Tuesday, December 13, 2016

Gagal ke Kawah Ijen, Pulau Merah Jadi Pelarian

pulau merah banyuwangi


Tahun lalu saya pernah merencanakan untuk melakukan road trip ke Banyuwangi bersama teman-teman kampus. Saya sudah menentukan destinasi apa saja yang akan dikunjungi selama 3 hari. Destinasi tersebut antara lain adalah Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater, Pulau Merah dan Teluk Ijo. Namun karena suatu alasan, rencana itu batal. Sejak saat itu saya jadi penasaran banget pengen ke Banyuwangi.

Pada Februari 2016 lalu akhirnya saya ada kesempatan untuk ke Banyuwangi. Bersama 3 teman (sebut saja Pandu, Saifud dan Yogi) berencana ke Kawah Ijen. Dan itu dilakukan dengan waktu yang bisa dibilang mepet. Sebenarnya tujuan ke Banyuwangi karena Pandu ada keperluan. Nah mumpung ada orang Banyuwangi lagi balik, sekalian aja saya ikut dan mlipir tipis-tipis ke Kawah Ijen. Hehehe!

Kami berangkat dari Malang hari Jum'at sore, awalnya agak ragu karena cuaca nggak bersahabat. Perjalanan Malang - Banyuwangi jauh lho, sekitar 8 jam. Kalau berangkat sore udah pasti sampai di sana malam atau bahkan dini hari. Itu yang bikin kami sempat ragu, takutnya di perjalanan ketemu hal-hal yang tak diinginkan. Tapi karena udah ngebet pengen ke Kawah Ijen, rasa khawatir akan hal itu pun sirna. Kami cuma harus berpikir positif saja nggak bakal terjadi apa-apa.

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat dengan kondisi hujan yang lumayan deras. Nggak ada tanda-tanda kalau hujan akan reda dalam waktu dekat. Akibat hujan yang terus mengguyur, perjalanan menjadi nggak nyaman. Pandangan dari balik helm menjadi nggak jelas, mana mata saya udah rabun. Beberapa kali kami berhenti untuk menghindari guyuran hujan. Pertama kali saat di Pasuruan, kami berhenti sekalian shalat Maghrib. Di situ sebenarnya kami udah nggak pengen lanjut. Apalagi kalau bukan cuaca yang tak kunjung membaik. Mumpung masih di Pasuruan, balik lagi ke Malang nggak terlalu jauh kan ya? Heuheu..

Tempat ngopi ternikmat

Pada prosesnya kami masih terus lanjut. Ada satu momen ketika kami semua setuju kalau Alf*mart menjadi tempat ngopi terbaik, mengalahkan tempat ngopi mana pun! Ya itu terjadi hanya saat itu saja. Ketika kami sedang berada pada kondisi lelah sehabis diguyur hujan berjam-jam. Menemukan Alf*mart dan ngopi di situ adalah pilihan terbaik! Hehe!

Setelah itu hujan reda dan kami masih harus mengendarai kuda besi beberapa jam lagi. Ketika memasuki kawasan Gunung Gumitir yang sepi dan gelap gulita. Tanpa adanya penerangan jalan umum. Kami mulai khawatir. Mana kanan-kiri jalan adalah hutan, kalau tiba-tiba ada yang nyegat kan ketar-ketir. Kami hanya bisa berharap pada Yogi yang jago silat.

Pada sebuah tikungan, tiba-tiba di depan kami ada sorot senter dari pinggir jalan. Saya kira itu orang lagi ngapain, eh ternyata seterusnya juga banyak. Pada beberapa titik tertentu memang ada sebuah gubuk kecil, dari situ ada orang yang menyoroti jalan. Mungkin mereka membantu pengendara menerangi jalan, karena di kawasan itu nggak ada penerangan sama sekali. Fiuhh.. hampir aja Yogi mengeluarkan jurus silatnya.

pulau merah banyuwangi
Jalanan udah kek punya sendiri

Sekitar jam 1 dini hari kami akhirnya tiba di rumah Pandu, di Genteng. Bukan genteng yang dipakai sebagai atap rumah, tapi emang nama daerahnya itu Genteng. Yang lebih penting perjalanan kami lancar, nggak ketemu hal-hal yang nggak diinginkan. Alhamdulillah...

pulau merah banyuwangi
Selamat Datang!

Esoknya kami berangkat ke Kawah Ijen sekitar jam 09.30 pagi. Awalnya sempat dilema mau berangkat jam berapa. Soalnya setahu saya orang-orang kalau ke Kawah Ijen itu dini hari. Tujuannya untuk melihat blue fire-nya yang cuma ada 2 di dunia itu. Karena kalau matahari udah naik nggak bakal bisa lihat blue fire. Tapi karena teman-teman nggak terlalu pengen lihat blue fire, yang penting ke Kawah Ijennya gitu. Ya sudah kami sepakat berangkat pagi hari. Lalu ketika kami sampai di Paltuding jam 11.30, apa yang terjadi? Pendakian sudah ditutup! Beuh!

Setelah ngobrol-ngobrol dengan petugas di sana, pendakian ke Kawah Ijen memang hanya dibuka mulai dini hari (jam 1 pagi) sampai jam 12.00 siang, itu pun harus sudah turun ke Paltuding. Saya nggak tanya kenapa, tapi kasusnya mungkin sama dengan Mahameru. Ya, adanya gas beracun yang keluar dari kawah. Di Semeru, para pendaki selalu summit attack pada dini hari supaya sampai di puncak pada paginya. Bukan tanpa alasan, katanya kalau berada di Puncak Mahameru pada siang hari berbahaya. Karena saat itu angin mengarah ke puncak, mungkin saja kan angin tersebut membawa gas-gas beracun yang berasal dari kawah. Seperti halnya Mahameru, Kawah Ijen juga mungkin mempertimbangkan hal tersebut. Maka dari itu jadwal pendakiannya terbatas.

kawah ijen banyuwangi
Hanya bisa meratapi

Kecewa memang. Udah jauh-jauh ke Banyuwangi, ke Paltuding malah, cuma buat ke Kawah Ijen doaaang. Eh, tapi sampai di sana ternyata tutup. Mau gimana lagi. Maksain berangkat juga bukanlah sebuah pilihan yang bisa diambil. Yah, ini memang kesalahan kami karena kurang mencari informasi. Nggak apa-apa deh, yang penting motor saya yang berplat E udah sampai di ujung timur Pulau Jawa. Heuheuheu..

kawah ijen banyuwangi
Sampai ujung timur pulau jawa

Dari pada kecewa berkelanjutan, kami berunding untuk menentukan destinasi lain. Lalu pilihan jatuh pada Pulau Merah. Yes, nyantai kita di pantai. Dari Paltuding kami menggeber motor ke Banyuwangi bagian selatan. Jam 4 sore kami baru sampai di Pulau Merah. Kata pertama ketika menginjakkan kaki di sana, "ih, rame banget". Sumpah. Banyak banget manusia, Padahal waktu saya baca tulisan di blog-blog tentang Pulau Merah itu kelihatannya sepi. Bukan sepi sih, nggak rame-rame amat gitu deh. Lah, ini mah berbanding 180 derajat. Entah ada berapa ratus manusia di sana.

pulau merah banyuwangi

Pulau Merah kalau menurut saya udah masuk kategori tempat wisata banget, Berbagai fasilitas udah tersedia di pantai ini. Ada beberapa versi cerita asal-usul nama destinasi wisata ini. Ada yang menyebut kalau nama pulau merah diambil dari keberadaan sebuah pulau kecil di sebrang pantai. Pulau tersebut itu memiliki tanah yang merah, sehingga dinamakan Pulau Merah. Versi lain mengatakan, konon dari pulau kecil tersebut pernah terpancar cahaya berwarna merah, maka warga menamainya sebagai Pulau Merah.

pulau merah banyuwangi

Terlepas dari itu, Pulau Merah bisa menjadi salah satu opsi destinasi wisata kalau berkunjung ke Banyuwangi. Banyak kok aktivitas yang bisa dilakukan. Kalau suka main air ya tinggal nyebur berenang. Kalau pengen nyantai bisa berjemur langsung di pasir putihnya atau dengan menyewa kursi yang bisa selonjoran dan payung supaya nggak kena sinar matahari langsung. Lalu kalau mau nyobain surfing bisa banget. Ombaknya cocok untuk orang-orang yang baru mau belajar surfing. Tapi saat ke sana kami nggak melakukan itu semua, kami mah cuma jalan-jalan nyusurin pantai sambil leyeh-leyeh menanti sunset. Hehehe!

pulau merah banyuwangi
Anak-anak disana udah pada jago surfing

pulau merah banyuwangi
Kalau surut bisa nyebrang ke pulaunya

Yah, meskipun gagal ke Kawah Ijen. Seenggaknya kami mendapatkan pelarian yang setimpal. Pulau Merah berhasil meredakan kekecewaan kami dan membuat sore itu menjadi seru. Mungkin belum saatnya saya ke Ijen. Waktunya belum tepat. Artinya saya harus kembali lagi ke Banyuwangi suatu hari nanti. See you again Banyuwangi!

pulau merah banyuwangi
lubang buaya

Tuesday, December 6, 2016

Snorkeling Perdana, Menyaksikan Kehidupan Bawah Laut Pantai 3 Warna

pantai 3 warna malang

Malang, sebuah kota yang dikelilingi oleh banyak gunung, sehingga memliki suhu yang relatif dingin. Meski daerah pegunungan, jauh dari kotanya, Malang bagian selatan memiliki sederet pantai pasir putih yang eksotis. Tapi kalau di spesifikan lagi untuk yang bisa untuk snorkeling, Pantai 3 Warna adalah jawabannya. 

Februari 2016 lalu, saya bersama teman-teman kampus traveling ke Pantai 3 Warna. Mumpung masih liburan. Saya penasaran banget pengen snorkeling. Sebelumnya saya udah latihan renang. Hasilnya lumayan-lah, bisa dibilang saya dapat poin 2-3/10 dari kata lancar. Heuheu! Nggak buruk-buruk amat lah ya untuk seorang yang udah berkepala 2 dan tingginya hampir menyentuh 180cm, hari gini baru belajar renang dari nol. Yah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Pantai 3 Warna memberlakukan sistem kuota. Hanya 100 orang per harinya. Oleh karena itu beberapa minggu sebelumnya, saya udah booking untuk hari sabtu, tanggal 13 Februari. Saya booking jauh-jauh hari karena pantai ini nggak pernah sepi. Sebelumnya saya juga pernah ke pantai ini tapi tidak diizinkan masuk karena kami datang tanpa booking dan kuota udah penuh. Alhasil kami cuma main air di Pantai Gatra.

pantai 3 warna malang
Pantai 3 Warna

Lokasinya yang jauh dari pusat Kota Malang membuat tak adanya angkutan umum. Sehingga kami menumpak motor untuk menuju ke sana. Belum apa-apa kami sudah diguyur hujan di perjalanan. Padahal masih pagi, awal yang kurang joss untuk memulai hari. Tapi tetap disyukuri saja. Sesampainya di sana, sudah banyak wisatawan yang sampai duluan.

Kami langsung menuju pos pengecekan. Ada sedikit masalah saat itu. Ketika dicek daftar bookingnya, rombongan kami malah masuk di list tanggal 3 Februari. Saya kaget, kok bisa? Jelas-jelas saya minta tanggal 13. Untungnya saya masih menyimpan pesan conversation waktu booking. Dan terbukti di pesan tersebut saya nggak salah booking. Ada kekeliruan pada pihak pengelola yang salah memasukkan ke daftar boking. Atau mungkin lagi nundutan sehingga yang seharusnya 13 terbacanya malah cuma 3-nya doang.

pantai 3 warna malang
Bareng anak-anak kaskub *bukan kaskus, apalagi kakus

Kemudian kami dipersilahkan ke pos berikutnya untuk registrasi. Untuk ke Pantai 3 Warna wajib menyewa jasa guide yang dipatok seharga 100k/10 orang. Rombongan kami yang berjumlah 14 orang, dengan adanya aturan tersebut mau nggak mau harus menyewa 2 orang guide. Di pos ini juga barang-barang yang dibawa diperiksa. Semua benda yang berpotensi sampah ditulis oleh mereka. Nantinya saat pulang akan dicek kembali, kalau benda-benda yang dibawa pulang minus/kurang seperti yang ditulis, bakal kenda denda 100k/item. Sedangkan tiket masuknya sendiri cukup murah, yaitu 5k/orang.

Setelah menunggu guidenya, kami mulai trekking ke Pantai 3 Warna. Jaraknya nggak terlalu jauh, cuma 30 menit berjalan santai. Nggak seperti pantai-pantai lainnya yang langsung menghadap ke tepi pantai dari parkir kendaraan, ke pantai ini harus trekking lagi melewati jalan setapak diantara hutan. Belum setengah perjalanan, hujan kembali mengguyur kami. Sementara yang lain sibuk memakai jas hujan biar nggak basah, saya mah trabas aja. Toh nantinya bakal main air, ujung-ujungnya basah juga kan yaa. Hehehe!

pantai 3 warna malang
Kawasan mangrove yang tergenang air

pantai 3 warna malang
Trek setelah diguyur hujan, berlumpur!

Ketika sampai di pantai 3 warna, kami semua kegirangan. Melihat birunya air laut membuat kami ingin segera menceburkan diri. Sekalian membersihkan diri akibat lumpur yang melumuri kaki kami. Saat diperjalanan, jalan setapak tanah jadi berlumpur akibat diguyur hujan. Bahkan nggak jarang kami terpeleset karena jalanan menjadi licin.

Tanpa babibu, kami langsung menyewa alat snorkeling seharga 15K yang sudah include masker, snorkel dan life jacket. Semua langsung nyebur ke pantai, kecuali Dany yang nggak ikut snorkeling sebab kondisinya yang emang sedang kurang sehat. Sedangkan beberapa orang yang nggak bisa renang (saya, Pandu dan Ikhwan) nekat nyebur ke laut. Berkat adanya pelampung, kami tidak khawatir bakal tenggelam. Meski Pandu sampai harus ditarik oleh Idang karena nggak bisa maju. Untungnya sebelum snorkeling ini saya sempat latihan renang dulu beberapa kali. Sehingga biar dikata nggak lancar-lancar amat, saya masih bisa maju. Meski itu pun harus berusaha dengan susah payah :(

pantai 3 warna malang

pantai 3 warna malang
Di pantai 3 warna wajib pakai pelampung

Pantai 3 warna letaknya persis menghadap Pulau Sempu. Cocok dijadikan spot snorkeling, meski perairannya nggak terlalu tenang karena arusnya terasa cukup kuat. Ini merupakan pengalaman snorkeling pertama saya. Untuk orang seperti saya, yang kalau renang di kolam pun pasti cari bagian yang kedalamannya tidak melebihi tinggi badan, saya cukup kaget ketika snorkeling di kedalaman laut yang mencapai 3 – 5 meter.

Waduh, kaki saya udah nggak bisa napak. Awalnya ada rasa takut menghampiri, takut ketinggian! Ya, rasanya saya takut jatuh. Eh, takut tenggelam. Secara itu dalam banget. Jauh dari jangkauan kaki saya yang selalu refleks menginjak dasar kolam kalau mulai panik. Tapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa. Toh, satu-satunya cara menghilangkan rasa takut ya harus dilawan. Nggak ada cara lain. Betul betul betul?

pantai 3 warna malang
Saha ieu nya? 

pantai 3 warna malang
Untung pakai pelampung, jadi bisa gaya :v

Pada prosesnya, saya kuat snorkeling hingga 1 jam lebih. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya bisa menyaksikan keindahan bawah laut dengan mata saya sendiri. Melihat berbagai macam terumbu karang, ikan-ikan kecil yang berwarna-warni dan juga seekor bulu babi! Namun saya kurang bisa menikmatinya, karena snorkel dan masker yang saya pakai rada nggak nyaman. Sehingga nggak jarang saya harus membetulkannya dulu.

Setelah puas (atau lebih tepatnya capek) snorkeling, kami kembali ke daratan untuk bersantai di pinggir pantai. Beberapa dari kami ada yang makan di salah satu warung yang ada disana. Sementara saya main pasir dengan beberapa teman lainnya. Pantai 3 warna memang menawan. Setelah melihat keindahan bawah lautnya, saya naik ke sebuah batu karang untuk melihat pantai dari ketinggian. Nama 3 warna memang benar-benar pantas disematkan pada pantai ini. Ketika saya lihat dari ketinggian, perpaduan warna biru tua, biru muda dan hijau membuat pantai 3 warna begitu eksotis.

pantai 3 warna malang
Ngapain nih, jangan ditiru wkwkw

Wajar saja kalau pantai ini sedang naik daun. Keindahan pantainya yang tak ada duanya dan di dukung dengan beragam aktivitas yang bisa dilakukan (renang, snorkeling, kanoing) membuat pantai ini begitu digandrungi wisatawan. Dan yang paling penting, berkat sistem pengelolaannya yang baik, semoga pantai 3 warna ini bisa tetap lestari!

pantai 3 warna malang
Pantai Clungup saat surut