Friday, October 21, 2016

Pendakian Gunung Lawu #2: Perjalanan Menuju Warung Mbok Yem

warung mbok yem lawu

“Siapa yang masak di warung saya? Kalau mau masak di tenda sendiri saja jangan di sini! KELUAR!!!”, itu yang saya dengar saat baru aja makan satu suap mie. Seisi warung seketika kaget mendengarnya. Ternyata dia adalah bapak sang empunya warung. Hanya ada 2 rombongan yang sedang masak saat itu. Kami dan rombongan pendaki di samping kami. Dari pada urusannya jadi makin panjang, kami langsung beres-beres alat masak dan packing. Sedikit demi sedikit para pendaki keluar dari warung bapak itu.

“Hampura pak, kalau bisa pasang tenda mah kami juga nggak bakal masak di warungnya bapak. Tapi di luar badai pak, yang ada tenda kami udah basah duluan sebelum berdiri. Percuma. Toh warung bapak juga tutup, nggak ada barang-barangnya. Terus kami mau pesan apa? Bapak nggak kasihan melihat pendaki pada kedinginan setelah kena badai? Warungnya digunakan sebentar untuk menghangatkan tubuh sampai hujan reda boleh lah ya. Itung-itung amal, bapak sebagai yang punya tempat juga dapat pahala. Iya kan, Pak?” Begitu kata saya, tapi dalam hati. :v

Kami kemudian bergegas mencari lapak. Di langit yang mulai gelap dan gerimis yang terus menerpa, kami memasang tenda meski tubuh sudah kedinginan. Menggelar tenda, menyambungkan frame, mengikat tali hingga memasang pasak kami lakukan dengan cepat. Begitu tenda sudah terpasang dengan baik, kami masuk satu per satu. Dan.. aaah hawa di dalam tenda tak sedingin di luar. Apalagi kami duduk berdempetan membuat hawa panas terperangkap. Lumayan laah.

Mie goreng berkuah yang sebelumnya udah dimasak, kami santap dengan lahap. Tak ada aktivitas lain lagi setelah itu. Kondisi tubuh yang sudah lelah, plus hujan yang belum reda membuat kami tak melakukan apapun selain tarik sleeping bag. Meski posisi tidur nggak nyaman, saya tetap paksakan untuk tidur. Biar awalnya cuma merem doang, tapi akhirnya bisa molor juga. :D

warung mbok yem lawu
Banyak pendaki yang numpang tidur di warung

Tapi nggak lama. Sekitar jam 12 malam, saya kebangun karena Eko dan Idang grasak-grusuk. Mau lanjut tidur nggak bisa. Jadilah saya masak air buat bikin energen. Lalu dilanjut masak mie dan menggoreng tempe bosoknya Eko. Iya beneran bosok (busuk) lho. Edisi kelaparan tengah malam. Saat yang lain lanjut tidur, saya keluar tenda. Dinginnya bukan main, jari-jari kaki dan tangan seperti mati rasa. Meski hujan udah reda, ternyata langit masih berawan. Bintang yang terlihat pun hanya sedikit. Sebaliknya, lampu-lampu kota menyala terang. Sambil berkeliling pos 5, saya masuk ke salah satu warung untuk ngopi. Ternyata, masih ada beberapa pendaki yang baru tiba. Padahal saat itu sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Nggak ada teman begadang, saya memutuskan untuk kembali tidur.

Paginya saya terbangun oleh keriuhan para pendaki di luar tenda. Warna kemerahan di langit mulai terlihat di ufuk timur. Namun, matahari belum naik. Saya keluar mencari udara pagi yang kemudian disusul oleh Rahman dan Eko. Sedangkan Idang dan Brian masih pingsan. Ketika sunrise sudah lewat, beberapa pendaki ada yang langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Sementara kami memilih leyeh-leyeh dulu. Selain belum sarapan, kami akan ke puncak sambil membawa seluruh logistik. Karena kami akan turun lewat jalur Cemara Kandang.

Sunrise dari pos 5

gunung lawu
Makan indomie goreng berkuah :v

Perjalanan diawali dengan turunnya kabut yang membuat suhu menjadi dingin. Tapi kabutnya cuma lewat doang. Setelah itu langit cerah. Panorama sepanjang jalan ke puncak pun terlihat sangat indah. Trek berupa susunan batu akhirnya berakhir saat memasuki Sendang Drajat, yaitu pos yang terdapat sumber mata airnya. Setelah itu trek berganti menjadi tanah. Saat itu juga Eko bisa bernafas lega. Dia bilang, dia paling malas dengan trek berbatu gitu. Padahal kalau menurut saya sih itu wenak :D

gunung lawu
Pagi yang berkabut

sendang drajat gunung lawu
Sendang Drajat

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di Hargo Dumilah alias Puncak Lawu! Uyee! Ada tugu setinggi 5 meter di puncaknya. Sudah banyak pendaki yang tiba duluan. Dan sedang mengantriii untuk gantian berfoto di depan tugu dengan tulisan “Alhamdulillah Puncak Lawu 3265 mdpl”. Dari puncak, terlihat juga Telaga Kuning. Saya baru tahu kalau di Lawu ada telaga saat melihat peta di pos perizinan. Penasaran sih pengen turun ke sana. Tapi mengingat kami harus cepat turun, yah lain kesempatan aja deh ya.

gunung lawu
Jalan setapak menuju puncak… yang belum kelihatan

telaga kuning gunung lawu
Telaga Kuning

hargo dumilah gunung lawu
Puncak Lawu / Hargo Dumilah

Nggak lama kami di puncak. Yah 30 menit paling. Karena kami udah pengen ke Warung Mbok Yem. Apalagi kalau bukan makan di warung tertinggi di Gunung Lawu? Pecelnya itu lho udah ngebet banget dari sehari sebelumnya. Apalagi si Eko. Eh, nyatanya saat pesan pecel. Ngantrinya rameee. Entah bakal kebagian kapan. Sampai-sampai ditawarin soto. Dari pada lama nunggu doang, mau nggak mau kami pesan soto. Udah lapar juga. Dan ketika siaaap, yang datang bukanlah soto. Malah lebih mirip nasi dikasih kuah bening plus daging. Heuheu.. yasudahlah, disyukuri saja nikmat yang diberikan. Toh, digunung mah makanan apa aja jadi terasa enak. Apalagi yang udah enak, jadinya enak kuadrat. Hehehe!

warung mbok yem lawu
Nyarap dulu bosque

Yah meski pecelnya nggak keturutan, seenggaknya kami udah makan di retoran ternama di Gunung Lawu. Warung tertinggi di dunia lho! Eh iya nggak sih? Iya aja deh ya. Letaknya yang dekatnya dengan puncak, pas banget dijadikan tempat transit. Apalagi dalam kondisi capek. Tiduran bentar di warung, eh malah keterusan. Malah tidur beneran. Mantap deh pokoknya.

Memang sih, selain ke puncak hargo dumilah, para pendaki naik ke Lawu itu tujuannya pengen ke warung Mbok Yem. Pada penasaran sama pecelnya. Termasuk juga saya. Makanya saya tulis judul postingan ini dengan “perjalanan menuju warung mbok yem”. Hehehe!

hargo dumilah gunung lawu
Bonus Edelweiss :))


hargo dumilah gunung lawu
Bonus lagi :p

Related Articles

2 comments:

  1. wahahaha gokil warung mbok yem terkenal bgt :v warung gtu doang padahal

    salam kenal gan, ane dari Blog Bisnis

    ReplyDelete
  2. terkenal banget gan itu warung di kalangan pendaki.. legendaris

    ReplyDelete