Monday, November 28, 2016

Ketika Harus Bermalam di Tempat Umum



Musholla Bandara Soehat (sumber foto disini)

Saat sedang traveling, kadang ada suatu momen yang mengharuskan saya untuk menginap di tempat umum. Bagi saya yang gaya travelingnya menganut aliran backpacking, tidur di tempat umum itu adalah pilihan mutlak daripada harus menginap di hotel. Apalagi kalau hanya singgah beberapa jam saja. Momen seperti ini bisa terjadi akibat mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang super pagi, tiba di terminal larut malam sedangkan kumpulnya pagi atau karena emang nggak punya duit alias berhemat :)) Ya, semua itu sudah pernah saya alami.

Menginap di Mushola Bandara Soehat

bandara soekarno hatta
Waiting Room Bandara Soehat

Tidur di bandara pernah saya alami saat akan berangkat ke Manado dalam acara super journey challenge. Jadwal keberangkatan pesawat jam 5 pagi. Sebenarnya banyak saudara di Jakarta, tapi daripada harus menginap di rumah saudara ya mending di bandara aja. Begitu pikir saya. Soalnya jarak dari rumah saudara ke bandara lumayan jauh. Belum lagi harus bangun pagi demi mengejar jadwal.

Sebelumnya saya udah riset di internet. Dari catper pada blog yang saya baca, udah banyak yang pernah bermalam di Bandara Soekarno-Hatta. Kebanyakan bilangnya tidur di kursi tunggu. Karena saat malam hari, apalagi di atas jam 12, nggak banyak orang yang seliweran di bandara. Sehingga satu jejer kursi bisa digunakan untuk tidur dengan posisi selonjoran. Tapi itu pengalaman blogger yang pernah mencobanya, kalau saya lain lagi ceritanya. Saya mah tidur di mushola. Bukan di dalam musholanya, tapi dapat lapak di dekat penitipan barang yang masih satu area mushola. Kebetulan saat itu saya melaksanakan shalat isya. Awalnya saya di dalam mushola, dan sepertinya nyaman tidur di situ. Namun karena nggak ada orang yang tidur dan itu tempat ibadah kan yah, jadi saya urungkan niat tersebut. Saat mau ke ruang tunggu, saya melihat ada beberapa orang tidur lesehan beralas karpet di dekat penitipan barang, tepatnya sebelum tempat wudhu. Mereka tidur di pinggiran dekat tembok. Karena itu sebenarnya digunakan sebagai jalan untuk berwudhu, saya duduk di kursi tidak jauh dari situ. Menunggu, berharap salah satu dari mereka pergi. Meski agak lama akhirnya satu orang pergi dan lapaknya saya amankan.

Walaupun cuma beralas karpet, lumayanlah dapat lapak untuk selonjoran. Kemudian saya pun tertidur di situ hingga 1 jam sebelum subuh. Dan tahukah apa yang terjadi saat saya mau cuci muka dan melewati depan pintu mushola? Di dalam mushola penuh oleh orang yang tidur, udah kek ikan pindang!

Ngemper di Stasiun Banyuwangi

Stasiun BWI Baru (sumber foto disini)

Yang namanya stasiun itu nggak seluas bandara, apalagi stasiun yang khusus digunakan untuk kereta ekonomi dan nggak berada di kota besar. Tidur di stasiun nggak segampang di bandara. Tapi tiga kali sudah saya mengalaminya. Dua kali di stasiun Banyuwangi Baru dan sekali di stasiun Karang Asem, masih di Banyuwangi juga.

Di Banyuwangi Baru, dua-duanya terjadi saat pulang dari Bali dan Lombok. Untuk yang pernah backpacking ke Bali / Lombok lewat jalur darat pasti paham. Kereta dari Banyuwangi ke Malang cuma ada satu dan itu berangkat jam 5 pagi. Kalau ke Surabaya banyak sih, tapi yang kelas ekonomi cuma satu dan berangkat pagi juga. Nggak beda jauh. Boro-boro mau naik yang kelas bisnis / eksekutif, wong tidur aja ngemper di stasiun. Nah balik lagi, akibat jadwal keretanya yang berangkat pagi banget, mau nggak mau saya harus udah standby di stasiun malam harinya. Stasiun yang nggak jauh dari Pelabuhan Ketapang ini untungya punya teras yang cukup luas. So, bisa dimanfaatin banget tuh daripada harus sewa penginapan. Toh, saya aja sampai dua kali ngemper di situ. Dan yang membahagiakan, di situ banyak yang bermalam juga. Rame. Jadi nggak perlu khawatir ada begal. Lol.

stasiun karang asem
Stasiun Karang Asem

Kalau di Stasiun Karang Asem saat mengikuti Bootcamp Aksa 7 Kawah Ilalang. Nggak beda jauh sih. Ketika itu saya mengejar waktu meeting point jam 7 pagi. Kereta dari Malang cuma satu, itu pun sampai di Karang Asem jam 11 malam. Mau nggak mau harus ngemper lagi kan. Tapi di Karang Asem ini terasnya nggak seperti di Banyuwangi Baru, terasnya sempit. Malah bisa dibilang nggak ada terasnya. Keuntungan yang dipunya Karang Asem adalah keberadaan Rumah Singgah Banyuwangi yang dimiliki oleh Mas Rahmat. Free untuk para pejalan, monggo. Rumahnya juga dekat dari stasiun. Namun, saat itu saya nggak bermalam di sana karena suatu hal. Saya malah tidur di teras salah satu warung di depan stasiun, di kursi-kursinya gitu. Lumayanlah meski banyak nyamuk!

Bermalam di Terminal Guntur

Terminal Guntur (sumber foto disini)

Dibandingkan dengan stasiun dan bandara, menginap di terminal mungkin yang paling saya hindari. Tahu sendiri kan kondisi terminal-terminal di Indonesia seperti apa? Mau ngelapak dimana coba? Terminal Purabaya (Surabaya) dan Terminal Tirtonadi (Solo) pengecualian, ruang tunggunya bisa digunakan sebagai lapak untuk tidur. Kalau terminal lainnya saya nggak menjamin. Meski menghindarinya, tapi saya pernah karena tak ada pilihan lagi.

Ketika itu saya mau mendaki Gunung Papandayan. Dari Kuningan saya berangkat sendiri ke Garut via Bandung. Meeting point di Terminal Guntur dan waktunya saat Subuh. Oleh karena itu, saya berangkat dari rumah H-1. Niatnya dari Bandung mau berangkat agak malam, biar sampai di terminal pas waktu meponya, karena teman-teman saya berangkat dari Jakarta. Tapi apa daya, saya malah berangkat dari Bandung ba’da Isya. Bukan apa-apa, kalau kemalaman khawatir nggak ada angkutan. Hal itu saya simpulkan sendiri tanpa nanya-nanya dulu. Heu.

Udah berangkatnya terlalu sore, sampai di Terminal Guntur cepat banget. Padahal saya berharap perjalanannya lama, supaya nunggu di terminalnya sebentar. Tapi ekspektasi tak berbanding lurus dengan realita. Jam 10 malam saya udah sampai di terminal, itu pun pakai acara di bangunin kernet. Gara-gara ketiduran dan tujuan akhir elf bukan di Terminal Guntur. Untung sebelumnya udah ngomong turun di sana, nyaris aja saya bablas entah kemana.

Turun dari Elf, saya bingung mau kemana. Kondisi terminal sepi dan gelap. Lalu saya mencari mushola untuk melaksanakan shalat isya. Dan ternyata di mushola sudah ada dua orang bapak-bapak yang tergeletak tidur. Beres shalat, saya ikutan tidur deh di mushola.

Terdampar di Alun-Alun Batu

alun-alun batu
Alun-alun Batu

Ini kejadiannya adalah saat saya kursus Bahasa Inggris di Pare. Saat memasuki weekend kursus libur, beberapa teman saya minta diantar untuk main ke Malang. Tapi akibat berangkat terlalu malam, kami nggak turun di Terminal Landung Sari, melainkan di Batu. Selain karena angkot di Malang nggak beroperasi 24 jam, teman saya juga pengen main ke Batu.

Di alun-alun Batu kami mampir nyicip kuliner legendaris, yaitu Pos Ketan. Lapak kami menikmati ketan itu di teras ruko-ruko yang udah tutup. Di situ pula kami ngelapak untuk bermalam dengan hanya beralas keramik. Meski udah pakai jaket dan kaos kaki, tapi udara di Batu emang dingin banget. Apalagi udah lewat jam 12. Dinginnya keramik juga berkontribusi memperkeruh suasana. Untungnya di sana kami nggak lama. Beberapa teman saya lainnya (beda rombongan) juga sedang berada di Batu. Mereka menyewa villa dan kami diajak tidur di sana. Meski hanya beberapa jam, malam-malam tidur outdoor di Batu nggak mau lagi deh. Uaademm!


Itulah beberapa pengalaman saya bermalam di tempat umum. Banyak nggak enaknya sih, tapi nyaman di dompet. Untuk pejalan yang menganut aliran backpacking sih meski nggak nyaman, asal hemat di dompet ya dijalanin. Yang penting bisa jalan-jalan! Hohoho!

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment