Wednesday, August 3, 2016

Piknik Sebentar di Gili Nanggu

gili nanggu lombok

Biasanya ketika tiba di bulan Juli – Agustus yang bertepatan dengan libur semester, saya pasti mendaki gunung. Salah satunya Gunung Ciremai. Mendaki gunung yang berada di belakang rumah ini sudah seperti agenda wajib bagi saya selama 4 tahun terakhir. Tapi tidak untuk tahun ini. Rasa-rasanya sekarang saya tidak terlalu tertarik naik gunung. Beda sama dulu yang emang lagi rajin-rajinnya. Ada waktu kosong, selalu bikin planning untuk hiking.

Untuk bulan Juli – Agustus tahun ini, saya stay di Lombok. Bukan mau mendaki Gunung Rinjani, tapi saya sedang KKN. Ya, magang. Meski tujuan utamanya adalah magang, tapi yah ada juga tujuan terselubung. Explore Lombok! Apalagi saya di sini 2 bulan. Sayang banget kan kalau nggak dimanfaatkan. Hehe!

Sampai di Mataram 2 hari sebelum masuk magang, tentunya saya nggak bisa berdiam diri begitu saja. Bersama Saifud, Yogi dan keluarganya, kami pergi berwisata ke Gili Nanggu. Btw, untuk beberapa saat saya dan Saifud numpang dulu di rumah Yogi yang emang asli Mataram. Jam 10 pagi, kami berangkat dengan mobil yang disupiri oleh Mas Eko (kakaknya Yogi).

gili nanggu lombok
Berangkat!

Sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai di daerah Sekotong tempat penyebrangan ke Gili Nanggu. Selain Gili Nanggu, ada 2 gili (pulau) lain yang berjejer. Yaitu Gili Sudak dan Gili Kedis. Namun, kebanyakan wisatawan lebih memilih ke Gili Nanggu. Ukuran pulaunya yang lebih besar dan tersedianya fasilias seperti home stay, mushola dan resto menjadi faktor utamanya. Apalagi Gili Kedis yang keseluruhan pulaunya saja dapat dilihat saking kecilnya.

Untuk menyebrang ke gili-gili tersebut, harus menyewa perahu seharga 250K – 300K untuk pulang pergi. Pintar-pintar nawar aja sih, tapi paling mentok kayaknya 250K. Perahunya sendiri muat untuk 10 – 15 orang. Jadi kalau mau hemat, datangnya rame-rame atau cari barengan di sana. Di situ juga bisa menyewa alat snorkeling seharga 25K/set yang terdiri dari snorkel + masker + life jacket/fins. Meski sebenarnya di Gili Nanggu juga ada yang menyewakan, tapi “katanya” sih lebih mahal.

gili nanggu lombok
Renang-renang pinggir pantai

gili nanggu lombok
Piknik sekeluarga

Saat menginjakkan kaki di sana, pasirnya putih dan begitu lembut seperti bedak bayi. Puluhan orang sudah terlihat di berbagai sudut pulau. Ada yang snorkeling, renang-renang di pinggir pantai, foto-foto selfie sampai yang piknik makan bareng sekeluarga menikmati quality time-nya masing-masing. Kami sendiri langsung mencari lapak begitu sampai di pulau.

Tanpa babibu kami langsung terjun ke laut untuk bersnorkeling. Nggak perlu jauh-jauh, di sisi bagian timur pulau bisa menyaksikan kehidupan bawah lautnya. Beberapa meter dari pinggir pantai, saya bisa melihat berbagai terumbu karang beserta ikan-ikannya yang penuh warna. Namun sayang, pada beberapa titik, terumbu karangnya sudah banyak yang rusak. Airnya juga keruh karena tercampur dengan pasir yang terangkat ke permukaan. Pandangan dari masker jadi tidak begitu jernih. Harus berenang ke daerah yang rada dalam untuk bisa melihat pemandangan bawah lautnya dengan leluasa.

gili nanggu lombok
Terumbu karangnya

gili nanggu lombok
Ikan-ikannya

Pada beberapa titik, terdapat tempat untuk transplantasi terumbu karang berbentuk kerangka rumah-rumahan yang terbuat dari besi. Yang berfungsi untuk budi daya terumbu karang. Banyak ikan-ikan yang berenang di sekitar media transplantasi tersebut. Tempat berdirinya media berada pada kedalaman sekitar 5 meter. Terlihat sangat dalam bagi saya yang nggak mahir berenang. Bisa sampai situ saja sebuah peruntungan karena laut yang mulai surut. Dengan ujung media yang melewati permukaan air, saya bisa bertahan cukup lama di situ dengan berpegangan. Entah kalau lagi pasang, mana berani saya renang ke situ. Secara letaknya cukup jauh dari pinggir pantai, apalagi saya nggak pakai pelampung. Apa daya, mending main pasir aja deh.

gili nanggu lombok
Tempat Transplantasi terumbu karang

Selain asyik untuk snorkeling, di Gili Nanggu juga bisa melihat penangkaran penyu. Terdapat 8 kolam yang masing-masing berukuran sekitar 2x1.5 meter. Tiap kolam di kelompokkan berdasarkan umur penyu. Mulai dari yang sebesar genggaman tangan hingga yang lebih gedean lagi. Sebenarnya saya ingin muterin Gili Nanggu. Luasnya yang nggak terlalu besar membuat saya penasaran untuk mengelilinginya. Namun, karena saya ke sana bareng keluarganya Yogi. Nggak enak juga berlama-lama, sedangkan mereka udah bersiap untuk pulang.

Sebelum pulang, kami mengitari Gili Sudak dan Gili Kedis dulu dengan perahu yang kami sewa sebelumnya. Ternyata Gili Kedis memang benar-benar berukuran mini. Pohon yang tumbuh di sana dapat dihitung oleh jari. Selain itu, terdapat kursi-kursi untuk bersantai dan gubuk untuk berteduh. Hanya ada sedikit orang yang berada di sana. Sepertinya menarik untuk merapat dan bersantai di sana. Tapi sekali lagi, saya nggak lagi solo traveling. Jadi yah mungkin next time bakal balik lagi untuk memuaskan rasa penasaran saya yang menggebu.

gili nanggu lombok
Penyu-penyu yang lucu

gili nanggu lombok
Gili kedis

Ini perjalanan pertama saya di Lombok. Saya masih berada di sini selama 2 bulan ke depan. Tentunya saya bakal menjelajah Pulau Seribu Masjid ini selagi ada kesempatan. So, nantikan cerita saya berikutnya di Lombok. Karena ini baru permulaan. Ehehe!


gili nanggu lombok
Yosh!

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment