Saturday, April 15, 2017

Menikmati Bromo Dengan Cara Berbeda

gunung bromo

Siapa sih yang nggak tahu Bromo? Banyak deng. Tapi sebagian orang pasti hapal gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tersebut. Gunung Bromo adalah salah satu destinasi wisata di Jawa Timur yang paling populer, bahkan ketenarannya sudah menyebar ke mancanegara. Hal itu terlihat dari wisatawan asing yang banyak berseliweran di taman nasional tersebut.

Hingga saat ini sudah 3 kali saya traveling ke Gunung Bromo. Dua kesempatan sebelumnya pernah saya ceritakan disini. Nah pada kesempatan ketiga ini saya traveling ke Gunung Bromo dengan cara yang berbeda. Sebelumnya saya selalu berangkat pada malam hari untuk mengejar sunrise di Pananjakan 1, lalu turun ke lautan pasir saat matahari sudah naik. Kalau kali ini saya berangkat sore hari dan bermalam disana. Yes, camping! Di Bromo! :D

gunung bromo
Selfie dulu di Jemplang

Bersama 2 orang teman, Deni dan Ina, kami berangkat lewat jalur Tumpang – Jemplang – Bromo. Jalur yang sama kalau mau ke Ranu Pani, tapi terpisah saat memasuki Jemplang. Dengan memacu kuda besi, kami sampai di lautan pasir ketika matahari mulai tenggelam.

gunung bromo
Senja

Saat di lautan pasir kami diberhentikan oleh seorang bapak yang mengendarai motor. Lalu terjadilah perbincangan antara Deni dan bapak tersebut seperti ini:

Bapak : “Mau kemana mas?”
Deni : “Mau camping pak.”
Bapak : “Kalau camping di atas mas, di camping ground. Nggak boleh kalau di sini.”

Camping ground yang dimaksud yaitu di sekitar Pananjakan 2, Probolinggo. Yap, saat itu kami berada di dekat jalur Probolinggo.

Deni : “Emang kenapa pak?”
Bapak : “Ya emang nggak boleh, nanti jam 7 malam biasanya ada petugas yang sweeping buat ngecek.”

Saya mikir, masa iya ada yang mau ngecek malam-malam di Bromo yang luasnya sebesar itu. Lalu belum sempat kami menjawab, dia lanjut lagi.

Bapak : “Nanti saya guide-in lewat jalur tikus buat ke atas, 100 ribu aja. Soalnya kalau lewat jalur biasa nanti kena tiket lagi. Mbaknya pindah motor saya, soalnya motor bebek nggak bakal kuat kalau boncengan.”

Buset ini orang ngomong apaan, tambah mencurigakan aja. Merasakan banyak keanehan dari yang dicuapkan bapak tersebut, kami menolaknya dan langsung pergi.

Deni : “Maaf nggak deh pak, kita mau camping disini aja.” Sambil gasss pergi.
Paham apa maksud dan tujuan si bapak dari perbincangan tersebut? Okeh, simpulkan aja sendiri ya! Perbincangan tersebut intinya seperti itu, saya tidak mengada-ngada. Serius!

gunung bromo
Pindah tidur ke sini

Setelah bertemu dengan bapak itu kami lanjut lagi mencari lapak untuk mendirikan tenda. Kami menyusuri jalan di lautan pasir diantara Pananjakan 1 dan Pananjakan 2 seperti yang saya baca di salah satu blog orang. Karena disekitar situ memang tempat yang cocok, banyak rumput, banyak pohon dan berdiri Bukit Pananjakan yang tinggi menjulang yang menahan kami dari terpaan angin malam. Selain itu, tepat dihadapan kami langsung berupa panorama Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Ketika sedang mendirikan tenda, seseorang datang menghampiri kami. Dia adalah seorang bapak-bapak yang berasal dari Wonokitri. Dari beliau kami mendapatkan jawaban yang berbanding 180 derajat dari bapak yang sebelumnya menawarkan diri sebagai guide. Bapak tersebut mengatakan bahwa tidak masalah kalau mau camp di Bromo karena dari pihak pengelola sendiri tidak ada aturan tentang larangan seperti itu. Nah loh?

Namun bapak itu menambahkan, sebaiknya camping di area camp ground yang sudah disediakan. Di Bromo memang aman, tidak ada apa-apa, tapi takutnya ada mobil hardtop yang nyasar. Loh kok bisa? Jadi gini, tahu kan kalau di Bromo itu sering turun kabut? Nah saat kabut turun apalagi malam hari, jarak pandang otomatis pendek, takutnya mobil-mobil tersebut nyasar ke arah kami. Apalagi posisi kami memang dekat dengan jalur dari Probolinggo. Tapi tenang pak, kami mendirikan tenda di pojokan dekat pohon-pohon. Jadi kalau ada hardtop nyasar ya bakal nabrak pohon dulu. :))

gunung bromo
Hati-hati hardtop nyasar :D

Setelah berbincang beberapa saat, bapak itu pamit untuk pulang. Kami berterima kasih karena sudah diberi saran olehnya. Beliau nggak maksa atau nyuruh kami untuk camp di Pananjakan 2. Dan kami pun tetep kekeuh pengen camp di Bromo saja.

Malam di Bromo yang saya ekspektasikan adalah sunyi, tentram dan damai. Karena jarang ada camp di sana pikir saya. Eh, namun realitanya nggak seperti itu. Sebab sepanjang malam banyak orang berseliweran mengendarai motor/mobil dari jalur Pasuruan ke arah jalur Probolinggo. Entah ada apa. Mungkin habis menonton Ogoh-ogoh di Wonokitri seperti yang sempat dibilang oleh bapak yang menghampiri kami. Karena saat itu kami camp satu hari sebelum hari raya Nyepi. Yah meski banyak yang begitu, tapi tidak terlalu mengganggu karena jaraknya yang lumayan jauh dari tenda kami. Sehingga suaranya tidak terlalu bising.

gunung bromo
Langit malam Bromo

Semakin malam, satu per satu bintang pun mulai bermunculan. Jauh dari kota, polusi cahaya yang minim, langit yang cerah dan dengan bantuan aplikasi stellarium merupakan rumus utama untuk mendapatkan milky way! Yup, malam itu kami melihat milky way! Tanpa babibu, saya dan Ina langsung menyetting kamera untuk hunting. Sementara Deni lagi pewe ngopi di depan tenda sambil nyemil dan main hp. Btw jaringan internet disana H+. Syahdu lop pokoknya mah malam itu meski rada tiris. Sisa malam kami habiskan dengan berbincang sambil nyemil hingga rasa kantuk merasuki.

gunung bromo
Hotel Bintang 1000

Keesokan paginya saya terbangun oleh suara hardtop lewat. Sejak semalam kendaraan yang lewat tak ada hentinya, suaranya cukup mengganggu. Namun, untungnya rasa kantuk sangat kuat sehingga saya bisa terlelap. Ketika saya keluar tenda, hawa masih terasa dingin. Matahari baru saja terbit, akan tetapi posisi kami tidak kena cahaya matahari karena terhalangi Bukit Pananjakan.

gunung bromo
Masih pagi

gunung bromo
Foto-foto terusss

gunung bromo
Balapan Kuda

Niat hati mau mendaki Gunung Batok, gunung yang berada tepat di samping Bromo, menguap begitu saja. Rasanya malas sekali kalau harus packing sepagi itu. Sementara kalau mendaki pada siang hari, rasa-rasanya bakal terasa panas banget. Pada akhirnya kami lebih memilih untuk berleyeh-leyeh kembali. Dan memutuskan untuk membuat sebuah video yang ketika malamnya telah kami rencanakan. Berikut videonya.


Videonya ini belum terkonsep, kami hanya mengambil gambar secara random. Jadi yah seperti itulah adanya :))

Demikian cerita perjalanan saya ke Bromo yang ketiga kalinya. Dibanding perjalanan sebelumnya yang selalu explore berbagai sudut keindahan Bromo, kali ini saya menikmati Bromo dengan cara yang berbeda. Yaitu kemah dan leyeh-leyeh. Sekian :v

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment