan untuk pulang karena takut kemalaman di jalan. Sungguh, kalau ada waktu banyak, saya ingin menikmati Air Terjun Mangku Sakti lebih lama lagi. Sekalian explore Air Terjun Mangku Kodek dan Kuda Semberani yang nggak sempat saya sambangi.

air terjun mangku sakti sembalun
Yogi keasyikan dipijat

air terjun mangku sakti sembalun
Rudy dan Oky

air terjun mangku sakti sembalun
Salam dari deadpool

Tuesday, August 23, 2016

Menyelisik Kehidupan di Gili Trawangan

gili trawangan

Jika berlibur ke Lombok, kebanyakan orang pasti akan memilih Gili Trawangan atau mendaki Gunung Rinjani. Memang benar, dulu saya juga berpikiran begitu. Karena 2 tempat itu adalah sesuatu yang Lombok banget. Namanya sudah menggema ke seluruh dunia. Orang-orang yang yang habis dari RInjani biasanya selalu menyempatkan mampir dulu ke Gili Trawangan. Alasannya sama, udah jauh-jauh ke Lombok, mending sekalian aja. Kapan lagi kan ya?

Beberapa minggu yang lalu saya juga habis dari sana, tepatnya tanggal 31 Juli – 1 Agustus lalu. Mengobati rasa penasaran. Masih bersama Saifud, Yogi dan juga Ari (adiknya Yogi). Kami berencana bermalam di sana, karena menurut penuturan Yogi, di Gili Trawangan bakal terasa beda saat malam hari. Tapi kami mau pilih cara yang hemat dengan camping. Sebenarnya banyak homestay murah dengan harga 100k/malam. Tapi tetep kan lebih hemat ngecamp. Cukup dengan modal sewa tenda seharga 30k/hari. Itu pun dibagi empat mbayarnya. Jauh lebih hemat! Yah meskipun itu jauh dari kata nyaman. Tapi yang namanya backpacking nggak memprioriskan kenyamanan.

Untuk menuju Gili Trawangan, harus ke Bangsal terlebih dahulu. Di sana merupakan tempat penyebrangan menuju 3 gili (Trawangan, Meno dan Air). Ada 2 jenis kapal yang bisa digunakan. Fast boat dan Public boat. Untuk public boat, sistemnya beli tiket, lalu menunggu kapal penuh dulu baru berangkat. Harganya ditarif 15k/orang. Sedangkan kalau fast boat, begitu bayar tanpa babibu langsung berangkat. Tapi ya berat di dompet. Toh, kalau naik public boat juga paling lama 45 menit udah sampai. Buat kami yang nyari hemat ya nggak ada opsi untuk naik fast boat. Oya, kalau bawa kendaraan pribadi, banyak kok tempat penitipan di sekitar bangsal yang dihitung per hari.

gili trawangan
Tarif Public Boat

gili trawangan
Kek gini nih dalam boatnya

Setelah menyebrang laut sekitar 30 menit, akhirnya saya menginjakkan kaki di Gili Trawangan. Tulisan Trawangan yang berukuran besar menjadi magnet saat pertama kali terlihat ketika masih berada di kapal. Kemudian kami mulai berjalan mengelilingi pulau. Jauh seperti yang saya bayangkan, Gili Trawangan ini di sekeliling pulaunya berjejer café, resort, restoran, operator diving hingga tour organizer. Hanya pulau di sisi timur dan utara yang masih alami alias belum dibikin tempat seperti itu. Itu pun cuma di beberapa titik. Entah untuk beberapa tahun ke depan, mungkin seluruh sisi pulau nggak ada lagi pantai netral.

gili trawangan
Gini suasananya

Sesuai hasil riset saya dari internet, di Gili Trawangan memang tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor. Selain berjalan kaki, wisatawan bisa menyewa sepeda ontel seharga 50K/hari. Kalau mau enak naik cidomo (delman) aja dengan harga 100K++ yang bisa ditumpangi 3 – 4 orang. Kalau pun ada motor, itu adalah motor listrik yang digunakan oleh sebagian pribumi di sana. Jumlahnya pun nggak banyak. Gimana dengan kami? Tentu saja kami jalan kaki. Apalagi yang gratisan selain itu?

gili trawangan
Bule semua

Yang unik adalah kami yang orang Indonesia, yang notabene adalah tuan rumah, malah berasa jadi turis asing di sana. Beneran. Mayoritas wisatawannya adalah orang luar negeri. Meski ada juga orang lokal, tapi hanya segelintir yang saya temui (pengecualian untuk pribumi di sana ya). Yang bikin saya heran, ketika kami sedang menikmati perjalanan sambil lihat kanan kiri, ada seorang bule yang dengan lancarnya ngomong Bahasa Indonesia. Awalnya saya kira itu emang orang Indonesia yang ngomong, begitu di perhatikan lagi, eh ternyata beneran bule. Gilaaa, udah berapa lama itu bule ada di Trawangan sampai bisa-bisanya dia ngomong begitu fasihnya, atau jangan-jangan dia lahir di sana.

Kehidupan di Trawangan memang bisa dibilang sudah bercampur antara orang lokal dan wisatawan mancanegaranya. Bukan cuma peristiwa bule ngomong bahasa kita, banyak juga resort-resort yang pemiliknya adalah bule atau restoran yang menjual makanan dan minumannya dengan mata uang dollar. Menarik bukan? Menarik isi dompet maskudnya.

Semakin kami melangkah ke utara, lalu ke timur, suasananya jadi semakin sepi. Pusat keramaian sepertinya memang berada di sisi pulau bagian barat, titik terdekat ke dermaga. Untuk yang nggak suka keramaian, mlipir saja ke arah timur / utara. Meskipun emang suasananya sepi, home stay dan restoran ada kok. Tapi paling cocok untuk yang mau ngecamp seperti kami ini. Karena udah nggak memungkinkan mendirikan tenda di bagian barat. Masa iya mau ngecamp di depan café, kenapa nggak di dalemnya aja sekalian.

gili trawangan
No polusi!

Kami berhenti berjalan ketika sampai di sebuah tempat bernama Ombak Sunset. Kalau pernah lihat orang foto main ayunan di pinggir pantai, ya itulah tempatnya. Ombak sunset sendiri adalah nama sebuah hotel yang dengan cerdiknya menarik perhatian orang dengan cara unik tersebut. Apalagi di situ merupakan spot sunset. Aah, suasana romantisnya ngena banget kalau berada di sana. Sambil menunggu momen matahari tenggelam tiba, kami main gapleh!

gili trawangan
gaplehan

gili trawangan
Ombak sunset

Ketika matahari sudah kembali ke peraduannya, kami kembali berjalan ke pulau bagian barat untuk makan malam. Saya mengajak yang lain untuk makan di pasar seni. Sebuah tempat lapang (nggak luas-luas amat kek lapangan juga sih) yang setiap malam pedagang makanan akan menggelar warungnya di sana. Di situlah satu-satunya tempat makan yang waras bagi saya. Dengan 20K (masih termasuk mahal sih buat dompet haha) saya bisa makan dengan kenyang dan tanpa penyesalan. Karena daripada makan di restoran yang tentunya bakal menguras dompet saya yang udah tipis ini.

Yang bikin saya kesel, entah cuma ke kami doang atau nggak, mas-mas penjual makanannya seperti mengesampingkan kami. Mereka terlihat lebih ramah saat melayani bule daripada kami. Ketika sudah pesan makan, kami bingung karena kursinya penuh. Kami bertanya pada mereka apa ada tempat yang bisa kami gunakan, namun mereka terkesan cuek dan hanya bilang “iya mas nanti dicariin”. Setelah berdiri lebih dari 5 menit, kami di antar duduk di tempat yang bukan ‘lapak’-nya. Begitu ia pergi, baru saja kami mau duduk datang sang empunya lapak dan bilang kalau nggak boleh duduk di situ. Karena tiap warung punya lapaknya masing-masing. Wtf! Udah terlanjur naik pitam dan malas berurusan dengan mereka lagi, kami cari tempat sendiri dan dapatlah sebuah kursi yang menghadap persis di depan kuda. Bodo amat, yang penting kenyang dah!

gili trawangan
Pasar seni, rame kalau malam

Sehabis makan, kami kembali ke tempat yang sepi untuk mendirikan tenda. Saat menemukan lapak yang cukup sepi, saya bertanya ke orang yang sedang asyik bernyanyi sambil bermain gitar, “Mas, boleh diriin tenda disini nggak ya?” Salah satu dari mereka menjawab, “Saya juga nggak tau mas, kita juga rencana mau ngecamp disini.” Saya kira mereka warga asli sini, saat ditanya darimana, eh ternyata urang Bogor. Jadilah kami ngobrol pakai Basa Sunda. Btw, mereka adalah anak vespa yang baru turun dari Rinjani. Yang keren, dari Bogor mereka ke Lombok naik vespa. Berapa lama perjalanan? Seminggu! Tapi seminggu itu mereka berhenti di beberepa kota untuk menghadiri gathering katanya. Kemudian kami mendirikan tenda secara berdampingan.

Begitu selesai mendirikan tenda, Saifud dan Ari memilih untuk tidur. Sedangkan saya, Yogi dan orang Bogor mencari masjid untuk menunaikan ibadah shalat. Saya sendiri punya misi khusus, yaitu menuntaskan panggilan alam yang sedari tadi ditahan. Heu..

gili trawangan
suasana yang familiar

gili trawangan
ga boleh pakai bikini

Untuk ke masjid, harus masuk ke bagian dalam pulaunya. Tempat orang-orang pribumi tinggal dan juga homestay yang kelihatannya murah banyak ternyata. Yang bikin saya antara heran dan takjub, saat membandingkan bagian luar pulau / pinggir pantai sesak oleh berbagai tempat hiburan seperti café, bar dan karaoke. Tiap tempat sangat berisik karena menyetel musik dengan keras. Apalagi tempat-tempat tersebut di penuhi oleh bule yang menguatkan kesan kalau saya bukan lagi di Indonesia, kami seperti minoritas. Namun, begitu masuk rada ke dalam pulau (ya sekitar 100m lah), suasananya berubah drastis. Saya sangat familiar karena kesan Indonesianya dapat banget. Kalau di pinggir pantai denger musik reggae, saat ke tempat pribumi saya mendengar suara orang ngaji. Sungguh perbedaan yang jauh yang hanya dipisahkan jarak 100m.

Hebatnya, orang pribumi di Trawangan sepertinya tidak merasa terganggu dengan kondisi yang seperti itu. Mungkin mereka juga mengerti. Dengan kondisi seperti itu, mereka bisa memenuhi kebutuhannya dengan membuka usaha atau pun bekerja di tempat-tempat tersebut. Btw, hasil dari obrolan-obrolan bersama warga pribumi, kalau harga tanah di Gili Trawangan dibandrol Rp. 100 juta/1m. Beuh. Mangga kalau punya banyak duit bisa berinvestasi dengan buka usaha di Trawangan. Buka rental PS barangkali?

gili trawangan
Tariiik mang

Rasanya heman, udah jauh-jauh ke Gili Trawangan kalau cuma numpang tidur doang. Sekedar ingin menikmati malam, saya dan Yogi berjalan berkeliling nyari yang aneh. Kami pun berhenti di sebuah bar bernama “sama-sama reggae”. Mungkin ada yang pernah ke situ? Sesuai namanya, di situ lagu yang dibawakan reggae semua. Tepat di depan panggung, turis lokal maupun turis asing campur aduk dan joget bareng. Tapi saya nggak ikut joget, cuma nyanyi doang (padahal lagunya aja nggak hapal). Nggak kerasa, kami berada di situ sampai jam 12++. Karena udah capek joget, eh bukan, capek nyanyi, kami kembali ke tenda dan bergabung dengan Saifud yang udah pergi ke alam mimpi.

Paginya ketika matahari belum terbit, saya bangun dan jalan-jalan pagi sekedar mencari momen sunrise. Meninggalkan yang lain yang masih tertidur pulas. Saya berjalan hingga ke dermaga, spot yang katanya bagus untuk melihat sunrise. Nggak banyak orang yang mencari momen sunrise, mungkin masih pada kecapekan akibat joget semalaman.

Setelah menikmati sunrise, saya kembali ke tenda dan leyeh-leyeh sebentar sambil menonton orang yang lagi sufing. Tertantang rasanya diri ini ketika melihat orang dengan asyiknya berselancar di atas gulungan ombak. Namun apa daya saya belum berani. Kan katanya kalau mau surfing harus lancar berenang, soalnya mainnya rada ke tengah laut, nggak di deket pantai. Lah saya? Lupakan.
Saat waktu menunjukkan jam 9, saya kembali ke Lombok dengan berat hati.

gili trawangan
Ehem, kapan bisa gini

gili trawangan
Salut sama bule ini, sukarela ngumpulin sampah

Tuesday, August 16, 2016

Berlari Mengejar Sunset di Pantai Gading


pantai gading mataram lombok


Pantai Senggigi, Kuta Lombok, Tanjung Aan dan pantai-pantai tenar lainnya memang banyak digandrungi wisatawan lokal dari luar Pulau Lombok. Bahkan dari berbagai penjuru dunia. Namun nggak semua pantai di Lombok begitu, misalnya Pantai Gading. Bukan, bukan nama negara di Afrika yang melahirkan pemain bola ternama Didier Drogba. Tapi ini beneran pantai. Nggak tau kan? Padahal ini ada di Lombok lho. Tepatnya di daerah Pagutan, Mataram.

Kalem, awalnya saya pikir juga itu nama negara. Wajar sih, pantai ini jarang terekspos di social media. Sebenarnya pantai ini ramai, apalagi kalau weekend. Tapi yang bikin ramai itu bukan orang jauh, alias pribuminya sendiri. Orang Lombok juga kan manusia, mereka butuh piknik biar. Nah, Pantai Gading ini lah yang jadi destinasi mereka di Lombok. Khususnya yang tinggal di daerah Mataram.

pantai gading mataram lombok
Jogging di pantai asyik

Saya tahu keberadaan pantai ini karena selalu melewatinya saat berangkat maupun pulang dari tempat magang. Letaknya berada sekitar 100m dari jalan raya. Posisinya yang berada di sisi bagian barat Pulau Lombok menjadikannya spot yang tepat untuk menyaksikan sunset. Tapi saya mau menikmatinya dengan cara yang berbeda.

Kalau ke pantai itu kan biasanya parkir motor, jalan sedikit, udah deh sampai di pinggir pantai. Beda kalau naik gunung yang butuh perjuangan untuk sampai puncak. Sehingga ada rasa syukur, puas dan lega ketika berhasil mencapainya. Nah maka dari itu, supaya ke pantai ada rasa-rasa seperti itu saya putuskan untuk jogging. Setelah seminggu bolak-balik kos – tempat magang, menurut perkiraan saya, jarak dari kos ke pantai nggak begitu jauh dan juga nggak deket-deket amat. Jogging adalah pilihan yang tepat. Itung-itung olahraga.

Untuk memastikan jalannya, saya buka google maps sekalian pengen tahu jarak dari kos – pantai berapa kilometer. Pada google maps saya isi titik awal dengan alamat kos dan tujuannya saya ketik “Pantai Gading”. Begitu saya enter hasil yang keluar malah lintas benua. Gila aja siapa yang mau lari dengan jarak segitu jauhnya. Usut punya usut, ternyata titik destinasi yang terbaca oleh google maps adalah Pantai Gading yang ada di Afrika! Ngerjain emang nih google maps. Lari marathon aja nggak sampai lintas benua kan ya.

pantai gading mataram lombok
Kosan ke afrika!

Kemudian saya ganti pakai waze (semacam google maps). Untunglah si waze ini nggak nyasar ke Afrika. Jarak dari kos ke pantai pun akhirnya bisa saya ketahui. Jaraknya sekitar 5km, cocok! Jam 4 sore WITA saya berangkat sendiri meninggalkan Saifud yang memilih untuk molor saat saya ajak.

pantai gading mataram lombok
ini baru bener

Sebelum memasuki jalan raya, saya harus melewati sebuah kampung yang menurut obrolan Bapaknya Yogi dan tetangganya bahwa kampung itu dahulu adalah kampung maling. Ya, warga-warganya nggak punya profesi sehingga memilih jalan yang salah. Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah kembali ke jalan yang benar alias tobat.

Belum berapa lama lari, ujung-ujung jari kaki saya terasa sakit. Ini kesalahan saya gara-gara nggak pakai kaos kaki, otomatis kaki langsung bergesekan dengan sepatu tanpa pelindung. Alhasil kaki saya lecet. Karena perih juga lari sambil nahan luka lecet, saya sesekali jalan kaki. Pada akhirnya malah banyak jalannya dari pada larinya. Hahaha!

pantai gading mataram lombok
Leyeh-leyeh dulu

Sesampainya di Pantai Gading, suasananya ramai banget. Anak muda, orang tua sampai bocah tumpah ruah di pantai yang garis pantainya cukup panjang ini. Sambil menunggu sunset saya berkeliling sambil memperhatikan suasana pantai, termasuk apa yang dilakukan orang-orang di sana. Ada yang renang, main pasir, main kano, main voli hingga yang pacaran juga banyak. Di pinggir pantai menjauh dari gigir pantai berjejer pedagang asongan yang menjajakan jajanannya. Ada juga warung-warung makan yang menjual ikan bakar. Dengan jumlah pengunjungnya yang ramai, saya yakin kalau pantai ini cukup populer bagi orang-orang asli Lombok. Khususnya yang tinggal di daerah setempat.

Setelah jajan dan berkeliling pantai, mataharinya tetap nggak mau turun. Sambil menunggu sunset, saya pilih untuk leyeh-leyeh. Saya tiduran di spot yang rada sepi. Ternyata tiduran di pasir pantai sambil memandangi langit sore dengan orkestra berupa suara ombak sungguh membuat pikiran saya rileks. Seolah masalah-masalah yang ada lenyap begitu saja. Suasana itu benar-benar bikin saya betah berlama-lama.

pantai gading mataram lombok
Rame pisan euy

pantai gading mataram lombok
Main voli pantai

pantai gading mataram lombok
Bisa juga nyangtai begini

Momen yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Senja. Momen yang selalu dirindukan oleh para pencintanya. Sama seperti momen sunrise yang selalu dirindukan oleh para pencinta ketinggian. Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan bagaimana indahnya momen tenggelamnya matahari terjadi. Entah kenapa yang saya pikirkan kalau sunset itu identik dengan sesuatu yang romantis. Sekarang saya memang hanya sendirian menyaksikan momen sunset ini. Tapi nanti suatu hari kamu mau yah saya ajak melihat sunset di pantai? #eeaaa

Pada akhirnya meski kaki saya lecet-lecet, namun perjuangan saya berakhir manis. Jogging sejauh 5km untuk mengejar sunset memang nggak seberapa dibanding perjuangan mencari sunrise yang dilakukan di malam hari dengan waktu yang nggak sebentar. Meski pun keduanya adalah momen yang berbeda. Namun, ada satu persamaan. Sama-sama istimewa.

pantai gading mataram lombok
Berlayar di bawah langit senja


pantai gading mataram lombok
sunsetnyaaa

Tuesday, August 9, 2016

Nikmatnya Leyeh-leyeh di Pantai Setangi

pantai setangi lombok

Bagi sebagian orang, selain Gunung Rinjani, Lombok identik dengan wisata pantai. Pantai Senggigi dan Gili Trawangan berada di urutan teratas yang menjadi destinasi tujuan para traveler. Tapi sebenarnya Lombok punya banyak sekali pantai. Yang bisa dibilang lebih nyaman dinikmati untuk bersantai dibanding 2 destinasi yang disebutkan sebelumnya. Salah satunya adalah Pantai Setangi.

Pantai Setangi adalah sebuah pantai yang garis pantainya relatif pendek. Lokasinya berada sebelum Bukit Malimbu atau setelah Pantai Senggigi. Kalau dari Senggigi, ikuti saja jalan ke arah bangsal. Nah, letaknya tepat berada sebelum Villa Hantu. Pintu masuknya saja tidak terlihat karena seperti masuk ke kebon orang. Tapi ada tulisannya kok. Masuk ke Pantai Setangi hanya di kenai karcis parkir seharga 2K untuk sepeda motor.

pantai setangi lombok
Pantai Setangi dijepret dari villa hantu

Begitu memposisikan motor di tempat parkir, saya melihat tak banyak wisatawan yang berkunjung. Terlihat dari jumlah sepeda motornya yang dapat dihitung oleh jari. Di sekitar pantai terdapat beberapa warung jajanan dan gubuk yang digunakan sebagai tempat berteduh. Di belakang pantai di dominasi oleh pohon kelapa. Sedangkan di sisi utara pantai terdapat tebing karang yang menjulang tinggi. Nah, di atasnya itu letak villa hantu berada. Villa Hantu sendiri adalah villa yang baru setengah jadi, namun tidak dilanjutkan pembangunannya. Penyebabnya karena villa itu dibangun terlebih dahulu tanpa izin, setelah izin justru tidak diperbolehkan membangun villa di daerah itu. Alhasil villa itu terbengkalai. Meski namanya begitu, tapi nggak seserem namanya kok, biasa aja. Tapi saya nggak jamin kalau malam ya, soalnya saya ke situ siang-siang. Hehe!

pantai setangi lombok
Villa Hantu

Saya tiba di Pantai Setangi ketika matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya. Namun cuaca yang panas seperti itu menjadi sesuatu yang dicari oleh wisatawan mancanegara alias bule. Semua bule yang ada di Pantai Setangi sedang asyik berjemur di pasir pantainya yang putih. Sedangkan kami dan wisatawan lokal lain justru nyari tempat yang teduh seperti di bawah pohon, di gubuk atau di bawah tebing karang. Alasan kenapa orang Indonesia nggak ada yang berjemur seperti yang dilakukan bule, adalah karena kulit orang Indonesia udah eksotis. Kalau berjemur, takut nantinya makin eksotis!

Tak banyak memang aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Setangi. Meski birunya air laut menggoda diri ini untuk nyebur, tapi ombaknya yang cukup besar bikin nyali saya ciut untuk berenang. Eh bukan, maksudnya saya emang lagi malas aja + nggak bawa baju ganti. Beneran deh.

pantai setangi lombok
Noh ombaknya besar

Karena nggak ada yang bisa kami lakukan, kami pun hanya jalan-jalan berkeliling pantai sambil memotret panoramanya. Setelah itu leyeh-leyeh aja sambil mandangin ombak dan sumur. Iya ada sumur di sana lho. Buanyak. If you know what I mean lah yaa.

pantai setangi lombok
Jangan di zoom

Suasana di Pantai Setangi benar-benar sepi. Hanya terdengar suara ombak menghantam batuan karang. Segelintir wisatawan di sana juga lebih memilih untuk leyeh-leyeh sambil tiduran menatap langit. Saking tentramnya lama-lama bikin ngantuk juga, apalagi ditambah terpaan angin laut. Mata pengennya merem terus.

Ketika sedang nyantai sembari memandang langit, tiba-tiba muncul 2 bocah yang memecah keheningan. Lalu saya stop itu bocah yang lagi asyik main. Saya ajak ngomong mereka, eh di jawabnya malah pakai Bahasa Sasak. Mana ngerti saya. Lalu saya suruh Yogi yang asli Mataram untuk ngobrol sama mereka. Eh Yogi juga ternyata nggak begitu lancar Bahasa Sasak. Alhasil kami ajak ngomong mereka dengan bahasa campuran Indonesia + Jawa + Sunda. Syukurlah, jadi makin nggak nyambung ngomongnya.

Hasilnya dari sekian lama kami mencoba ngobrol, saya hanya berhasil bertanya nama kakak beradik tersebut. Kakaknya bernama Dimas, sedangkan adiknya bernama Hendra. Yah meski ngobrol banyak nggak nyambungnya, tapi melihat mereka berlarian kejar-kejaran dan berinteraksi dengan mereka menjadi hiburan tersendiri di Pantai Setangi yang sepi ini. Pantai ini recommended lah untuk yang mau nyantai sambil nyari suasana sepi.

pantai setangi lombok
Hendra (kiri) dan Dimas (kanan)

pantai setangi lombok
Ngobrolnya kagak nyambung

pantai setangi lombok
Tuh, baca!

Wednesday, August 3, 2016

Piknik Sebentar di Gili Nanggu

gili nanggu lombok

Biasanya ketika tiba di bulan Juli – Agustus yang bertepatan dengan libur semester, saya pasti mendaki gunung. Salah satunya Gunung Ciremai. Mendaki gunung yang berada di belakang rumah ini sudah seperti agenda wajib bagi saya selama 4 tahun terakhir. Tapi tidak untuk tahun ini. Rasa-rasanya sekarang saya tidak terlalu tertarik naik gunung. Beda sama dulu yang emang lagi rajin-rajinnya. Ada waktu kosong, selalu bikin planning untuk hiking.

Untuk bulan Juli – Agustus tahun ini, saya stay di Lombok. Bukan mau mendaki Gunung Rinjani, tapi saya sedang KKN. Ya, magang. Meski tujuan utamanya adalah magang, tapi yah ada juga tujuan terselubung. Explore Lombok! Apalagi saya di sini 2 bulan. Sayang banget kan kalau nggak dimanfaatkan. Hehe!

Sampai di Mataram 2 hari sebelum masuk magang, tentunya saya nggak bisa berdiam diri begitu saja. Bersama Saifud, Yogi dan keluarganya, kami pergi berwisata ke Gili Nanggu. Btw, untuk beberapa saat saya dan Saifud numpang dulu di rumah Yogi yang emang asli Mataram. Jam 10 pagi, kami berangkat dengan mobil yang disupiri oleh Mas Eko (kakaknya Yogi).

gili nanggu lombok
Berangkat!

Sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai di daerah Sekotong tempat penyebrangan ke Gili Nanggu. Selain Gili Nanggu, ada 2 gili (pulau) lain yang berjejer. Yaitu Gili Sudak dan Gili Kedis. Namun, kebanyakan wisatawan lebih memilih ke Gili Nanggu. Ukuran pulaunya yang lebih besar dan tersedianya fasilias seperti home stay, mushola dan resto menjadi faktor utamanya. Apalagi Gili Kedis yang keseluruhan pulaunya saja dapat dilihat saking kecilnya.

Untuk menyebrang ke gili-gili tersebut, harus menyewa perahu seharga 250K – 300K untuk pulang pergi. Pintar-pintar nawar aja sih, tapi paling mentok kayaknya 250K. Perahunya sendiri muat untuk 10 – 15 orang. Jadi kalau mau hemat, datangnya rame-rame atau cari barengan di sana. Di situ juga bisa menyewa alat snorkeling seharga 25K/set yang terdiri dari snorkel + masker + life jacket/fins. Meski sebenarnya di Gili Nanggu juga ada yang menyewakan, tapi “katanya” sih lebih mahal.

gili nanggu lombok
Renang-renang pinggir pantai

gili nanggu lombok
Piknik sekeluarga

Saat menginjakkan kaki di sana, pasirnya putih dan begitu lembut seperti bedak bayi. Puluhan orang sudah terlihat di berbagai sudut pulau. Ada yang snorkeling, renang-renang di pinggir pantai, foto-foto selfie sampai yang piknik makan bareng sekeluarga menikmati quality time-nya masing-masing. Kami sendiri langsung mencari lapak begitu sampai di pulau.

Tanpa babibu kami langsung terjun ke laut untuk bersnorkeling. Nggak perlu jauh-jauh, di sisi bagian timur pulau bisa menyaksikan kehidupan bawah lautnya. Beberapa meter dari pinggir pantai, saya bisa melihat berbagai terumbu karang beserta ikan-ikannya yang penuh warna. Namun sayang, pada beberapa titik, terumbu karangnya sudah banyak yang rusak. Airnya juga keruh karena tercampur dengan pasir yang terangkat ke permukaan. Pandangan dari masker jadi tidak begitu jernih. Harus berenang ke daerah yang rada dalam untuk bisa melihat pemandangan bawah lautnya dengan leluasa.

gili nanggu lombok
Terumbu karangnya

gili nanggu lombok
Ikan-ikannya

Pada beberapa titik, terdapat tempat untuk transplantasi terumbu karang berbentuk kerangka rumah-rumahan yang terbuat dari besi. Yang berfungsi untuk budi daya terumbu karang. Banyak ikan-ikan yang berenang di sekitar media transplantasi tersebut. Tempat berdirinya media berada pada kedalaman sekitar 5 meter. Terlihat sangat dalam bagi saya yang nggak mahir berenang. Bisa sampai situ saja sebuah peruntungan karena laut yang mulai surut. Dengan ujung media yang melewati permukaan air, saya bisa bertahan cukup lama di situ dengan berpegangan. Entah kalau lagi pasang, mana berani saya renang ke situ. Secara letaknya cukup jauh dari pinggir pantai, apalagi saya nggak pakai pelampung. Apa daya, mending main pasir aja deh.

gili nanggu lombok
Tempat Transplantasi terumbu karang

Selain asyik untuk snorkeling, di Gili Nanggu juga bisa melihat penangkaran penyu. Terdapat 8 kolam yang masing-masing berukuran sekitar 2x1.5 meter. Tiap kolam di kelompokkan berdasarkan umur penyu. Mulai dari yang sebesar genggaman tangan hingga yang lebih gedean lagi. Sebenarnya saya ingin muterin Gili Nanggu. Luasnya yang nggak terlalu besar membuat saya penasaran untuk mengelilinginya. Namun, karena saya ke sana bareng keluarganya Yogi. Nggak enak juga berlama-lama, sedangkan mereka udah bersiap untuk pulang.

Sebelum pulang, kami mengitari Gili Sudak dan Gili Kedis dulu dengan perahu yang kami sewa sebelumnya. Ternyata Gili Kedis memang benar-benar berukuran mini. Pohon yang tumbuh di sana dapat dihitung oleh jari. Selain itu, terdapat kursi-kursi untuk bersantai dan gubuk untuk berteduh. Hanya ada sedikit orang yang berada di sana. Sepertinya menarik untuk merapat dan bersantai di sana. Tapi sekali lagi, saya nggak lagi solo traveling. Jadi yah mungkin next time bakal balik lagi untuk memuaskan rasa penasaran saya yang menggebu.

gili nanggu lombok
Penyu-penyu yang lucu

gili nanggu lombok
Gili kedis

Ini perjalanan pertama saya di Lombok. Saya masih berada di sini selama 2 bulan ke depan. Tentunya saya bakal menjelajah Pulau Seribu Masjid ini selagi ada kesempatan. So, nantikan cerita saya berikutnya di Lombok. Karena ini baru permulaan. Ehehe!


gili nanggu lombok
Yosh!